TIGA JAM

0
386
Spread the love

Oleh Ai Ratnasari
Staf Pengajar SMKN 1 Cikalongkulon

SENJA itu aku memacu sepeda motorku belum sampai di tempat yang dituju hujan perlahan membasahi bumi. Aku tetap melaju kencang saat pengendara lain berhenti dan memarkirkan motornya di pinggir Jalan untuk memakai jas hujan. Hujan pun semakin besar ditambah kilatan petir yang membuatku berzikir, ada rasa takut yang menyelimuti tatkala kilatan petir memberi suara yang membuatku didera rasa takut. Seketika pakaianku basah dan rasanya aku tak mungkin melanjutkan perjalananku. Beruntung aku memiliki saudara dan aku mampir hanya untuk sekadar meminjam baju karena kebasahan. Sesampai aku di halaman rumah  adik dari ibuku dengan keadaan basah kuyup aku memarkirkan motor hitamku.

“Assalamualaikum Bi?”, aku mengucap salam tanpa menghiraukan dinginnya tubuhku karena kehujanan.

“Waalaikum salam, mau ke mana teteh sampai hujan-hujanan!” Bi Ela membantuku mengambilkan tas gendongku yang basah.

“Mau nengok istrinya Yandi, kan masuk Rumah Sakit mau  lahiran? Bi mau pinjem baju soalnya basah semua!” masih berdiri di teras rumah dengan baju yang basah kuyup.

“Hayu masuk, makan dulu!” Bi Ela memberikan handuk dan menenteng tasku ke dalam rumah.

Bi Ela adalah adik ibuku yang super baik, karena jarak yang cukup jauh kita jarang ketemu. Kalau gak ada acara keluara atau pun hari lebaran dalam satu tahun mungkin dapat dihitung pertemuan kami. Benar saja habis membuka pakaian yang basah kuyup Bibi sibuk didapur memasak menyiapkan untuk menjamuku, tidak berselang lama hidangan sudah tersaji. Aku pun makan dengan lahapnya maklum habis kehujanan. Karena bi Ela adalah orang yang paling dekat denganku, gak ada rasa canggung lagi walau ada perasaan malu datang-datang merepotkan.

Hujan kala itu masih cukup besar namun, aku ingat adikku sendirian di Rumah Sakit. Aku tetap berangkat meminjam jas hujan. Aku pun pamit untuk segera berangkat  menjenguk adik iparku. Memakai pakaian yang longgar yang di pinjamkan Bi Ela yang badannya agak besar. Namun, yang terpenting bagiku bisa sampai di rumah sakit dan badan tidak kedinginan.

Lima belas menit aku sudah sampai di parkiran. Tampak bangunan tinggi bercat orange. Bangunan yang membuatku terasa menyesakkan dada. Karena di sinilah dulu ibuku dirawat hingga beberapa bulan. Namun, rasa pilu  itu aku tahan aku berjalan menelusuri koridor dan meminta izin masuk kepada petugas. Bersyukur aku tidak dipersulit, karena virus korona memberlakukan pengecekan suhu tubuh merupakan hal yang lazim saat ini.

Aku berjalan menyusuri petunjuk Jalan, tak kueja rasa lelah yang mendera, mataku focus mencari ruangan Delima. Lalu lalang petugas berpakaian APD dan beberapa orang terduduk di pinggir-pinggir ruangan menunggui pasien-pasien “mungkin sanak Family-nya”, pikirku. Sampailah di ruangan di mana adikku dirawat. Perlu perjuangan dengan petugas untuk memasuki ruangan karena yang menunggui hanya diperkenankan satu orang. Saat virus corona menjadi batu sandungan hal ini menjadi cerita pilu para pasien. Namun, aku tak menyerah bagaimana bisa masuk dan menemui adik iparku. Sesampainya di ruangan terdapat empat orang dua orang pasien dan dua orang yang menunggui. Kulihat Ruhi terbaring kaku, matanya sembab ada bulir air mata tergenang. Wajah yang pucat sehabis operasi sesar, perlahan Ruhi membuka matanya melihat sekeliling dan mulai tersadar sesekali meringis merasakan sakit di perutnya.

“gimana sekarang?” aku mencoba  menyapa.

“Sakit teh, di sini”. Ruhi menunjukkan ke arah perut sambil menggigit bibirnya menahan sakit

Aku tak banyak bertanya, Yandi pun seolah memberi isyaratnya bahwa kondisinya belum stabil. Ditambah obat bius masih memengaruhi tubuhnya. Rasa baal yang menjalari tubuh Ruhi masih menguasai anggota tubuhnya, efek dari biusan setelah habis operasi. Namun, beberapa waktu mulai dari kaki dan persendian lainnya dapat merasakan obat bius perlahan hilang.

Naluri seorang ibu seolah ada ikatan batin yang kuat sehingga mampu menmbus apa yang tengah dialami anaknya. Saat itu menjelang magrib, aku menyuruh Randi untuk pergi ke Masjid istirahat dan menunggui salat Magrib di Masjid. Sambil menahan sakit ekspresi wajahnya yang terlukis tampak pucat sebelum dapat mengeluarkan gas dari anus (kentut) masih harus berpuasa. Membuat rasa prihatin bagiku, hanya lafaz zikir yang kusematkan berharap semua rasa sakitnya dapat terasa ringan.

“Teteh, nyalain HP-nya kalau-kalau ada  Telpon dari ruangan bayi”, pinta Ruhi memelas.

“Oh, iya sebentar”, aku meraih ponsel yang sedang dicas dan menyalakan tombol on.

Benar saja saat handphon dinyalakan dering suara ponsel mengerik dan itu dari kamar bayi. Aku mengucap salam, suara di balik ponsel seolah tergesa-gesa menanyakan Yandi.

” Ibu maaf saya dari kamar bayi mau bicara sama Pak Yandi!, saya kakaknya BU!”, aku keluar sengaja agar Ruhi tak ikut mendengar. Entah rasa apa yang hinggap hingga aku merasa getaran tubuhku tak karuan.

“Ibu saya mengubungi Pak Yandi dari tadi tapi HP-Nya gak akti-aktif, Bu saya mau bilang anaknya Pak Yandi  sudah meninggal tadi pukul 17.30. ke Pak Yandi segera ke ruangan atas”, aku hanya menjawab iya, seketika aku menangis antara percaya dan tidak tentang apa yang aku dengar.

Dengan nafas terengah-engah aku lari ke ruangan atas di mana tempat bayi-bayi disimpan di inkubator. Aku mencari-cari petugas medis yang kala itu hanya terlihat satu orang yang sedang sibuk mengecek bayi-bayi. Aku harus memastikan perihal meninggalnya keponakanku. Karena aku harus menginformasikan hal ini ke seluruh keluargaku. Dan benar saja petugas itu menghampiriku dan menjelaskan anaknya pak Yandi meninggal karena belum genap 6 bulan.

Aku sempoyongan menuruni anak tangga. Bagaimana aku menyampaikan hal ini pada Ruhi. Dia yang masih belum usai merasakan habis operasi. Obat bius pun belum sepenuhnya hilang. Bagaimana aku tega menyampaikan kabar duka perihal anak yang baru dilahirkanya telah pergi. Bahkan Ruhi tak pernah melihatnya. Saat ini dia menganggap anaknya sedang dalam perawatan.

***

bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here