Spread the love

Panggil Dia Mamah

Penulis: Olis Aisah

Guru SMKN 1 Cikalongkulon


Riska Andini menarik napasnya dengan berat, raut wajahnya yang cantik tertutup awan hitam. Rencana pertunangannya yang akan di gelar lusa dengan Delvian nyaris membuatnya pusing tujuh keliling. Rencana matang pertunangan, yang sudah disiapkan bersama kekasihnya, kini terasa rumit dan acak-acakan setelah ibu kandungnya ikut campur. Mamah yang tak begitu dikenalnya turut mengatur apa yang harus dilakukan Riska sebelum dan saat pertunangan berlangsung.

Seminggu sebelum pertunangan Riska harus memperkenalkan Delvian kekasihnya kepada keluarga besar mamahnya. Itu artinya ada tambahan biaya yang lumayan besar karena saat acara dilaksanakan dialah yang harus menyediakan makan untuk menjamu kerabat yang baru dikenalnya itu.

“Riska kamu harus perkenalkan Delvian dengan keluarga besar mamah sebelum pertunangan, nanti mamah atur waktu dan tempatnya untuk kita bertemu, kalau kamu ingin mamah hadir di acara tunangan kamu.” Itu pesan wa dari mamahnya sehari setelah Riska memberitahu kalau dia akan bertunangan.

Bukan hanya itu, mamahnya juga memintanya untuk dibelikan pakaian baru untuk acara tersebut. Tak sampai disitu mamahnya juga meminta Riska untuk menyediakan penginapan bagi mamahnya dan keluarga besarnya untuk mereka menginap karena acara pertunangan dilakukan di rumah mantan mertuanya yaitu neneknya Riska di Cianjur.

Riska yang sudah terpisah 21 tahun dari mamahnya, karena setelah perceraian kedua orang tuanya, Riska diurus oleh nenek dari bapaknya. Riska merasa kaget dan tidak mengerti jalan pikiran mamanya… yang menurut dia tega, bukan membantu malam ngerepotin. Ada secuil rasa menyesal di lubuk hatinya, dia telah memberitahu dan meminta izin mamahnya kalau akhirnya malah jadi ribet.

Di tengah kegalauannya Riska berusaha ingin menjadi anak yang tau adab terhadap orang tua dan menerima itu semua walau berat Iya berat karena untuk acara pertunangan itu, semua biaya mereka berdua yang menyiapkan. Sudah hampir satu tahun dia menabung untuk acara tersebut. Bisnis kue yang Riska jalani setiap hari, selalu dia sisihkan keuntungannya untuk ditabung. Bukan hanya Riska, Delvian kekasihnya juga melakukan hal yang sama, uang gajinya selain untuk membiayai kuliahnya dia disihkan untuk ditabung guna membiayai acara tersebut.

Sehari sebelum datang, mamahnya mengirim wa lagi. “Ada yang bisa jemput mamah ga? Aduh kayanya mobilnya kurang nih …semua saudara mamah ingin ikut. Terus penginapan udah ada belum, yang pake AC ya karena banyak orang takut kepanasan. ” Setelah membaca pesan mamahnya Riska menepuk jidatnya, mukanya ditekuk tanda kesel.

“Aduh Nek, gimana nih? Mamah malah ngerepotin, ya udahlah datang syukur ga juga ga apa-apa, ga usah di jemput juga.” Ucapnya dengan muka cemberut.

“Emang ada apa lagi, Ris?” Mak Itoh bertanya kepada cucunya.

“Itu mamah, minta dijemputlah, minta di sediakan penginapan ber-AC lah emangnya ga pake duit ?” Riska menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Iya sudah, ga usah dipakai pusing lihat besok saja datang ga?, mending kamu bereskan bikin kuenya biar bisa istirahat.”

“Ada apa ini ponakan Ateu yang cantik, kok marah sih?” Tante Ellena

“Ada apa ini ponakan Ateu yang cantik, kok marah sih?” Tante Ellena nimbrung.

“Itu Tan, Fania Helina bikin pusing.,” Ucap Riska enteng.

Tante Ellena mengangkat telunjuknya dan menggelengkan kepala beberapa kali.

“Ga boleh begitu sayang, bagaimanapun dia mama kamu dan biasakan panggil dia mamah. Memang kenapa dengan mama kamu,Riska?”

Riska menceritakan semua tingkah ibu kandungnya yang bikin dia pusing.

“Saran Tante sayang, kamu tetap harus berlaku baik sama mamahmu, karena beliaulah kamu ada.”

“Iya sih Tan, tapi aku dan Ade susah untuk berbuat baik sama dia.”

“Loh kok dia, panggil mamah sayang, apa kalian ga merasa punya mamah?” Nada bicara Elena meninggi.

“Mamah ga ada rasanya Tan, dari kecil aku dan Ade ga pernah tau rasanya punya mamah. Aku hanya tau rasanya punya nenek yang sayang sama kami.” Riska memeluk adik dan neneknya.

“Emang kamu ga pernah ketemu, diajak jalan atau apalah oleh mamahmu?” Riska dan Raina kompak menggeleng dan mengatakan tidak.

Ellena memeluk kedua gadis malang itu, “Iya, mungkin mamah kalian salah tapi menurut Tante kalian harus tetap berbuat baik sama mamahmu. Insyaallah apa yang kalian lakukan akan dibalas dengan balasan berlimpah berupa kemudahan dan pahala surga oleh Allah.”

“Insyaallah Lena, mereka anak-anak baik. Besok ketika mamahnya datang pasti akan diperlakukan dengan baik.” Nenek Itoh menengahi.

Matahari bersembunyi dibalik awan, langit tampak hitam tak lama kemudian hujan turun deras, tenda yang sudah terpasang tadi pagi nampak tersingkap tertiup angina. Disaat yang bersamaan keluarga Delvian dan rombongannya datang. Riska dan beberapa saudaranya menyambut kedatangan rombongan dengan membawakan payung. Ada 4 mobil masuk halaman rumah Mak Itoh dan diperkirakan ada 20 orang yang datang bersama Delvian. Mereka nampak lelah karena perjalanan jauh, Riska dibantu saudaranya menyuguhkan aneka kue buatannya. Setelah istirahat dan makan rombongan di tempatkan di rumah Teh Cicih yang memang sengaja disiapkan untuk keluarga Delvian.

Setelah undur rombongan Delvian tak lama kemudian rombongan Fania mamahnya Riska datang di rumah Nek Itoh, tak kalah banyak dengan rombongan Delvian.

Raina yang sering berucap, ” Mamah aku adalah Nenek, aku ga mau mamah Fania.”kini dia bertemu dengan ibu kandungnya. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu.

“Sini Ade sayang.” Fania berusaha ramah kepada anak keduanya.

Rania gadis yang berusia 21 satu tahun itu, melangkah menghampiri mamahnya, dia berusaha mencium tangan mamahnya dan semua keluarga besarnya mengikuti Riska kakaknya yang sudah lebih dulu bersalaman. Raina jauh lebih tidak beruntung dibanding Riska bagi Raina tidak ada kenangan apapun tentang mamahnya, semenjak dia ingat dia hanya tahu Nenek. Tapi kini mamahnya datang dan dia merasakan pelukan mamahnya setelah dia tumbuh menjadi seorang gadis dewasa. Setelah istirahat
rombingan Fania diantarkan ke sebuah rumah yang disewa untuk menginap keluarga Fania.

Kini di rumah Mak Itoh hanya ada adik-adiknya yang sedang memasak menyiapkan sajian untuk acara pertunangan besok pagi.

Riska dan Rania berada di kamar,”De, mamah ngasih kado ke kakak.” Riska memperlihatkan sebuah tas berwarna coklat kepada adiknya.

“Lumayan Kak, bagus.” Ucap Raina

“Kakak mau kasih ke Nenek, Nenek pasti suka,” Nenek lebih berhak menerima sesuatu dari mamahnya karena selama ini neneklah yang telah menggantikan tugas mamahnya mengurus mereka berdua.

Minggu pagi di rumah Nenek Itoh sudah tampak bersiap, sepasang kursi sudah disiapkan untuk kedua insan yang akan bertunangan, Riska sedang didandani seorang juru rias. Meja untuk parasmanan sudah ditata , di atasnya 6 set parasmanan yang sudah berisi aneka masakan yang tercium wanginya menggoda selera. Tante Ellena yang dipercaya untuk mengurus semuanya tampak mondar-mandir mengecek semuanya. Setelah dianggap beres Tante Ellena berganti pakaian dengan setelah baju muslim warna baby pink.

Pukul 9.00 rombongan Delvian datang dengan membawa seserahan, keduan orang tua Riska yang berstatus bukan suami istri lagi sudah siap menyambut rombongan di depan pintu diikuti oleh keluarga lainya termasuk Tante Ellena. Semua rombongan dipersilakan masuk mendekati tempat yang disediakan untuk Riska dan Delvian. Acara dibuka oleh pembawa acara dengan membaca basmalah, dilanjutkan dengan sambutan pihak keluarga Delvian mengutarakan maksud dan tujuan kedatangannya. Kemuadian dilanjutkan dengan sambutan penerimaan oleh keluarga Riska, selanjutnya perkenalan dua keluarga besar.

Acara puncak yang paling ditunggu-tunggu dari acara ini yaitu ketika Delvian harus menjawab pertanyaan MC, dia harus mendeskripsikan Riska di mata Delvian, kapan awal ketemu, sudah berapa bersama atau menjalin hubungan, Delvian dengan serius menjawab semuanya dengan gayanya dan ini membuar yang hadir tertawa bahagia.

Ketika Delvian mengutarakan maksud untuk mempersunting dan mengajak Riska menikah, Mc mengundang Riska untuk keluar dari kamar. Riska tampah cantik dan anggun dalam balutan kebaya peac dan kain batik warna senada. Riska berdiri di samping Delvian yang terlihat sangat serasi. Riska didaulat MC untuk langsung menjawab maksud Delvian apakah di terima atau tidak, dengan lantang dan mantap Riska menjawab bahwa dia menerima Delvian sebagai calon suaminya dan siap untuk menikah, maka tepuk tangan terdengar bergemuruh di rumah Mak Itoh. Semua orang yang hadir bernapas lega dan bahagia terutama dua insan yang sedang jatuh cinta.

Acara terakhir adalah pemasangan cincin oleh mamahnya Delvian, ditutup dengan sungkem Riska dan Delvian kepada orang  tua Riska dan orang  tua Delvian. Riska memeluk  mamahnya  seraya berbisik, ”Terima kasih ya Mah udah mau datang, doakan juga Riska dan Delvian berjodoh dan dimudahkan segalanya sampai hari H nanti,” terlihat keduanya saling menatap sebelum melepaskan pelukan.

Tante Ellena yang duduk tak jauh dari kakaknya Mak Itoh, mengusap punggung kakaknya yang terlihat hampir menangis karena bahagia. Mak Itoh hari itu bahagia karena Riska bisa berdamai dengan dirinya sendiri, dengan mau menerima mamahnya dihadapan keluarga besar Delvian calon suaminya.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here