TAKLUKKAN YANG KAMU TAKUTKAN

0
198
Spread the love

Oleh Nina Aniati
(Peserta Didik XII ATPH 2, SMKN 1 Cikalongkulon)

Pada hakikatnya manusia pasti mempunyai ketakutan karena itu sudah bagian dari sifat manusia. Jadi, tak heran lagi kalau sudah mendarah daging. Banyak hal yang memacu adanya ketakutan itu. Berbagai peristiwa yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi.

Sama halnya dengan apa yang kita genggam bahkan belum tergenggam pun, kita merasa takut akan hal sebuah kehilangan. Memang pada takdirnya harus ikhlas atas ketakutan tersebut, kita hanya bisa berpasrah kepada sang fitrah. Aku juga di sini perlahan ingin menaklukan ketakutan tersebut, bahwasannya aku tidak takut kehilangan seseorang karena Allah, tapi ketakutanku adalah kehilangan atau jauh dari Allah karena seseorang ataupun sesuatu.

Takut akan kegagalan? Sebenarnya wajar saja jika takut akan sebuah kegagalan. Tapi, jika terus saja takut. Lalu, apa yang akan kita mulai? Sebuah kegagalan pun bagian dari hidup, karena sebelum mencapai kesuksesan pasti kita akan melalui yang namanya gagal, mereka saling berdampingan. Yang harus kita lakukan ketika kegagalan terjadi adalah bersabar dan bertawakal.

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan diberikan (dipenuhi) pahala bagi mereka dengan tanpa batas”(Q. S Az-zumar:10)

“Dan sesungguhnya, kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. ” (Q. S An-Nahl:96)

Ketika kita juga mencapai kesuksesan, jangan dulu terlena atas apa yang sudah diraih. Bersyukur adalah cara terbaik agar terus merasa rendah hati. Semua sudah digariskan bukan? Menaklukkan ketakutan memang tak semudah membalikan telapak tangan dan tak semudah mengedipkan mata. Tapi apakah kita tak ingin berusaha menaklukan ketakutan itu? Kalau kita tak melalui naik turun mungkin kita tak akan pernah merasakan bagaimana indahnya ketika titik puncak. Jangan berpikir ketika kita turun adalah sebuah kegagalan. Tapi, anggap saja kita sedang kembali ke rumah.

Ketakutan yang paling utama pastinya, kita takut orangtua sudah tidak ada sebelum mencapai kesuksesan. Hal tersebutlah yang harus kita pikirkan dan lakukan bagaimana caranya kita berusaha membahagiakan mereka. Ketika takdir berkehendak lain, ya memang sudah digariskan nya begitu. Kita layak berusaha dan berdo’a.

Yuks, kita taklukan apa yang kita takutkan, yang membuat kita hanya berdiam saja, tanpa ada permulaan untuk menaklukan hal-hal yang memacu kita tak bisa mengembangkan potensi atau pun takut akan profesi yang kita inginkan tak terwujud. Orang-orang yang sukses pun bukan berarti mereka tak pernah merasakan kegagalan. Percayalah, mereka bangkit kembali bukannya malah meratapi dan melakukan hal yang membuatnya lebih terpuruk.

Jika tidak sekarang menaklukan ketakutan itu, mau kapan lagi? Sedangkan di era digital ini sangat banyak peluang untuk kita mengeksplor kretativitas kita. Dunia maya sekarang lebih mudah memicu orang-orang untuk melakukan apapun, tak hanya kebaikan saja, tapi kejahatan pun mulai merajalela. Seharusnya sebagai remaja milenial kita harus mampu menghilangkan kejahatan di media sosial. Maka, dari itu penuhilah media sosial kita dengan hal yang bermanfaan bagi mereka. Bukankah itu bagian dari pencapaian kesuksesan juga?

Sejarah bukan hanya mencatat mereka yang punya paras cantik dan wajah tampan. Sejarah lebih senang mencatat mereka yang hidupnya bisa memberi manfaat kepada orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here