PUASA PERTAMA, RIANA

0
57
Spread the love

Oleh Ai Ratnasari
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Usiaku kini genap tujuh tahun aku sekarang duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Wali kelasku namanya Bu Fatma orang yang familiar sekali karena sebelumnya aku sudah mengenalnya karena sewaktu TK aku sering melihatnya kebetulan sekolahku adalah sebuah yayasan yang terdiri dari jenjang TK sampai SMA. Tak banyak yang menarik dari sekolahku karena virus korona aku tidak belajar seperti yang dari orang-orang dengar sebelum korona menjadi pemeran paling dominan saat ini. Namaku Riana aku di rumah terbiasa dengan panggilan Riri, aku tumbuh menjadi anak yang tomboy bicaraku ceplas ceplos kata mamaku bicaraku kaya orang dewasa. Aku pun punya tabiat kalau ada maunya kudu dilaksanakan kalau tidak aku bisa menangis seharian. By the way memasuki bulan Ramadan katanya bulan Ramadan itu adalah bulan seribu bulan, bulan penuh pengampunan dan bulan paling suci. Mendengar kata Ramadan bukanlah hal yang asing karena sejak usia empat tahun mama sama papaku sudah mengajariku dan melatihku untuk berpuasa . Namun, tahun lalu seingatku puasa aku belum pernah sampai magrib, dan tahun ini aku bertekad untuk berpuasa penuh sampai magrib. Hal ini aku sampaikan pada mamaku.

Sehari menjelang Ramadan kulihat kak Rindu sedang sibuk menyetrika mukena. Ya, mukena mama, aku dan juga adikku Reina. Tak ketinggalan sarung dan seperangkat baju koko dan kopiah kak Rindu rapikan karena menjelang isya kita akan melaksanakan terawih pertama. Di sebuah kamar bercat warna ungu, kamar yang tidak terlalu besar hanya  ada tempat tidur, lemari baju dan meja rias. Beberapa kerudung tertata rapi tergantung memakai hanger, sambil duduk ka Rindu menyetrika beberapa mukena.

“Ka aku seneng banget mau puasa, kenapa ya ka?” ucapku pada kak Rindu

“Iya dong dek, kakak juga seneng banget itu artinya Adek orang yang taat sama perintah Allah!” ucap kak Rindu sambil tersenyum.

“Nanti terawihnya yang bener jangan main-main kaya tahun lalu jadi ngeganggu sama yang lain!” kak Rindu mengingatkan.

“iya-iya kak gak dech, uppp tapi….booong!” aku berlalu dari kamar kak Rindu meninggalkan kak Rindu dengan wajah kesalnya. Entahlah aku tipikal orang yang gak serius sering bikin orang serumah geram dengan ulahku. Mungkin kebiasaan berteman dengan teman-teman di sekitar rumah yang jadi aku berkata kasar. Aku yang pindahan dari kota sekarang tinggal di perkampungan karena papa aku membeli sepetak tanah dan mengurusnya sendiri.

Menjelang azan isya kami mengantre untuk berwudu, dan bersemangat untuk pergi terawih di sebuah madrasah yang dekat dengan masjid. Aku pun berlari untuk sampai lebih dulu karena aku janjian dengan temanku Tita untuk menempatkan diri di paling belakang.

Diusiaku aku jujur saja belum sempurna dengan bacaan salat aku hanya mengikuti gerakan salat yang biasa aku lakukan di rumah bersama mamaku. Aku melakukan salat isya saja tidak mengerjakan salat sunat di antara sebelum dan sesudah salat isya yang disebut salat sunnah qobliyah dan ba’diyah. Sepanjang salat terawih aku pun tidak seluruhnya mengikuti karena lumayan capek aku lebih ke bermain dengan anak-anak yang lain. Kelakuan aku dan teman-teman cukup membuat geram ibu-ibu yang lain karena mengganggu benar saja kata kak Rindu kebiasaan tahun lalu belum juga hilang tapi inilah mungkin anak-anak.

***

Menjelang sahur ibuku dan ka Rindu tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya. Aku dibangunkan kak Rindu dengan malas dan berat rasanya membuka mata tapi aku mencoba perlahan membuka mataku dan pergi ke wc untuk mencuci muka, kulihat Reina dipangku mama dan dirayu untuk ikut sahur adikku yang gak beda jauh usianya denganku sudah diajarin puasa kata mamaku sekuatnya aja puasanya.

Hari pertama puasa aku diajak main oleh temanku Tita, seperti biasa siang hari aku habiskan main dengan teman-temanku bermain sondah, sapintrong dll. Seusai bermain aku berlari ke rumah niat aku untuk minum aku terlupa kalau aku puasa.

“ Ma, Ma, mama di mana aku mau minum?” teriakku sambil ngos-ngosan

“Eit sayang kan lagi puasa, lupa ya cantik” ucap mamaku

“Oh Iya ma aku lupa tapi aku haus banget ma?” aku merengek

“Sayang puasa kan menahan haus dan lapar, nah sekarang mending Riri pergi tidur nanti  mama bangunin pas zuhur ya” rayu mama lagi.

“iya ma,,” aku menurut dan pergi keluar pada teman-temanku untuk gak ikut main karena mau tidur.

Aku ke kamar dan berniat tidur kulihat Reina masih tertidur pulas ibuku menemaniku seraya mengusap-usap rambutku dan membacakan doa untuk tidur. Aku pun tak sadar tertidur pulas hingga waktu zuhur tiba. Aku bangun dengan lemas rasanya ingin aku batal saja tapi aku juga ingin bisa full puasanya. Aku ke kamar mandi diiringi mamaku untuk berwudu. Aku gak banyak bicara hanya mengikuti salat bersama mamaku dan kak Rindu. Setelah salat aku sedikit agak segar mungkin karena abis berwudu.

Aku pun ke luar rumah kulihat teman-temanku sedang bermain menyalakan petasan mamaku berpesan jangan dekat-dekat nanti kena petasan dan gak ikut lebaran. Namun, aku tetap saja mendekati teman-temanku. Menjelang azan asar aku merasa sangat lemas banget dan pulang kulihat mamaku sedang sibuk di dapur mempersiapkan hidangan buat berbuka puasa. Aku merengek pada mamaku.

“Ma, Riri haus banget gak kuat?” ucapku memelas

“Sayang kalau udah gak kuat mama gak larang ko gak apa-apa sekarang dibatalin besok-besok latihan lagi. Adikmu juga sudah batal tadi pukul 12.00” ucap mamaku sambil tersenyum.

“Tapi gak mau aku mau sampai magrib, Ma?” seruku meyakinkan Mamaku

“Sayang itu bagus usia kamu baru tujuh tahun tapi kamu sudah bisa puasa penuh sampai magrib. Mama terserah kamu kalau kamu kuat kamu terusin” Mamaku memelukku.

Entah mengapa aku memiliki karakter yang apabila aku menginginkannya aku harus bisa mencapainya. Seperti puasa hari pertama ini aku mau sampai magrib meski aku gak kuat mau minum saja gak usah makan. Aku coba menonton TV, sambil tiduran menahan haus yang sangat mengeringkan tenggorokan. Aku coba tahan sampai aku yang biasanya bermain dengan teman-teman aku tolak karena dengan bermain membuat aku kecapean dan aku memilih diam dan nonton TV.

***

Suara azan magrib terdengar dari masjid dengan jelas aku yang sedang duduk di teras rumah sambil melihat-lihat bunga-bunga punya mamaku terlonjak kegirangan. Kegembiraan melebihi kalau aku main kelereng sama teman-temanku. Ya, entahlah aku seperti memenangkan pertarungan dengan lawan aku sangat gembira mendengan azan magrib petanda aku boleh makan dan minum. Aku berlari ke dalam rumah sambil berteriak-teriak.

“horeeeeeeeeee!” aku berteriak

“Alhamdulillah sayang kamu sampai magrib, kamu anak mama yang hebat!” puji mamaku

“Wah anak Papa sudah besar sudah bisa puasa Full itu namanya anak super!” Papaku menimpali

“Iya dek besok puasa lagi ya dan sampe magrib lagi” ucap Ka Rindu

“Yeayyyyyyyy!” aku terus berteriak

Ku lihat adikku Reina agak cemberut melihat semua memujiku. Ibu yang sangat hafal dengan karakter adikku langsung saja melibatkan Reina dalam pembicaraan.

“ Nanti Reina juga kalau udah usia tujuh tahun pasti kuat ya Pa, iya kan Kak Rindu?” Mamaku melirik Papa dan Kak Rindu dengan mengerlingkan mata tanda harus mengiyakan.

“Oh Iya dong Ma, Reina juga nanti mah kuat sekarang mah karena belum cukup usianya!” Kak Rindu menyemangati

“Iya dong harus cukup dulu usianya baru kuat” Papa menambahkan

Reina pun mulai luruh hatinya dan ikut tersenyum. Kami pun berbuka puasa dengan membaca doa  “Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’ala rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimin”. Untuk puasa hari pertama aku dan keluargaku dapat menjalankan puasa dengan penuh semangat semoga kami dapat menjalankan puasa sampai sebulan ke depan. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here