“SI AYAM PELUNG”

0
89
Spread the love

Oleh Siti Fety Fatimah
Guru SMKN PP Cianjur

Enyang Sutisna Siswa SMKN PP Cianjur yang duduk di kelas X Agribisnis Perikanan Air Tawar (APAT) yang biasa di panggil Enyang ini adalah putra bungsu  Alm. Bapak Odih dan Ibu Nurhasanah yang tinggal di Kp. Cogreg, Desa Cimanggu Kec. Cibeber Kab. Cianjur. Yang memiliki hobi bulu tangkis dan tennis meja dan bercita cita menjadi pengusaha sukses.  Lulusan dari SMP PGRI  Cibeber ini juga selain hobi olah raga senang juga mendengarkan suara ayam pelung yang dipelihara ayahnya.

Berawal dari senang mendengarkan suara ayam pelung setiap bangun tidur di pagi hari pada waktu subuh itulah Enyang memiliki ide utuk mengembangkan ayam pelung yang dimilikinya sepeninggal ayahnya. Ayahnya meninggal dunia saat Enyang usia 15 tahun, “Enyang merasa bingung ayahnya meninggalkan ayam pelung”. Akhirnya Enyang membudidayakan “Ayam Pelung”, saat itu hanya memiliki uang sebesar Rp. 200.000  bagaimana caranya membudidayakan ayam pelung seandainya di jual ayam pelung seperti ayam biasa hanya menghasilkan uang yang sedikit, Enyang berpikir keras dan mencari informasi mengenai ayam pelung melalui facebook sehingga bisa tergabung di KPC (Komunitas Plunger Cibeber) komunitas ayam pelung yang berkembang di Cibeber ada juga menurutnya HIPAP Nusantara dan HIPAPI untuk komunitas ayam pelung Indonesia.

Seorang Enyang yang ditinggalkan oleh ayahnya di usia yang masih belia namun Enyang di usia remajanya bisa mendapatkan penghasilan sendiri dengan penghasilan perbulannya kurang lebih sekitar Rp. 3.000.000,- dari hasil budidaya ayam pelung, biasanya seusia itu yang  dipikirkannya hanya kesenangan semata dan mengalami frustasi apabila ditinggal oleh orang tua tercinta namun, lain halnya yang dilakukan Enyang remaja yang ditinggalkan ayah tercintanya pada usia belia justru malah membuahkan prestasi, Enyang berhasil membudidayakan ayam pelung.

Sempat terhenti satu tahun sekolahnya setelah lulus dari SMP karena belum memiliki gambaran masa depan yang jelas mengenai sekolah, Enyang memutuskan bekerja di Bogor salah satu tempat cuci mobil selama tiga bulan bekerja di sana terkumpullah uang dari hasil kerjanya. Enyang mengantongi uang sebesar empat juta rupiah dan akhirnya Enyang memutuskan kembali ke kampung halaman untuk kembali mengembang biakkan ayam pelung miliknya dengan harapan ayam pelung yang di kembang biakkannya itu bisa berkembang kebih dari sebelumnya. Enyang berpikir melanjutkan sekolahnya di SMKN PP Cianjur sambil terus mengembangkan usahanya untuk membekali hidupnya.

Menurutnya hidup harus terus berjalan apapun keadaan atau kondisi keluarga saat ini yang terpenting kita ada keinginan, kemauan usaha serta do’a hidup tidak akan sulit dijalani Enyang bisa sekolah lagi dan usahapun masih bisa dikembangkan sampai saat ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here