PENGAIRAN TANAMAN PERKEBUNAN

0
132
Spread the love

Oleh WAHYU NUR CAHYO, S. ST.
Guru SMK Negeri 1 Simpang Pematang

Musim kering yang ada di Indonesia pada tahun 2019 memiliki masa yang sangat panjang. Lebih dari 6 bulan kekeringan melanda negara ini, yang menyebabkan difisit air di beberapa daerah. Empat tahun sebelumnya, musim kering yang panjang juga melanda berbagai wilayah Indonesia.

Dampak kekeringan ini sangat terasa pada berbagai sektor kegiatan ekonomi dan lingkungan. Kabut asap melanda di berbagai wilayah lahan gambut, akibat kebakaran hutan dan lahan. Dampak defisit air sangat signifikan terhadap perkembangan bidang pertanian dan perkebunan. Ketersediaan air sangat diperlukan dalam proses fisiologis tanaman. Seperti kita ketahui, bahwa air sangat diperlukan dalam ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Tanaman akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan, apabila kebutuhan air tidak tercukupi.

Air merupakan kebutuhan utama bagi tumbuh-tumbuhan termasuk tanaman budi daya. Keberadaan pada suatu lahan pertanaman perlu dipertimbangkan dengan matang. Tidak semua jenis tanaman dapat tumbuh dengan kondisi air berlebih. Suatu wilayah di mana kondisi air berlebih, akan menyebabkan terjadinya gangguan pada tanaman, terutama pada bagian perakaran tanaman. Akar tanaman tidak dapat berkembang dengan baik, dan pada akhirnya akar tanaman akan busuk jika terus menerus tergenang dalam air.

Solusi unuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu tindakan untuk pembuangan kelebihan air yang dinamakan dengan sistem drainase. Pembuatan sistem drainase ini bukan suatu pekerjaan mudah, terutama bagi tanaman perkebunan, mengingat perkebunan merupakan suatu jenis usaha tani yang memiliki skala luas. Sehingga untuk pembuatan sistem drainase dan pemberian air harus dilakukan dengan perhitungan yang matang dan cermat, serta harus diawali dengan proses pembuatan desain. Sistem pertanian perkebunan yang sering dijumpai adalah sistem drainase terbuka, berupa parit-parit yang terbuat dari pipa atau beton yang dibuat dengan suatu konstruksi tertentu. Tapi khususnya di Indonesia, pembuatan saluran drainase merupakan sistem terbuka yang terbuat dari tanah. Pada bab ini akan dibahas bagaimana cara membuat suatu jaringan irigasi dan drainase khususnya jaringan irigasi dan jaringan drainase terbuka untuk kegiatan pembibitan tanaman perkebunan.

  1. Pendahuluan

Tuhan menciptakan bumi beserta air yang cukup untuk memenuhi hajad hidup manusia, untuk makan, minum, keperluan sehari-hari, dan kegiatan pertanian. Permasalahannya adalah ketersediaan. Air kadang kala tidak ada pada saat dibutuhkan untuk irigasi, tetapi di lain waktu terjadi hujan yang menyebabkan banjir. Berapakah jumlah air di permukaan bumi? Sebagai gambaran kita adalah sebagai berikut. Apabila bumi diasumsikan seukuran bola basket, maka jumlah air yang ada di bumi bisa dimasukkan ke dalam bola ping pong. Seberapa banyak air itu? Sekitar 326 juta mil kubik atau 1.332.000.000 kilometer kubik (1,332 km3). Berdasarkan penelitian dari US Geological Survey, sekitar 72 % bumi tertutup air, tetapi 97 % adalah air laut yang asin dan tidak cocok untuk diminum dan kegiatan perkebunan dan pertanian. Asumsi tersebut menggambarkan bahwa air yang ada di bumi ini sangat mencukupi kebutuhan manusia. Namun, terjadi pergeseran terhadap asumsi tersebut. Di mana sekarang air menjadi barang yang mahal, artinya air menjadi lebih langka. Sudah saatnya kita memperhatikan masalah kekeringan di Indonesia, yang tidak terjadi sematamata karena faktor alamiah saja. Posisi Indonesia yang terletak di wilayah geografis strategis di mana Indonesia diapit dua benua dua samudera dan Indonesia juga terletak di sepanjang garis khatulistiwa. Kondisi letak geografis yang demikian ini membuat wilayah Indonesia rentan terhadap gejala kekeringan, sebab iklim yang terjadi di wilayah tropis adalah jenis iklim monsoon yang diketahui sangat sensitif terhadap perubahan ENSO atau El-Nino Southern Oscilation. ENSO inilah yang menjadi penyebab utama kekeringan yang muncul jika suhu di permukaan Lautan Pasifik tepatnya di bagian tengah sampai bagian timur mengalami peningkatan suhu. Berdasarkan hasil penelitian, para ahli menyimpulkan bahwa anomali ENSO tidak menjadi penyebab satu-satunya gejala kekeringan di Indonesia. Kekeringan umumnya diperparah penyebab lainnya, yaitu sebagai berikut:

  1. Terdapat pergeseran daerah aliran sungai (DAS) terutama di wilayah hulu. Hal ini menyebabkan lahan beralih fungsi, dari lahan bervegetasi menjadi lahan tanpa vegetasi (lahan gundul). Efek dari perubahan ini adalah sistem resapan air di dalam tanah menjadi terganggu dan akhirnya menyebabkan kekeringan.
    1. Kerusakan sistem hidrologis di wilayah hulu sungai, sehingga waduk dan saluran irigasi diisi oleh benda benda sedimen sehingga menyebabkan kapasitas dan daya tampung menjadi menurun. Cadangan air yang kurang akan menyebabkan kekeringan parah saat musim kemarau tiba
    1. Persoalan agronomis atau dikenal juga dengan nama kekeringan agronomis. Kejadian ini disebabkan oleh pola tanam petani di Indonesia yang memaksakan penanaman yang tidak sesuai dengan musim sehingga mengakibatkan cadangan air semakin tidak mencukupi.

Setelah memahami penyebab tersebut, peserta didik sebagai generasi penerus bangsa, khususnya bagi mereka yang sedang mempelajari irigasi, perlu ditanamkan pemahaman konsep irigasi dan drainase. Konsep yang tertanam dengan baik, maka pada hari depan kebutuhan air akan terpenuhi.

  • Menentukan Persyaratan Perencanaan

Irigasi Istilah pengairan tidak lepas dari pengertian dasar, yaitu air. Kegiatan pengairan mencakup pengelolaan tata air pada budi daya tanaman. Pengairan ini sangat penting, karena berdampak langsung pada metabolisme tanaman. Apabila tanaman kekurangan air, maka unsur hara sulit terserap tanaman. Sedangkan lahan yang terlalu banyak air, maka aerasi tanah tidak berjalan dengan lancar, akibatnya akar membusuk dan pada akhirnya tanaman mati. Tindakan pengairan meliputi pemberian air dan pengurangan air. Pemberian air disebut dengan irigasi, sedangkan pengurangan air disebut dengan drainase.

Pengertian irigasi adalah kegiatan pemberian air pada suatu lahan pertanian yang bertujuan untuk menciptakan kondisi lembab pada daerah perakaran tanaman untuk memenuhi kebutuhan air bagi partumbuhan tanaman. Menurut Basri (1987), irigasi adalah pemberian air pada tanaman untuk memenuhi kebutuhan air bagi pertumbuhannya.

Air yang pada umumnya diambil dari sungai atau bendungan yang dialirkan melalui sistem jaringan irigasi untuk menjaga keseimbangan jumlah air di dalam tanah.

Irigasi diberikan pada tanaman karena ada faktor pembatas dalam budi daya tanaman. Faktor pembatas tersebut apabila tidak dilakukan rekayasa, maka akan mengakibatkan kerugian. Pemberian air pada tanaman biasanya diberikan pada saat kondisi kekurangan air. Dengan demikian, air merupakan faktor pembatas, yang direkayasa sedemikian hingga dapat mencukupi kebutuhan air. Hal tersebut selaras dengan pendapat seorang peneliti, di mana Linseley, mendefinisikan bahwa

pengairan adalah pemberian air kepada tanah untuk menunjang curah hujan yang tidak cukup agar tersedia lengas tanah bagi pertumbuhan tanaman.

Irigasi selain bertujuan menyediakan air bagi pertumbuhan tanaman, juga memberikan manfaat lain, seperti berikut ini:

  1. Mempermudah pekerjaan pengolahan tanah.
  2. Menekan pertumbuhan gulma, hama dan penyakit.
  3. Mengatur suhu tanah dan iklim mikro.
  4. Memperbaiki kesuburan tanah.
  5. Menurunkan kadar garam dalam tanah.
  1. Menyiapkan Peralatan Pembuatan Jaringan Irigasi dan Drainase

Kegiatan berikutnya adalah mempersiapkan peralatan pembuatan jaringan irigasi dan drainase. Sebelum melakukan persiapan, terlebih dahulu kita harus memahami hal-hal sebagai berikut.

  1. Teknik pemberian air

Pemberian air irigasi pada suatu lahan Pertanian dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode disesuaikan dengan kondisi tofografi jenis tanah dan jenis atau macam tanaman yang diusahakan. Metode pemberian air irigasi dapat digolongkan menjadi empat, yaitu sebagai berikut:

  1. Irigasi permukaan (irigasi gravitasional) Irigasi golongan ini banyak dijumpai pada sistem irigasi pada tanaman hortikultura dan perkebunan. Cara ini masih dapat dibedakan lagi menjadi beberapa cara, yaitu sebagai berikut :

1) Penggenangan

2) Pemberian air dalam selokan-selokan

3) Pemberian air di antara baris tanaman

  • Pemberian air bawah permukaan (subsurface irrigation)

Sistem irigasi bawah permukaan dapat dilakukan dengan meresapkan air ke dalam tanah bawah zona perakaran melalui sistem saluran terbuka ataupun menggunakan pipa porous. Lengas tanah digerakan oleh gaya kapiler menuju zona perakaran dan selanjutnya dimanfaatkan oleh tanaman.

  • Pemberian air dengan cara siraman (Trickle/Springkler Irrigation) Irigasi cara siraman ini biasnya digunakan pada perkebunan terutama pada usaha budi daya tanaman tembakau dan kegiatan pembibitan tanaman perkebunan, seperti pada kegiatan pembibitan kelapa sawit, pembibitan kakao, dan pembibitan kopi. Cara ini relatif efisien dan dapat diterapkan pada lahan-lahan dengan topografi yang bergelombang.
  1. Irigasi tetes (drip)

Sistem irigasi tetes adalah teknik pemberian air dengan kecepatan yang rendah dan bersifat lokal. Arti secara harfiah adalah tetes demi tetes atau irigasi yang diberikan pada suatu titik atau tempat tertentu atau suatu area berbentuk kisi di permukaan tanah. Selama laju pemberian air masih berada di bawah laju infiltrasi air ke bawah tanah, air dapat masuk ke dalam tanah dan kondisi tanah dalam keadaan tak jenuh dan tidak ada air berlebihan atau mengalir di atas permukaan tanah. Dengan sistem irigasi tetes, air dialirkan ke titik (tempat tanaman) melalui tabung plastik yang umumnya tahan terhadap pelapukan, karena terbuat dari bahan polietilen hitam atau Poly Vinil Chlorida (PVC). Pipa-pipa lateral mendapat suplai air dari pipa utama, yang terletak di permukaan tanah. Pipa-pipa lateral biasanya berdiameter 10-25 mm dengan salah satu bagian dilubangi atau dipasang penates (emiter). Hal ini bertujuan agar meneteskan air ke permukaan tanah pada kecepatan yang dapat diatur.

  • Sumber air irigasi

         Irigasi merupakan kegiatan penyediaan, pengaturan, dan pemberian air untuk memenuhi kepentingan Pertanian dengan memanfaatkan air yang bersumber dari air permukaan dan air tanah. Ketersedian air bagi tanaman sanngat bergantung pada curah hujan, di mana curah hujan akan mempengaruhi ketersediaan air permukaan dan air tanah.

  1. Air Permukaan

Sumber air permukaan untuk memenuhi kebutuhan irigasi tanaman dapat diperoleh dari sungai, waduk, danau, dan curah hujan. Curah hujan merupakan sumber air utama bagi tersedianya air permukaan. Air hujan yang jatuh sebagian akan terinfiltrasi melalui pori-pori tanah dan sebagian lagi akan membentuk aliran permukaan (surface run off) yang pada akhirnya akan mengalir pada sungai atau mengisi cekungan-cekungan sebagai tampungan.

  • Air tanah

Air tanah dapat diartikan sebagai air yang terdapat yang ruang-ruang antara butir-butir tanah. Secara umum keberadaan aiar tanah dapat dipisahkan dalam dua lapisan, yaitu, lapisan tidak jenuh air (zone of unsaturation) dan lapisan jenuh air (zone of saturation). Penggunaan air tanah untuk keperluan irigasi tanaman dengan cara penggalian dan penyedotan relatif masih terbatas, itupun hanya dilakukan pada beberapa daerah tertentu serta pada saat-saat musim kemarau saja. Mengingat cara ini dianggap masih relatif mahal dan membutuhkan investasi yang cukup besar.

  • Kebutuhan air irigasi

         Kebutuhan air irigasi perlu dianalisis, ini merupakan salah satu tahapan penting yang diperlukan dalam merancang dan mengelola sistem irigasi. Agar kebutuhan air irigasi dapat terpenuhi, maka dapat diperkirakan kebutuhan air irigasi perlu memperhatikan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kebutuhan dan ketersediaan, seperti hal berkut ini.

  1. Jenis dan sifat tanah
  2. Macam dan jenis tanaman
  3. Keadaan iklim
  4. Keadaan topografi
  5. Luas areal pertanaman
  6. Kehilangan air selama pengaliran dan penyaluranya

       Kebutuhan air tanaman didefinisikan sebagai jumlah air yang dibutuhkan oleh tanaman pada suatu periode untuk dapat tumbuh secara normal. Penggunaan air untuk kebutuhan tanaman dapat diprediksi dengan menghitung evapotranspirasi tanaman, yang besarnya dipengaruhi oleh jenis tanaman, umur tanaman, dan faktor klimatologi.

  • Jaringan irigasi dan drainase

Jaringan irigasi asdalah prasarana irigasi yang digunakan untuk mengatur dan menyalurkan mulai dari penyediaaan, pengambilan pembagian, pemberian dan penggunaan. Secara hirarki jaringan atau saluran irigasi dibagi mennjadi yakni saluran utama atau primer, saluran sekunder, saluran tersier, dan saluran kuarter. Berdasarkan kelengkapan fasilitas, jaringan irigasi dapat dikelompokan menjadi 3 jenis, yaitu sebagai beikut.

  1. Jaringan irigasi sederhana
    1. Jaringan irigasi semi teknis
    1. Jaringan irigasi tekhnis

       Pembuatan sistem drainase di perkebunan ditujukan untuk mengendalikan kelembaban tanah, sehingga kadar airnya stabil, 20-25%. Sistem drainase dibuat berdasarkan kemamouab saluran air untuk mengeluarkan kelebihan air dalam sehari. Volume air yang akan dikeluarkan melalui sistem drainase berkisar 60-80% ari curah hujan. Hal ini tergantung dari jenis tanah,topografi dan lamanya periode kering suatu wilayah.

Prinsip dasar dari sistem drainase adalah menyekap air, menngumpulkan air dan akhhirnya membuang keluar areal. Drainase harus dirancang dalam bentuk jaringan yang memanfaatkan topologi dan mengalirkan kelebihan air berdasarkan gaya berat. Merancang saluran drainase harus berdasar pada topografi wilayah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here