PENDIDIKAN DI LINGKUNGAN KELUARGA

0
58
Spread the love

Oleh Ai Didah Hamidah, S.Pd.I, M.Pd
(Staf Pengajar SMKN 1 Cikalongkulon)

Pendidikan Islam itu sebenarnya dimulai dari lingkungan keluarga. Membangun kehidupan keluarga yang benar-benar islami, yang berdasar pada Al-Qur’an dan hadist merupakan esensi dari pendidikan. Karena itu, praktik pendidikan di lingkungan keluarga memang harus dimulai sejak dini.

Lingkungan keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama, karena dalam lingkungan inilah anak pertama-tama mendapatkan dan bimbingan, juga dikatakan lingkungan yang utama, karena sebagian besar dari kehidupan anak adalah di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima oleh anak adalah dalam keluarga. Tugas utama dari keluarga bagi pendidikan akhlak dan pandangan hidup keagamaan. Sifat dan tabiat anak sebagian besar diambil dari kedua orang tuanya dan dari anggota keluarga yang lain.

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang pertama dan utama bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup dan pendidikan anak adalah orang tua.

Kehidupan keluarga itu ibarat sekolah terbuka dengan jurusan atau materi pendidikan yang tidak terhingga. Barang siapa sanggup mengelolanya dengan baik, maka Allah Swt, akan menganugrahkannya keberkahan. Kehidupan keluarga yang terdiri atas suami istri dan anak-anak akan menjadi potret kesempurnaan. Di dalamnya, Allah Swt, tidak saja memberikan keteduhan berupa cahaya ilmu, namun juga ketentraman hati sebagai buah dari amanah atau tanggung jawab yang telah dijaga.

Apa, misalnya, tanggung jawab dan hak-hak dalam keluarga yang harus dipenuhi? Ilmu, nafkah, ibadah, dan lainnya. Seorang suami tentu memiliki tanggung jawab membimbing dan mengarahkan istrinya, juga anak-anaknya. Demikian halnya dengan seorang istri. Ia harus mampu mendukung ibadah-ibadah yang dilakukan suami. Jika komponen tugas-tugas itu bisa dilakukan dengan baik dan amanah, maka sebuah kelurga akan dipenuhi oleh cahaya ilmu. Dan, dengan ilmu itu, niscaya Allah Swt, akan memuliakannya.

Akan tetapi, jika sebaliknya, yaitu jika kita melalaikan tugas-tugas tersebut, maka sebuah keluarga ibarat perahu tanpa lampu penerang, jelas akan tersesat karena tidak mengerti kearah tujuan yang hendak dituju. Dalam salah satu hadist disebutkan bahwa Rasulullah Saw, bersabda, “ sungguh berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggung jawab keluarga,” (HR. Abu Dawud).

Menyia-nyiakan tanggung jawab bermakna sangat luas. Tidak sekedar soal nafkah. Namun, juga terkait dengan ilmu dan ibadah-ibadah lainnya. Karena itu, tugas suami dan istri harus benar-benar dipahami agar terjalin keluarga yang ‘ilmiah, yaitu yang digerakkan berdasarkan cahaya ilmu Allah Swt.

Salah satu contoh ialah suami yang harus bertindak sebagai guru pembimbing, suami itu harus mampu mengatur dan mengarahkan istri serta anak-anaknya dalam bingkai ilmu agar ragam tugas dan tanggung jawabnya terealisasi.

Rasulullah Saw, bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang suami ialah pemimpin di tengah keluarganya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang istri ialah pemimpin di rumah suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya….” (HR. Bukhari).

Hadist tersebut merupakan penegasan bahwa peran dan tugas masing-masing individu dalam keluarga harus direalisasikan. Sebab, keluarga merupakan lembaga pendidikan dalam makna yang sebenarnya. Maka, baik suami maupun istri, harus menjalankan tugas-tugasnya dalam kehidupan keluarga dengan baik. Salah satu keteladanan yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, ialah kisah yang tergambar dalam hadist berikut.

Pada suatu malam, Rasulullah Saw. pergi menuju rumah Ali bin Abi Thalib dan Fatimah. Beliau hendak membangunkan mereka berdua untuk melakukan shalat malam. Setelah sampai, Rasulullah Saw, mengetuk pintu rumah Ali. Tampaknya, Ali dan Fatimah masih tertidur Rasulullah Saw. lantas berkata, “Sudahkah kalian berdua menjalankan shalat?”

Ali menjawab, “jiwa kami berada dalam genggaman Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia membangunkan kami, dan kami pasti bangun.”

Selanjutnya, Rasulullah Saw, meninggalkan rumah Ali dengan marah. Ali berkata, “saya melihat Rasulullah pulang dengan menepukan tangannya ke paha seraya berkata, “Dan, manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.”(HR. Bukhari).

Begitulah salah satu contoh kecil pendidikan keluarga. Kita harus mampu membangun sebuah keluarga dalam bingkai pendidikan Islam. Sebab, dengan pendidikan keluarga, berarti kita telah menyiapkan diri dan keluarga dari siksa yang pedih di akhirat.

Terkait perintah mendidik keluarga, di Al-Qur’an, Allah Swt, berfirman yang artinya:

 “Hai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya ialah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap sesuatu yang diperintahkan-Nya kepada mereka, dan mereka selalu mengerjakan sesuatu yang di perintahkan.” (QS. At-Tahrim/66:6).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here