SEORANG IBU YANG MANDUL

0
56
Spread the love

Oleh R, Siti Nurul Hasanah, S.Pd
(Guru SMKN 1 Cikalongkulon)

Hari masih pagi. Matahari baru menampakkan sosoknya yang gagah perkasa menyinari bumi. Aku bergegas memasuki gerbang panti jompo tempatku bekerja. Hari ini aku dapat giliran sift pagi.

Tampaknya para lansia penghuni panti baru selesai senam pagi. Aku bergegas ke belakang membantu teman yang lain menyiapkan sarapan.

“Hari ini kamu yang nyuapin Nenek Sinah lagi ya, Rin?” kata Dina, salah satu temanku.

“Kenapa, Din?” tanyaku.

“Biasalah, dia itu paling cerewet. Apa-apa salah mulu!”

Aku tersenyum.

“Orang tua kan memang kayak gitu, Din. Balik jadi kayak anak kecil lagi.” kataku.

“Pokoknya kamu aja yang suapin dia ya? Please….”

“Iya, iya!” aku membawa nampan berisi semangkuk bubur ayam. Tak lupa segelas susu dan sebuah pisang kuletakkan di atas nampan itu.

Nenek Sinah berusia sekitar 68 tahun. Kakinya sudah tidak kuat untuk berjalan. Seperti biasa beliau duduk di atas kursi rodanya sambil menatap keluar jendela. Aku tahu apa yang selalu dilihatnya. Pintu gerbang pagar panti.

Beliau selalu melihat ke sana. Entah saat senam, istirahat, atau saat jam makan. Bahkan Beliau juga ngotot ingin tidur di ranjang yang jendelanya menghadap ke pintu gerbang. Jika tidak dituruti, dia pasti ngomel terus tak henti-henti.

“Sarapan dulu, Nek.” kataku sambil duduk di sampingnya.

Nenek Sinah menatapku, lalu menatap mangkuk bubur di tanganku.

“Apa ini? Memangnya aku bayi makan bubur tiap hari?” katanya.

“Sarapan bubur kan baik untuk pencernaan, Nek. Yuk, Rina suapin.”

“Nggak mau! Aku mau makan nasi kuning!” omelnya.

“Nanti siang aja gimana, Nek? Sekarang makan ini dulu, ya?”

“Aku maunya sekarang!”

Aku mendesah. Nenek Sinah memalingkan muka, lalu mengarahkan pandangannya ke arah pintu gerbang lagi. Entah kenapa aku melihat begitu banyak kesedihan di matanya. Aku menarik napas panjang.

“Rina beliin nasi kuning, ya Nek?” kataku lembut. “Tapi Nenek janji harus mau makan.”

Beliau mengangguk tanpa menoleh. Aku membawa kembali nampan berisi makanan itu.

“Gak mau makan lagi kan, Rin?” sambut Dina begitu aku sampai di dapur.

Aku tersenyum.

“Beliau pengen makan nasi kuning. Aku keluar sebentar ya, Din? Kasihan, mungkin bosan sama makanan panti.”

Dina mengangguk. Aku bergegas keluar untuk membeli nasi kuning. Untung masih ada di pedagang nasi dekat panti. Aku segera membawanya kembali ke panti. Nenek Sinah masih tetap duduk di tempatnya.

“Nek, ini Rina bawain nasi kuning. Makan ya, Nek?” kataku seraya membuka bungkusan di tanganku.

Nenek Sinah menatapku, lalu mengangguk. Aku menyuapinya satu suapan.

“Enak gak, Nek?”

“Lumayan, meskipun gak seenak buatan Nenek.”

“Nenek pasti pinter masak, ya? Anak nenek berapa?”

Nenek Sinah seketika terdiam. Dia lagi-lagi menatap luar jendela.

“Aku Mandul….” jawabnya lirih, sedikit bergetar, seakan mengandung berjuta kepahitan di dalamnya.

Aku ikut terdiam. Benar juga. Mungkin Nenek tidak memiliki anak makanya keluarganya menaruhnya di sini. Karena hampir semua penghuni panti dikunjungi anak atau kerabatnya setiap minggu. Tapi nenek Sinah tak pernah dikunjungi oleh siapapun.

“Nenek Sinah itu punya empat orang anak.”

Aku terkejut mendengar perkataan Dina.

“Yang benar, Din?” tanyaku.

“Iya, dua diantaranya perempuan, menikah sama bule. Yang dua orang laki-laki tinggal di kota ini kok. Bahkan salah satunya jadi pejabat.”

“Astaghfirullah….” desisku.

Hatiku seketika terasa sakit. Mungkin selama ini nenek Sinah menatap pintu gerbang untuk menunggu kedatangan anak-anaknya. Tak terasa air mataku menetes. Mungkin memang benar,

Seorang Ibu Bisa Merawat Sepuluh Anak, tapi Sepuluh Anak Belum Tentu Bisa Merawat Satu Ibu.

Aku menghampiri Nenek Sinah yang duduk di atas kursi rodanya di taman panti.

“Nek.” panggilku lembut. Nenek Sinah menoleh ke arahku.

“Nenek kangen sama anak Nenek?”

Nenek Sinah diam. Aku menunggunya untuk bercerita, jika beliau ingin. Aku selalu terpikir perkataan beliau yang kemarin, bahwa dia mandul, padahal beliau punya beberapa orang anak.

“Nenek Hanya Seorang Ibu Yang ‘Mandul’. ” jawabnya lirih.

Aku tersentak, lalu mendekat padanya. Aku ingin dia merasa ada tempat untuknya berbagi kesedihan.

Mata Nenek Sinah menerawang jauh.

“Wanita yang Mandul itu Bukan Wanita yang Tidak Memiliki Anak. Tapi Wanita yang Memiliki Banyak Anak, tapi Tak Satupun yang Bisa Menyelamatkannya di Akhirat. Bahkan di Duniapun Mereka Tega Membuangnya.”

Hatiku seperti teriris-iris mendengarnya. Air mataku mengalir seketika. Ya Allah, betapa sakitnya hati seorang ibu yang dibuang oleh anak-anak yang susah payah dibesarkannya.

Aku ingin cepat pulang. Aku ingin memeluk ibuku. Takkan kubiarkan ibuku menjadi seorang ibu yang mandul.

Aku memegang tangan keriput Nenek Sinah.

“Nek, besok nenek mau sarapan apa?” tanyaku menahan tangis. “Biar Rina bawakan untuk Nenek.”

Nenek Sinah menatapku. Untuk pertama kalinya beliau tersenyum padaku.

“Nenek pengen makan putu mayang.”

“Besok Rina bawain ya, Nek?” kataku penuh dengan keharuan.

Keesokan harinya aku berangkat pagi-pagi sekali. Aku segera membeli sebungkus putu mayang untuk sarapan Nenek Sinah. Dengan riang aku membawanya menuju panti. Aku ingin melihat senyum bahagia Nenek Sinah lagi.

Aku sejenak tertegun melihat panti ramai pagi-pagi begini. Beberapa buah mobil terparkir di sana, termasuk sebuah mobil ambulans.

Aku melihat seorang pria ber jas hitam memaki-maki kepala panti. Aku cepat-cepat mendekati Dina.

“Ada apa ini, Din?” tanyaku setengah berbisik.

“Nenek Sinah terkena serangan jantung semalam. Beliau meninggal saat dibawa ke rumah sakit.”

“Innalillahi wa’innaillaihi roojiuun….” aku seakan tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“Itu anaknya.” Dina menggerakkan kepalanya menunjuk pria yang dari tadi marah-marah.

“Kalian tidak becus mengurus orang! Akan saya tuntut panti ini karena sudah menyebabkan ibu saya meninggal!”

Hatiku seketika panas mendengarnya.

Aku mendekati pria itu, tanpa peduli pada Dina yang mencoba mencegahku.

“Selama ini Bapak ke mana?” tanyaku dengan nada suara tinggi.

Semua orang terkejut menatapku, termasuk pria ber jas hitam tadi.

“Selama ini Nenek Sinah menunggu kedatangan Bapak, kedatangan anak-anaknya! Sampai setiap detik melihat ke arah pintu gerbang, berharap anak-anaknya yang datang. Tapi kalian bahkan tak peduli ibu kalian hari ini makan apa, sehat atau sakit!” napasku memburu, meluahkan segala emosi.

“Dan sekarang ketika Nenek sudah tiada, Bapak seenaknya menyalahkan orang lain atas ketidakbaktian Bapak sendiri! Memang benar kata Nenek, Mungkin Nenek Memang mandul!”

Aku meninggalkan pria yang melongo mendengarkan ucapanku itu. Hatiku benar-benar sakit. Aku tak peduli lagi jika harus dipecat dari pekerjaanku karena masalah ini. Yang kupikirkan sekarang adalah menumpahkan semua perasaan yang selama ini Nenek Sinah pendam.

Aku duduk di samping pintu gerbang. Ku pandangi bungkusan putu mayang di tanganku. Tangisku pecah.

Terima kasih, Nenek, karena sudah mengajarkanku bagaimana cara berbakti.

Semoga Allah menempatkanmu di Syurga yang terindah.

“Didiklah Anak-anakmu dengan Ilmu Agama, Agar Kelak Bisa Berbakti di Dunia dan Menjadi Amal Jariyah di Akhirat. Karena Sejatinya Wanita yang Mandul itu Bukan yang Tidak Memiliki Anak, Nelainkan yang Memiliki Banyak Anak tapi Tak Satupun Dapat Menyelamatkannya di Dunia dan Akhirat”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here