PENANTIAN YANG MENYAKITKAN

0
188
Spread the love

Oleh Eva Helviana Hafsah
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Oktober 1999

Aku mahasiswi semester akhir di salah satu universitas negeri di Bandung. Namaku Rahma yang sedang kuliah di Fakultas Pendidikan Bahasa Asing. Aku termasuk mahasiswi yang beruntung karena mendapatkan beasiswa bersama dengan calon pendampingku yang sekelas denganku, namanya Rangga. Dia berasal dari Yogyakarta sedangkan aku berasal dari kota ini.

“Ma, yu acara udah dimulai”, ajak Rangga mengagetkanku.

“Ok, hayu”, aku beranjak dari tempat dudukku sambil menenteng tasku.

Kami bersama-sama aktif di organisasi kemahasiswaan, nama kami cukup populer diantara mahasiswa satu angkatan sebagai the best couple. Menurut mereka kami adalah pasangan serasi karena sama-sama berprestasi. Kami mendapatkan IPK Cum Laude.

Setelah selesai acara kami duduk di taman sambil membaca buku kesukaan masing-masing. Dia sangat suka sekali membaca buku-buku puisi karya Chairil Anwar dan Kahlil Gibran sedangkan aku lebih suka baca novel di waktu sengganggku.

“Ma, minggu depan wisuda, yang mau nemenin kamu siapa?”, tanya Rangga sambil meletakan bukunya dan menatapku.

“Tetehku, teh Ratna tentu saja”, jawabku singkat.

Orang tuaku sudah lama meninggal ketika aku masih duduk di bangku SMP dan aku tinggal dengan kakak perempuanku yang sudah menikah dan berkeluarga. Kakakku yang membiayai kuliahku. Aku tidak akan pernah melupakan jasa kakakku.

“Ga, setelah lulus kamu bakalan balik kampung halaman gak?”, tanyaku sambil meletakkan buku yang aku baca di meja.

“Gak taulah Ma, aku kayaknya betah tinggal di sini apalagi ada kamu”, ucap Rangga sambil senyum merayu.

“Ah kamu bisa aja”, aku tersipu malu.

“Pokoknya aku nanti mau kerja dulu ngumpulin uang yang banyak terus kita nikah Ma, tapi..”, Rangga termenung sejenak.

“Kenapa Ga?”, tanyaku penasaran.

“Aku gak bisa nikah buru-buru Ma, ibuku mau aku biayain kuliah adikku dulu di Yogya”, Rangga menjelaskan dengan pandangan kosong ke depan.

“Aku ngerti Ga, kalau kita udah nikah juga aku bakalan dukung kamu koq buat bantu adik-adikmu”, aku menenangkan Rangga.

“Makasih Ma, kamu memang baik banget tapi ibuku bilang jangan dulu nikah sampai adikku yang sekarang baru masuk kuliah lulus, ya kira-kira empat taun Ma, kamu mau nunggu?”, Rangga bertanya sambil menatapku penuh harapan.

“Iya Rangga, aku juga sama harus kerja dulu bantu-bantu kakakku biayain anak yang masih pada sekolah, kamu tenang aja”, aku memegang tangan Rangga menenangkan.

Rangga tersenyum lega. Kami mengakhiri obrolan karena matahari sudah mulai tenggelam. Kami melangkah menuju ke asrama masing-masing.

Hari wisuda yang ditunggu telah tiba. Keluarga Rangga dari Yogyakarta datang. Mereka sudah mengenalku karena aku sudah dekat dengan Rangga dari semester satu. Aku ditemani kakakku dan kakak iparku saat wisuda. Rasanya sedih sekali tanpa kehadiran orang tua di saat momen seperti itu. Kulihat teman-temanku terlihat bahagia berfoto dengan orang tuanya. Orang tua mereka terlihat bangga. Tak terasa air mataku menetes. Rasanya perih sekali kenapa Tuhan begitu cepat mengambil mereka. Kuusap air mataku dan menenangkan diri. Aku tidak boleh cengeng, aku wanita yang kuat. Ucapku dalam hati kemudian aku berlari menghampiri kakakku untuk berfoto bersama dengan keluarga Rangga.

“Rahma! ada telpon dari Rangga”, teriak kakakku dari lantai bawah.

Aku berlari ke lantai bawah dengan penuh semangat. Mendapatkan telepon darinya selalu membuatku semangat. Setelah acara wisuda itu, Rangga kembali ke Yogya untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya sebelum menemukan pekerjaan yang diinginkannya.

Kami mengobrol di telepon begitu lama, semua aku ceritakan padanya. Dia itu pendengar yang baik. Dia itu humoris dan termasuk gombal juga karena sering membacakan puisi untukku.

“Oia Ma, ada hal serius yang aku mau omongin”, ucap Rangga dengan nada serius.

Aku menghentikan tawaku dan terdiam sejenak, aku takut jika dia mengatakan hal yang tidak ingin aku dengar.

“Jangan-jangan dia dinikahkan di Yogya sama orang tuanya”, pikirku mengada-ada.

“Aku dapat tawaran kerjaan bagus Ma, gajinya gede lho dalam dua taun aku bisa bikin rumah dan beli kendaraan dari gaji itu”, ucap Rangga dengan nada riang.

“Wah, masa sih Ga, kerja apa? di mana?”, tanyaku penasaran.

“Ngajar, jadi guru Ma, tapi…ngajarnya di Malaysia”, ucap Rangga membuatku tambah kaget.

“Malaysia? ya ampun Ga, jauh amat, kamu tinggal di sana, gak pulang-pulang dong?”, tanyaku sedih.

“Ini impianku Ma, aku bisa ke luar negeri, aku harap kamu ngerti ya, ini demi masa depan kita juga”, Rangga menangkap perasaanku.

“Iya tapi untuk berapa lama Gak? Aku gak bakalan ketemu kamu pasti lama”, aku mulai sedih.

“Cuma dua taun Ma, aku dapet info ini dari dosen kita Prof. Anwar, dia punya kenalan di sana, tapi cuma satu buat laki-laki lowongannya coba kalau ada dua kamu bisa ikut”, Rangga menjelaskan.

Aku terdiam. Selama dua tahun aku tidak akan bertemu dengan Rangga itu adalah hal yang berat bagiku. Aku tidak terlalu banyak memiliki sahabat. Hanya Rangga yang bisa jadi sahabatku dan kekasihku.

“Ma, kamu masih di situ kan? Ayolah Ma setelah dua tahun aku kembali kita akan menikah, aku sudah bisa membiayai kuliah adikku dengan gaji sebanyak itu dan buat masa depan kita juga”, Rangga mencoba menenangkanku.

Aku menghela napas panjang. Ini berat tapi ini adalah impian Rangga untuk bisa ke luar negeri. Aku harus mendukungnya.

“Baiklah Ga, aku dukung kamu, mudah-mudahan ini yang terbaik bagi kita, kapan kamu berangkat?”, tanyaku dengan berat hati.

“Makasih ya cintaku, minggu depan berangkat, aku berangkat dari Bandung koq jadi kita bisa ketemu dulu”, ucap Rangga.

Hari perpisahan itu telah tiba. Aku melepas kepergiannya di bandara Husein Satranegara. Ada sesuatu yang membuat aku merasa sedih. Aku seperti akan kehilangan dia selamanya. Aku menangis tersedu-sedu ketika dia melambaikan tangan dan berbalik menuju pintu gerbang menuju pesawat. Aku ingin dia berbalik ke arahku kemudian berlari dan mengatakan bahwa dia tidak jadi pergi. Namun, hal itu tidak terjadi, dia tetap pergi menyongsong masa depannya.

Kami selalu berkomunikasi saling berkirim surat. Setiap suratnya selalu membuatku tersenyum dan berbunga-bunga. Dia selalu menuliskan puisi untukku. Kadang dia menelpon sebentar karena untuk menelpon dari Malaysia ke Indonesia memerlukan biaya tidak sedikit. Surat-surat yang dia kirimkan aku selalu menyimpannya. Yang membuatku senang adalah ketika di amplop surat darinya selalu tertulis “Kepada yang mulia permaisuriku, Rahma Nurmalasari”.

Sudah hampir dua tahun dia bekerja di negeri sebrang. Aku senang karena sebentar lagi dia pulang. Aku berlari menuju rumahku karena hari Jumat biasanya aku mendpatkan surat darinya.

“Teh, ada surat dari Rangga gak?”, tanyaku pada kakakku.

“Enggak ada, eh biasanya tiap Jumat ya suratnya nyampe”, kata kakakku.

Sudah dua minggu aku menantikan suratnya. Aku penasaran kenapa dia tidak mengirimi aku surat. Apa dia sakit? Ah tapi kalau dia sakit pasti menelponku.

Sore itu aku sedang membuat media pembelajaran untuk mengajar esok hari. Aku adalah seorang guru di SMA negeri di Bandung.

“Ma, ini ada surat”, kata kakakku sambil menyimpannya di atas kasur.

Aku terperanjat kemudian duduk di atas kasur dan meraih surat itu. Kubaca amplopnya kini tulisannya berbeda, “Kepada Rahmah Nurmalasari” tidak ada lagi ucapan “yang mulia permasisuriku”. Aku segera membuka amplopnya dan kubaca surat itu.

Yang terhormat Rahma Nurmalasari, kiranya Anda harus tahu bagaimana hukumnya bila seorang perempuan berhubungan dengan lelaki yang sudah menikah, saya adalah Saidah Al Khatiri istri dari tuan Rangga Gusnadi. Kami sudah menikah setahun yang lalu, saya harap Anda mengerti untuk tak lagi berhubungan dengan suami saya, jika Anda adalah wanita baik-baik tentunya Anda akan mengerti, saya kirimkan foto pernikahan kami supaya Anda paham”.

Dadaku sesak, bibirku bergetar, air mataku tak terbendung lagi rasanya sakit sekali. Dari dalam amplop kuambil selembar foto pernikahan. Di sana terdapat Rangga dengan seorang wanita dalam pelaminan adat melayu. Aku tidak percaya kubaca lagi surat itu dan kulihat foto itu. Aku menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul bantal. Kenapa Rangga jahat sekali. Dadaku seperti ditimpa beban yang berat hingga sesak dan air mataku terus berjatuhan. Aku menyalakan musik rock sekeras-kerasnya kemudian aku menangis dan teriak. Aku khawatir kakakku mendengarnya.

“Ma, ada telpon dari Rangga, Ma! buka pintunya, berisik banget sih, MA!”, kakakku teriak memanggilku.

Aku tidak menghiraukannya. Sudah lebih dari lima kali kakakku datang mengetuk pintu memberitahu ada telpon dari Rangga. Mataku bengkak, sudah lebih dari satu jam aku menangis.

“Ma, kamu kenapa sih buka pintunya dong, kamu berantem sama Rangga ya?” tanya kakakku dari luar kamar terdengar cemas.

“Teh, tolong bilang tunggu sebentar ke Rangga, aku ke bawah bentar lagi”, jawabku sambil beranjak bangun.

Bagaimanapun aku harus mengambil sikap. Aku keluar kamarku kemudian turun menuju ruang tengah. Kakakku sedang berada di dapur. Aku duduk dekat telpon rumah. Telpon berdering lalu kuangkat dengan tangan yang gemetar.

“Halo teh, gimana? Rahmanya mau ngomong gak?”, tanya Rangga.

Aku menahan suaraku untuk tidak menangis.

“Ini aku Rangga, aku sudah baca surat yang dikirimkan istrimu”, aku berbicara dengan terbata-bata.

“Ma, maafkan aku, aku terpaksa nikah sama dia karena dijodohkan guruku, jangan kuatir Ma, aku akan cerai dan kembali padamu, kamu sabar ya, tunggu aku, ingat impian kita Rahma”, Rangga meyakinkanku.

Aku berusaha menahan air mataku tapi tak kuasa.

“Tidak usah Rangga, aku tidak tertarik lagi, selamat atas pernikahanmu semoga kamu bahagia, aku bersyukur Allah telah menunjukkan padaku siapa dirimu”, ucapku dengan suara parau. Aku menutup telpon itu. Aku harus tetap melangkah tanpa dia walau saat ini masih menyakitkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here