RINDU

0
163
Spread the love

Oleh Safaatun.
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Niken terpaku kaget melihat pemandangan dihadapannya. Sinar putih yang menyilaukan tiba tiba menyorot di hadapannya. Dia memicingkan matanya tanda silau. Belum hilang terkejutnya bayangan sosok pria berjalan mendekatinya. Awalnya tidak jelas, namun kemudian Niken mulai mengenali sosok yang mengenakan sarung dan kopyah. Yah.. seorang pria tua, terlihat dari langkah-langkahnya. Semakin mendekat, mata Niken mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar.
“ Ayah…” tuturnya pelan.
Segera Niken berlari menyongsong ayahnya. Dipeluknya tubuh renta dihadapnnya. Menyeruak wangi yang selalu dirindukannya. Ingin sekali Niken memeluknya lebih erat, tapi dia tidak mau membuat tubuh renta ayahnya kesakitan karena pelukannya.

“ Ayah..aku rindu”, bisiknya dengan masih terisak, sambil ditatap wajah ayah yang sangat dirindukannya.
Ayahnya hanya tersenyum, mukanya bersih bercahaya menentramkan. Niken membimbing ayahnya untuk duduk di sofa yang ada didekatnya. Entah siapa yang mengaturnya. Niken sendiri memilih bersimpuh memeluk kaki ayahnya, erat.
“Apa kabar Ayah..?”, tanya Niken dengan menatap ayahnya.
Ayah Niken hanya tersenyum teduh. Mata Niken berkaca-kaca lagi. Air mata yang tertahan entah sudah berapa lama kini tumpah mengalirkan bulir-bulir bening membasahi pipinya. Kepalanya tertelungkup di pangkuan Ayahnya. Serasa ingin dia tumpahkan segala rasa yang membebaninya selama ini. Namun hanya air mata yang deras dan isakkannya yang makin merdu terdengar. Niken merasakan kepalanya diusap lembut . Selalu menenangkan. Angannya melayang ketika masih kecil. Saat itu dengan diantar ayahnya menuju sekolah. Yah.. hari pertamanya masuk sekolah, dengan rasa bangga dan percaya diri Niken melangkah memulai belajar di sekolah. Tidak berbeda dengan ayahnya, rasa bahagia tak dapat disembunyikan akan putri kecilnya yang cantik dan cerdas. Hari-hari
selanjutnya , moment sekecil apaun menjadi cerita bersama. Setiap pretasi kecil putrinya adalah bahagianya. Duka Niken adalah duka ayahnya. Niken tumbuh di keluarga sederhana namun tidak kekurangan, pun dalam urusan sekolah , orang tua Niken selalu mendahulukannya. Niken tumbuh menjadi remaja yang ramah, santun dan pintar. Ayahnya adalah orang yang paling memahaminya. Niken anak yang tidak bisa meminta, dia hanya menurut apa yang diberi orang tuanya.
“Niken , ayo ikut ayah:, ajak ayahnya suatu hari
“Kemana Ayah?”, tanya Niken.
“Ayo ikut saja cepat ganti baju dulu”, lanjut ayahnya.
Ternyata ayah Niken mengajaknya ke toko sepatu, minta Niken memilih sendiri sepatunya karena ayahnya melihat sepatu Niken sudah usang tapi masih terus dipakai. Demikian hal hal kecil yang tak harus terucap dari Niken ayahnya selalu paham. Sampai dewasa jika Niken mau pulang ke rumah, ayahnya selalu siap didepan rumah
menunggunya hingga datang, dan memastikan anaknya selamat. Demikian juga ketika Niken harus tinggal diluar kota, dering telepon dari ayahnya sering hadir tanpa diminta menanyakan kabar Niken, bahkan sering kali telepon ayahnya hadir bersamaan ketika dia sakit atau sedih,
“ Niken kapan kamu libur kerja nak.., ayah kangen. Bawa cucu Ayah juga kalau pulang”, sapa Ayah suatu hari
“Iya Ayah, tapi kita libur baru akhir bulan depan, “ jawab Niken
“Selalu begitu kesibukan kerja menjadi alasan untuk tidak mengunjungi Ayah. Kerja sesibuk apa? Apa yang dicari? Apa yang aku dapat dari kerjanya hingga sedikit saja waktu yang berharga untuk Ayah terasa berat untuk dikabulkan” Niken kembali menelusuri hidupnya.
“Ayah.. maafkan Niken, saat Ayah sakit juga Niken tidak bisa merawat Ayah dengan baik”, ucap Niken tersedu.
Ayah menatap Niken. Telunjuknya diletakkan di mulut Niken, isyarat agar Niken diam.
Disusutnya air mata Niken dengan sorbannya. Tiba-tiba ayahnya berdiri. Nikenpun ikut berdiri. Mereka berpelukan. Ayah menepuk-nepuk pungung Niken tanda menguatkan. Tak lupa ayah mencium kening Niken, seperti yang biasa dilakukannya dulu. Kemudian dia merenggangkan pelukannya, melepaskan Niken dan kembali melangkah dalam
lorong cahaya yang mengantar kedatangan Ayah tadi.
“Ayah.. !!! Ayah mau kemana? Ayah…!!!”, teriak Niken yang dijawab dengan lambaian tangan Ayahnya.
Kembali Niken terisak, dan memanggil ayahnya. Tiba tiba dia tersadar ,dan mulai mengamati disekelilingnya.air mata dimukanya belum kering, dia kini sedang meringkuk di atas sajadah dan mukena yang masih dia pakai basah dibagian dada.
“Astagfirullahal adzim..”, ucapnya. Rupanya dia tertidur setelah menjalankan sholat sunah di sepertiga malamnya.
“Ayah , maafkan aku ,tahun ini belum sempat mengunjungi pusaramu. Namun doaku selalu untukmu. Aku rindu”, ucap Niken.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here