Mutiara Hidup Mama

0
385
Spread the love

Oleh: Bimo Tringga Winarya (Siswa SMK PP Cianjur)

“Ceraikan aku mas.” Ucap seorang wanita dengan nada tinggi kepada lawan bicaranya yaitu suaminya sendiri.

            “Dari dulu itu yang aku mau.” Ujar suami dari wanita itu dengan nada sedikit tinggi tapi tidak melebihi oktaf suara istrinya tadi.

            Air mata jatuh mengalir di pipi wanita itu. Sorot kecewa terlihat jelas di matanya. Hatinya teramat sakit mendengar pernyataan suaminya. “Seharusnya kamu bilang mas kalau kamu sudah nggak sanggup lagi dengan aku. Seharusnya dari dulu kamu kembalikan aku kepada mama papaku. Kenapa mas kenapa.”

            “Mau tau alasannya.” Tanya laki laki itu. Wanita itu hanya diam dengan air mata yang masih membasahi pipinya.

            “Alasannya cuman satu. Aku tetap bertahan sama kamu, dulu aku mengira suatu hari nanti sikap kamu akan berubah, makanya setiap hari aku selalu berusaha menjadi suami terbaik untuk kamu. Nyatanya apa, aku gagal menjadi suami untuk kamu, aku gagal menjadi ayah untuk Ais dan Ansyah. Aku gagal.” Sudah lama, laki laki itu tidak menangis. Dan hari ini dia sudah tidak tahan lagi, buliran air mata terjun dengan bebasnya. Ia merasa gagal menjadi seorang suami dan ayah untuk anak istrinya.

            “Ini juga salah kamu sendiri mas, kamu sibuk terus menerus di kantor, sibuk terus di mesjid, kamu kapan di rumahnya.”

            “Aku di kantor bukan main main, aku banting tulang nyari uang buat kamu buat Ansyah dan Aisyah. Buat pendidikan mereka, buat makan kita sehari hari, yang salah tuh kamu. Kemana aja kamu seharian ini HAH, liat Ais, masih kecil udah kamu suruh masak, suruh nyuci baju, suruh ngepel lantai, suruh nyapu rumah. Kerjaan kamu apa HAH. Pikiran kamu dari dulu shopping shopping shopping, ngabisin duit aku.” Ucap laki laki itu dengan kerasnya. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya itu.

            “Tunggu beberapa hari lagi, surat cerai akan aku kirim. Dan anak anak akan aku bawa, biar aku dan Annisa yang akan merawat mereka.”

            “Nggak, anak anak akan tetap disini dia pasti butuh seorang ibu bukan ayah.”

            “Ibu macam apa kamu HAH, nggak becus ngurus anak. Pokoknya biar aku dan Annisa yang ngerawat Ansyah dan Aisyah.”

            “Terus kamu becus jadi seorang ayah HAH.” 

            Keduanya cekcok dengan hebatnya, meskipun begitu suaminya tetap berlapang dada dan berusaha untuk bersikap tenang.

            “Oke daripada begini, mending Ansyah sama Aisyah yang menentukan diri sendiri, mereka akan ikut dengan siapa.”

            “Oke.”

            “Abang Ansyah, adek Ais turun dulu yuk.” Panggil laki laki itu dengan mendongakkan kepalanya sedikit berteriak memanggil anak anaknya yang sedang berada di kamar mereka di lantai dua rumahnya.

            Mendengar panggilan dari sang papa, keduanya turun ke bawah mendekati mama papa mereka. Setelah keduanya sampai dihadapan papanya. Laki laki itu menatap putra sulungnya

            “Bang, papa boleh nanya sama sesuatu sama abang.” Tanya laki laki itu kepada anak sulungnya.

            “Nanya apa pa.” Ansyah balik bertanya.

            “Abang mau ikut papa atau mau ikut mama.”

            Heran dengan pertanyaan sang papa, membuat Ansyah bertanya lagi. “Kenapa papa bilang gitu.”

            “Karena mama dan papa nggak bisa bersatu lagi sayang, jadinya mama dan papa memutuskan untuk berpisah.”

            Air mata anak laki tiga belas tahun itu mengalir, dia syok mendengar kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah. “Tapi kenapa pa. Ansyah sayang banget sama mama dan papa, kalau ada masalah kenapa jalannya harus berpisah.”

            “Papa nggak tau sayang. Mungkin Allah sudah mentakdirkan papa dan mama untuk bercerai.”

            Ansyah berusaha tegar, dia percaya Allah pasti memberikan takdir yang terbaik untuknya, mungkin saja ini takdir yang Allah. Namun sekuat apapun dia menahan tangisnya, dia tetap menangis. Dimana sih ada anak yang tidak sakit hati mendengar orangtuanya akan bercerai.

            “Ansyah, nurut aja sama pilihan dari Aisyah. Karena Ansyah ingin terus bersama Aisyah.”

            Laki laki itu takjub dengan pernyataan anaknya, kini pandangannya beralih ke putri kecilnya.

            “Ais sayang, papa mau tanya sama Ais boleh.”

            “Tanya apa pa.”

            “Ais mau ikut papa atau ikut mama.”

            “Mau ikut dua duanya boleh gak pa.” Aisyah bertanya balik dengan lugunya, umurnya masih sepuluh tahun wajar saja jika dia menjawabnya begitu.

            “Nggak boleh sayang, harus milih satu.”

            “Yaudah Ais pilih ikut mama aja, soalnya Ais takut nanti papa sibuk kerja terus, ninggalin Ais sendiri.” Jawab Aisyah.

            Pernyataan anak bungsunya membuat laki laki itu berdiri mematung, dengan tatapan datar. Sedangkan istrinya tersenyum senang.

            “Sekarang sudah jelaskan, Ansyah dan Aisyah lebih memilih aku daripada kamu. Sekarang kamu pergi dari sini. Aku sudah muak liat muka kamu mas.”

            “Oke, selamat. Semoga dengan kepergian ku ini. Kamu bisa menjadi seorang ibu yang lebih baik lagi.”

            “Ansyah, jadi abang yang baik ya buat Aisyah, jangan nakal, jangan buat mama marah dan kesal oke. Papa titip Aisyah ke Ansyah.” Lanjutnya melangkah pergi keluar pintu rumahnya. Malam ini merupakan malam terburuk bagi Ansyah dan Aisyah, karena malam itu juga merupakan malam penderitaan mereka dimulai. Terutama pada si kecil Aisyah

            Lima tahun kemudian…..

            Semilir angin pagi yang memberikan efek memenangkan dan segar pada para pejuang sepertiga malam. Di saat orang lain tidur pulas dibawah selimut hangat dan kasur yang empuk. Seorang gadis bangun untuk menemui pencipta-Nya di keheningan, kesunyian, serta kedamaian malam.

            Gadis itu duduk bersimpuh bermunajat pada sang Khaliq, mengadukan semua keluh kesahnya di atas hamparan sajadah. Tak lupa air matanya selalu menemaninya dan selalu menjadi saksi pada waktu ini. Dia selalu melirih dihadapan penciptanya tanpa menunjukan lirihan tersebut pada siapapun di muka bumi ini.

            Siti Aisyah Humairah Al Fikra, nama gadis itu. Gadis yang lima tahun lalu masih bisa manja dengan papanya, harus berubah menjadi seorang gadis yang kuat, berjuang menentang kerasnya hidup, berjuang mati matian demi mencari kebahagiaan sejatinya.

            Kini ia tinggal bertiga dengan kakak laki lakinya bernama Muhammad Ansyah Al Fikar. Dan mama tercintanya bernama Larasati Musyrifah. Sedangkan ayahnya pergi meninggalkan ketiganya, karena sebuah takdir yang terus berjalan, dan membuat keluarga kecil mereka harus terpecah belah. Ayahnya bernama Muhammad Fikri Al Basyar.

            Setelah itu, Aisyah berdiri mengambil Al Qur’an kecilnya, lalu membaca salah satu surat dari 5 surat favoritnya yaitu Al Waqiah.

            Al Waqiah merupakan surat ke-56 dalam Al Qur’an yang berisikan 96 ayat. Surat yang memiliki arti ‘Hari Kiamat’ ini juga termasuk golongan Makkiyah.

            Surat Al Waqiah memiliki keutamaan yang terkandung di dalamnya. Sebab, Al Waqiah disebut sebagai salah satu surat yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW.

            Hal ini dibuktikan dalam hadis sahih, di mana saat itu Abu Bakar ash-Shiddiq RA berkata kepada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, engkau telah beruban.” Beliau pun menjawab, “Aku beruban karena surat Hud, Al-Waqiah, Al-Mursalat, An-Naba, dan At-Takwir.”

            Bahkan dalam riwayat dari Ibnu Mas’ud mengatakan, Rasulullah kerap menggabungkan dua surat menjadi satu atau disebut surat an-Nazhair saat melaksanakan salat malam. Salah satu surat yang dibaca di antara dua surat tersebut adalah Al Waqiah.

            Jika dilihat dari artinya, Al Waqiah memang membicarakan hari kiamat. Namun, secara terperinci surat ini juga membahas beberapa hal penting lainnya.

            Di antaranya adalah cara mempersiapkan diri untuk menghadapi hari pembalasan, memupuk keimanan, gambaran kematian seseorang, kekuasaan dan cara mendapatkan ridho Allah SWT, serta penjelasan tentang tiga golongan manusia yang nanti akan ada di hadapan Allah SWT.

            Surat Al Waqiah juga dipercaya dapat menghindari umat Muslim dari kekafiran. Pernyataan ini diriwayatkan oleh az-Zaila’iy:

            “Barang siapa yang membaca surat Al Waqiah di setiap malam, maka tidak akan tertimpa padanya kemiskinan.”

            Berdasarkan hadis ini, Ibnu mas’ud menyuruh putrinya untuk membaca surat Al Waqiah di setiap malam.

            Makna ‘kemiskinan’ pada bacaan tersebut memiliki arti yang umum. Maka dari itu arti kemiskinan tersebut tidak hanya dikaitkan secara material, tetapi juga secara spritual, seperti kemiskinan hati atau akhlak budi merujuk kekafiran.

            Seusai mengaji, Aisyah bersiap siap mengerjakan sholat subuh. Di saat inilah hatinya selalu merasa tenang, Aisyah seperti tidak memikirkan dunia yang terus berjalan dan menghantui perasaannya. Ia terus fokus berkomunikasi dengan Allah, mungkin syetan pun lama lama akan menyerah dengan sikap Aisyah yang selalu taat pada Allah. Menurut Aisyah Waktu tahajjud sampai waktu subuh adalah waktu persiapan untuk menghadapi kerasnya dunia ini.

            Setelah melaksanakan kewajiban sebagai hambanya yang taat, Aisyah bergegas ke bawah, mengerjakan segalanya yang ada di rumah ini. Mulai dari mencuci baju, mengepel lantai, menyapu, mencuci piring, menyetrika baju, dan banyak hal lagi yang Aisyah lakukan. Bahkan terbilang semua dikerjakan oleh Aisyah. Kakaknya pernah menawarkan diri untuk membantu karena iba dengan dirinya yang sangat kelelahan, namun Aisyah selalu menolaknya, bukan apa, karena ia takut jika ketauan oleh Laras, kakaknya membantu dirinya. Laras tak segan segan akan menyiksa dan mengurungnya di dalam kamar.

            Sejak kejadian Aisyah yang dikurung dan disiksa, Ansyah tidak pernah membantu Aisyah lagi, karena bukan meringankan beban Aisyah malah menambah beban baginya. Kecuali kalau Laras sedang di luar, menghabiskan uang yang dikirimkan Fikri untuk Aisyah dan Ansyah dengan shopping sana sini bersama rekan rekannya hingga larut malam.

            Pagi ini cuaca sedang sangat baik baiknya, embun pagi mulai menari bertetesan di atas daun daun. Matahari masih canggung untuk bersinar, cahayanya masih di gulung gumpalan mirip kapas berwana putih.

            Kini Aisyah sedang mempersiapkan makanan untuk mama dan kakaknya. Dari pagi buta bahkan sebelum matahari terbit, Aisyah sudah berkutat di rumahnya sibuk sendiri. Mamanya tidur lagi setelah sholat subuh, kakaknya sembunyi sembunyi membantu Aisyah, setelah dirasa Laras sudah bangun. Ansyah buru buru balik ke kamar lagi.

            Laras datang ke meja makan, dan mendapati beberapa makanan sedang berjejer.

            “Ini kamu yang masak Ais.” Tanyanya agak sinis.

            “Iya Ma. Aisyah yang bikin. Ansyah dari tadi di kamar kok.” Yang menjawab adalah Ansyah, sebenarnya Ansyah juga membantu Aisyah memasak, namun Aisyah itu terlalu suci dan sangat jujur, kadang kejujurannya itu malah membuatnya terjebak masalah. Maka dari itu Ansyah terpaksa berbohong, demi keselamatan Aisyah. Semoga Allah memaklumi hal ini. Aisyah hanya diam, tidak membantah pernyataan Ansyah.

            “Yasudah sini Syah makan deket mama.” Laras memanggil anak sulungnya.

            Ansyah mengangguk sambil menggandeng tangan Aisyah, mengajaknya untuk makan bersama. Namun Laras dengan angkuhnya menahan Aisyah untuk duduk.

            “Berapa ulangan Fisika kemarin.”

            “100 Ma.” Jawab Aisyah sejujurnya, tanpa ada kebohongan yang ia sembunyikan.

            Laras tersenyum tipis “Okey bagus, karena kamu sekarang nilainya 100, nih ambil nasi, garamnya ada di dapur.” Ucap Laras. Aisyah hanya mengangguk tidak berani membantah, sedangkan Ansyah menatap Aisyah kecewa, kenapa sih adiknya itu terlalu nurut sama mamanya, sesekali bantah kek, lawan kek.

            Aisyah membawa piring dan nasinya lalu melangkah ke dapur untuk mengambil sejumput garam serta menaburkannya di atas nasi. Dan duduk lesehan di dapur. Melihat hal itu, Ansyah mengambil satu paha ayam jatahnya untuk adiknya. Biarlah dirinya tidak merasakan nikmatnya paha ayam, karena kebahagiaan Aisyah juga terasa nikmat baginya.

            “Mau kemana kamu.” Tanya Laras pada Ansyah.

            “Aku mau kasih ayam goreng ini buat Aisyah ma.” Balas Ansyah.

            “Gak perlu, makanan Aisyah cukup segitu. Gak perlu di tambah tambah.”

            “Tapi ma-.”

            “Kamu mau ngelawan sama mama, yang ngelahirin kamu yang ngebesarin kamu.” Ucap Laras agak meninggi. Membuat Ansyah kikuk dibuatnya, Ansyah pun duduk kembali di kursi meja makan, dan memandangi Aisyah dari kejauhan yang sedang berbicara tanpa suara.

“Gapapa bang, abang makan aja, lagian ini enak kok.” Ucap Aisyah tanpa suara tapi Ansyah paham dengan yang Aisyah katakan, tak lupa dengan senyum yang selalu terukir diwajahnya. Ingin rasanya Ansyah kabur membawa Aisyah, dan pergi meninggalkan mamanya untuk mencari kebahagiaan. Tapi rasanya itu mustahil, karena Laras pasti akan menghalalkan segala cara untuk mencari dirinya dan Aisyah, dan jika ketahuan. Tak tega dan tak segan menjadikan Aisyah sebagai korban pelampiasannya.

            Ansyah hanya menunduk menatap makanan sesekali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.

            “Kamu yang kuat ya Ais, tungguin abang satu tahun lagi, dan Ais bakal keluar dari kesengsaraan ini.”

            Suasana sarapan pagi ini sama seperti hari biasanya, hening tanpa suara dari mulut manusia. Hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.

            Setelah sarapan selesai, Aisyah bangkit dari duduknya dan bersiap siap untuk berangkat ke sekolah. Dan Ansyah pun melakukan sama halnya yang dilakukan oleh Aisyah. Sedangkan Laras kembali ke kamar dan membawa dompet coklatnya yang sedikit besar.

            “Ini buat Abang Ansyah.” Laras menyodorkan uang selembaran 20.000 kepada anak sulungnya.

            Pandangan Laras kini berpindah pada Aisyah “Dan ini buat Ais.” Ucapnya sambil menyodorkan uang selembaran 2.000 kepada anak bungsunya. Aisyah hanya mengangguk, sudah biasa dia diperlakukan seperti ini. Lafadz ucapan syukur selalu di sematkan pada mulut gadis SMP itu. Karena ia selalu berpikir, banyak orang di luaran sana yang tidak seberuntung dirinya.

            Ansyah hanya menatap iba pada Aisyah, dan protes kembali pada Laras.

            “Ma, jangan gitu dong, kasian Ais. Dia kan sekolah dari pagi sampe sore. Masa mama kasih dua ribu sih.”

            “Dua ribu itu cukup buat anak SMP seumuran Ais, lagian kan Ais gak suka jajan. Iya kan Ais.”

            Aisyah mengangguk lagi sambil tersenyum.

            “Tuh kan, Ais juga setuju. Yaudah berangkat sekolah gih nanti kalian telat.”

            “Ya Allah Ais, jangan tersenyum untuk sesuatu yang tidak pantas kamu untuk senyum. Kamu juga punya harga diri, jangan mau diinjak mama terus, sampai kapan kamu akan kuat seperti ini, maafkan abang Ais yang belum bisa bahagiain Ais.” Lirih Ansyah dalam hatinya.

            Ada perasaan tak rela dalam hati kecil Ansyah, adik tercintanya di perlakukan seperti itu oleh mama nya sendiri bahkan setiap hari.

            Setelah Laras pergi, Ansyah dan Aisyah melangkah keluar menuju satu satunya kendaraan yang dipunyai keluarga ini, yaitu motor beat milik Ansyah hadiah dari Aisyah.

            Awalnya Ansyah menolak karena motor ini sangat mahal, berpuluh puluh tahun Aisyah mengumpulkan uang, rela tidak jajan, hanya untuk memberikan hadiah yang paling terbaik untuk kakaknya. Namun Aisyah selalu bilang. “Ini itung itung pengorbanan abang untuk Ais, itung itung ucapan terima kasih dari Ais untuk abang karena selalu membela, menjaga, dan membesarkan Ais semenjak papa pergi meninggalkan kita.”

            Sejak saat itu Ansyah berusaha untuk menjadi kakak yang lebih baik lagi untuk Aisyah, walaupun nggak akan sebaik dan sebanyak pengorbanan Aisyah untuk dirinya.

            Setelah helm terpasang di kepala keduanya, Ansyah melajukan motornya dengan sangat hati hati. Sepanjang perjalanan Ansyah terus fokus melihat jalanan, sesekali melihat wajah cantik Aisyah dibalik kaca spion motornya.

            “Laki laki yang dapetin kamu sangat beruntung Ais. Kamu udah cantik, berhati malaikat lagi. Andai kamu bukan adik abang, udah abang lamar hari ini juga, semoga nanti kamu dapetin imam yang tepat ya Is.”

            Beberapa menit Ansyah melajukan motornya, akhirnya mereka sampai di dua sekolah yang letaknya berdempetan. Ansyah menghentikan motornya, dan membantu Aisyah untuk turun dari motor. Setelah adiknya turun, Ansyah mengeluarkan uang dari saku celananya.

            “Nih abang kasih buat Ais.”

            Aisyah menggelengkan kepalanya, dan memberikan uangnya kembali kepada Ansyah. Hal ini membuat Ansyah jengah dengan sikap Aisyah.

            “Ais, pliss jangan tolak lagi uang ini. Abang tau Ais sangat butuh untuk kebutuhan sekolah Ais, kamu jangan pura pura Ais, abang nggak suka sama sikap Ais yang selalu pura pura bahagia padahal menderita. Cara apalagi sih yang harus abang lakuin buat Ais, abang capek liat Ais menderita.” Katanya dengan nada sedikit membentak

            Bukannya sedih atau sikap apapun yang menunjukkan dia sedang terpuruk. Aisyah malah tersenyum lebar, seakan dunia sedang berpihak padanya.

            “Cukup dengan abang dan mama di samping Ais. Ais bahagia bang.”

            Ansyah kesal dan mengacak ngacak rambutnya sambil berteriak. Membuat Aisyah sedikit takut.

            “Arghhhhhhh.”

            “Ya Allah sampai kapan Aisyah akan paham dan mengerti, bahwa dunia ini tidak akan pernah berpihak padanya. Ya Allah hamba rela menderita, tapi dengan satu syarat, Aisyah bahagia.” Ucap Ansyah sedikit berteriak.

            Aisyah membalas perkataan Ansyah dengan santainya.

            “Sampai Allah menjemput dan mengambil Aisyah bang. Dan ingat satu hal bang, jangan menangisi takdirnya Ais bang. Ais nggak suka kalau abang nentang takdir terbaik yang Allah kasih buat Ais. Jangan buat Allah marah bang.”

            Ansyah menangis, dan memeluk Aisyah dengan sangat erat. Di lihat dari segi manapun Aisyah lebih dewasa dibandingkan dengan Ansyah. Kini keduanya sedang menyalurkan perasaan hangat satu sama lain.

            “Astaghfirullahaladzim, astagfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, Ya Allah maafkan kesalahan hambamu ini.”

Aisyah tersenyum. “Iya bang, pasti Allah akan maafin orang sebaik abang, yang penting abang janji jangan pernah mengusik apapun takdir yang Allah kasih buat abang maupun buat Ais. Ais takut kalau nanti abang gitu lagi Allah akan marah sama abang.”

            Siapapun yang mendengar perkataan dari gadis lima belas tahun ini, pasti akan tercengang seperti halnya Ansyah.

            “Makasih ya Ais, udah mau jadi ibu abang yang selalu ada buat abang, jangan pernah pergi ya Is dari kehidupan abang.” Ucap Ansyah melepas pelukannya dari Aisyah.

            Lagi lagi Aisyah tersenyum. “Iya bang, abang jangan nangis lagi yah. Kan kebahagiaan Ais kalau liat abang sama mama bahagia.”

            Di zaman sekarang adakah yang semulia dan sebaik Aisyah. Mungkin banyak yang berpendapat nggak ada, karena Aisyah itu terlalu sempurna. Aisyah sangat suci, dan banyak lagi pendapat. Namun banyak orang juga yang berpendapat ada, itu semua tergantung pendapat kita masing masing.

            “Abang, Ais masuk duluan yah.” Pamit Aisyah pada kakaknya sambil mencium punggung tangan kanannya.

            Raut muka Ansyah kini berubah menjadi perasaan yang lebih bahagia. Bahkan sekarang senyumnya lebih lebar daripada senyum senyum yang ia biasa tebarkan pada adiknya.

            “Iya Is, hati hati yah.”

            “Oke.”

            Keduanya saling berpisah dan melangkah menuju gerbang sekolah masing masing. Aisyah berada di kelas 9.4 yang kebetulan letak kelasnya berada di depan dekat sekali dengan gerbang sekolah. Setelah di kelas, Aisyah duduk dengan manis di bangku depan, beberapa temannya sudah datang dan sedang asyik mengobrol dengan teman sebangkunya.         

Aisyah merasakan pusing yang sangat hebat di kepalanya, namun ia tetap berusaha untuk menyembunyikan hal itu dari siapapun. Beberapa menit kemudian, seorang perempuan berhijab putih nan anggun bernametag Anandita Kayla Al Husein atau sering dipanggil Kayla yang tak lain adalah sahabat dan teman sebangkunya.

            “Assalamualaikum Ais.” Salam Kayla dengan senyuman manis yang ia tampilkan pada Aisyah

            “Waalaikumussalam Kakay.” Balas Aisyah berusaha tersenyum.

            Melihat wajah Aisyah yang memucat putih pasi, membuat Kayla panik sembari bertanya. “Ais kamu sakit.”

            “Nggak tuh. Aku sehat kok.” Alibi Aisyah. Aisyah berbohong agar diri orang lain nggak panik. Sedangkan dia jujur ketika itu menyangkut masalah pribadinya.

            Kayla merasakan panas ditangannya ketika ia menempelkan punggung tangan kanannya di dahi Aisyah. “Kamu panas banget Ais, aku anterin ke UKS yah.”

            Aisyah menggelengkan kepalanya. “Nggak usah Kay, aku nggak papa kok.”

            “Yakin?”

            “Iya Anandita Kayla Al Husein.”

            Kayla tersenyum dan memutuskan untuk bertukar cerita hangat tentang diri Aisyah dan dirinya, Aisyah terus saja menceritakan dirinya yang sedang berbahagia, tanpa pernah sedikitpun dia menceritakan kesedihannya dihadapan sahabatnya itu.

            Beberapa menit menunggu akhirnya seorang guru datang ke kelas 9.4

            “Assalamualaikum anak anak.” Sapa ibu tersebut. Sambil membawa beberapa berkas. Ibu itu bernama Ibu Indah

            “Waalaikumussalam ibu.” Balas mereka kompak.

            “Karena hari ini adalah hari bebas, oleh karena itu ibu hanya akan mengumumkan hasil nilai ulangan akhir semester sekarang.”

            Setelah semua di sebutkan satu satu. Dan terakhir Bu Indah menyerukan nilai ulangan Aisyah.

            “Siti Aisyah Humairah Al Fikra, nilai yang paling besar seangkatan dengan nilai yang hampir sempurna.”

            Mendengar kata “hampir sempurna.” Membuat Aisyah diam menegang.

Biologi 100
Agama 100
Bahasa Indonesia 100
Bahasa Inggris 100
Kimia 100
IPS 100
Matematika 100
Prakarya 100
Olahraga 100
Bahasa daerah 100
Seni budaya 100
Fisika 98

            Semua orang yang berada di kelas ini bertepuk tangan, bahkan ada yang bersorak gembira. Sedangkan Aisyah dan Kayla hanya diam. Kayla tau semua permasalahan yang Aisyah alami, Aisyah selalu dituntut oleh mama nya untuk selalu mendapatkan nilai yang sempurna. Kayla tau hal ini, karena tidak sengaja melihat semua rentetan kejadian antara Aisyah dan Laras ketika ia sedang belajar di rumahnya Aisyah.

            Kala itu Aisyah menyimpan kertas hasil ulangan nya di tas, tanpa ada niat menyembunyikannya dari Laras. Dan Laras pun melihat hasil nilai ulangan Aisyah yang nilainya 98, hal itu membuat Laras murka pada Aisyah. Laras secara terang-terangan memarahi dan menyiksa Aisyah di depan Kayla. Saat itu Kayla hanya diam saja, ia juga takut kepada Laras. Dia hendak melaporkan semua kejahatan Laras pada polisi namun Aisyah selalu melarangnya, dan meminta Kayla untuk menyembunyikan hal ini dari siapapun. Sejak saat itu Aisyah tidak memperbolehkan siapapun untuk masuk ke dalam rumahnya.

             Setelah pengumuman selesai dibacakan. Bu Indah pamit keluar ruangan kelas 9.4

            “Kamu gapapa Ais.” Tanya Kayla.

            “Nggak papa kok Kay, cuman takut aja.”

            “Mama kamu masih nuntut nilai sempurna.” Tanya Kayla.

            “Orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat anaknya Kay.”

            “Tapi ini berlebihan Siti Aisyah Humairah Al Fikra.” Ucap Kayla dengan nada kesal. Kenapa sih Aisyah selalu membela mamanya yang salah

            “Idih lebay lo.” Celetuk seseorang dari belakang, bernama Risa.

            Kayla menoleh, dan menatap sinis ke arah Risa. “Maksud lo apaan.”

            “Lo kagak bersyukur ya Is, nilai segitu masih aja takut.” Sembur Risa

            Kayla bangkit dari bangkunya hendak mendekati Risa, tanpa bisa dicegah oleh siapapun.

            “Lo kagak pernah tahu kehidupannya Aisyah. Bajingan.”Ucap Kayla dengan nada tinggi

            “Emang gue siapa nya Aisyah, pake harus tau kehidupan Aisyah. Ogah banget gue harus tau seluk beluk si beban ini.”

            “Lagian Lo tuh bukan tuhan, Aisyah, yang harus sempurna. Lo itu manusia kelas bawah mana mungkin bisa sempurna.” Lanjut Risa

            Ucapan Risa membuat Aisyah sedikit terluka di relung hatinya. Kayla menatap Risa dengan tatapan jengah.

            “Banyak bacot lo Anjing.” Kayla langsung menjambak rambut Risa. Dengan cepat tangan Risa menarik hijab Kayla. Hingga hampir terbuka auratnya. Aisyah berusaha melerai keduanya, namun mereka masih bersikukuh tidak mau ada yang mengalah.

            Kayla terus memukuli kepala Risa, dan Risa pun membalas hal yang sama. Hingga tak sadar pukulan tersebut mengenai kepala Aisyah yang berusaha memisahkan mereka. Dan membuatnya merasakan pusing yang sangat hebat sebelum akhirnya dia pingsan.

            “AISSSS.” Pekik Kayla.

****

            Satu jam kemudian, Aisyah sadar, kedua mata cantiknya perlahan membuka. Pandangannya masih buram, namun tak lama dari itu pandangannya kembali jelas dan melihat seseorang sedang menunggunya. Dan ia menghampiri Aisyah yang sedang terbaring di atas kasur UKS.

            “Ais kamu udah sadar.” Tanya perempuan itu, ternyata dia Kayla.

            “Aku dimana Kay.”Aisyah bertanya balik kepada Kayla, matanya mengedarkan melihat sekeliling ruangan itu.

            “Kamu di UKS Ais.”

            Aisyah berusaha bangkit, namun kepalanya masih merasakan pusing yang hebat jadi ia kembali lunglai di kasur UKS.

            “Jangan bangun dulu, kamu masih pusing. Mending tiduran lagi.”

            Bukan Aisyah namanya jika ia tidak keukeuh untuk melihat orang lain tenang, dengan segala kekuatannya Aisyah duduk agar Kayla tidak dibuat panik oleh dirinya.

            Aisyah melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul 09.00.

            “Aku sudah satu jam yah pingsannya.”

            Kayla mengangguk. “Iya Is, maafin aku yah. Gara gara aku tadi kamu kena imbasnya.”

            Aisyah tersenyum, senyuman yang selalu membuat orang lain menyangka hidup Aisyah sangat baik baik saja, padahal sebaliknya.

            “Gapapa Kay, makasih yah udah ngebelain Ais. Tapi Ais nggak suka cara Kakay belain Ais. Lain kali jangan bilang kasar lagi yah, Ais takut kalau Allah marah sama Kakay. Dan jangan emosi ya, Ais gak mau punya sahabatyang pemarah, maunya punya sahabat yang sabaran ngehadapin sikap Ais.”

            Mendengar hal itu kedua mata Kayla berkaca kaca, dan mengeluarkan dua tetes air mata sekaligus mengenai pipi chubbynya lantas memeluk sahabatnya itu dengan sangat erat.

            “Makasih udah merhatiin Kakay, Kakay suka banget perhatian dari Ais. Perhatian Ais hampir sama dengan bunda. Tapi Kakay nggak suka Ais terus terusan mikirin orang lain. Ais juga butuh perhatian, butuh kasih sayang. Butuh kebahagiaan. Maaf Kakay belum bisa ngasih itu semua seperti Ais kasih kepada Kakay.”

            Aisyah sedikit bingung menjawab pertanyaan Kayla, namun dengan nada santai Aisyah menjawabnya. “Ais nggak butuh apapun di dunia ini. Yang Ais butuhin cuman satu, orang yang Ais sayangi bahagia. Maka dengan sendirinya Ais pun bahagia. Maka dari itu Kakay terus bahagia yah, kalau mau liat Ais bahagia.”

            Kayla melepaskan pelukannya.” Iya pasti Is, Ais jangan pernah ninggalin Kakay yah.”

            “Diusahakan yah, Ais nggak bisa janji.” Ucap Aisyah diakhiri senyuman yang meneduhkan siapa saja yang melihatnya.

            “Ratu Aisyah, apakah anda mau minum.” Ujar Kayla bangkit berdiri sambil setengah membungkuk mengikuti gerakan seperti pelayan istana. Aisyah yang melihat itu terkekeh.

            “Apaan sih Kay.”

            “Mulai hari ini kamu akan menjadi ratu dan aku akan menjadi pelayan untuk Ratu Siti Aisyah Humairah Al Fikra, Gak ada penolakan.”

            “Gak mau nanti aku malah keterusan menganggap kamu pembantu.” Ucap Aisyah dengan lugunya, membuat Kayla terkekeh.

            “Ishh Kakay aku serius, nggak mau ada ratu sama pembantu.”

            “Iya deh, aku bawain dulu teh anget yah.”

            “Nggak usah Kay, biar Ais aja yang bawa.” Aisyah bangkit kembali, namun hanya sebentar, kepalanya merasakan pusing kembali. Ia hampir saja terjatuh untung saja Kayla menahannya.

            “Tuhkan ngeyel, udahlah Ais nurut sama Kakay sekali ini aja. Ais duduk dulu, Kakay mau ngambil air di ruang BK, kata anggota PMR air disini belum di isi ulang.”Aisyah mengangguk lantas melihat Kayla pergi meninggalkannya.

****

            Jam sudah menunjukkan pukul 15.00, matahri mulai condong tenggelam ke ufuk barat. Cahayanya masih menerangi alam dunia ini, panasnya pun mulai berkurang tidak seperti beberapa jam sebelumnya. Bel sekolah Aisyah sudah berbunyi dari tadi. Aisyah ingin menunaikan sholat ashar terlebih dahulu di mesjid sekolahnya baru setelah itu ia akan pulang. Kayla sudah dari tadi dijemput ayahnya. Aisyah melangkahkan kakinya menuju mesjid.

            Setelah selesai mensucikan diri, Aisyah langsung memasuki mesjid sekolahnya. Dan murajaah hafalan Qurannya sembari menunggu adzan ashar berkumandang.

             Sesekali terhenti mana kala ada seseorang datang. Bukannya ia tidak mau, melainkan ia malu pada dirinya sendiri, bacaannya belum sesempurna orang lain, belum sefasih orang lain. Dan ia tidak ingin orang lain berpikiran macam macam, cukuplah Allah menjadi saksi bahwa ia telah beramal kebaikan untuk dirinya di surga kelak.

             Beberapa menit bermurajaah, lantunan adzan mulai menggema di dalam mesjid maupun area sekolah. Hatinya selalu merasakan sejuk dan nyaman ketika berada di dalam mesjid, mungkin ini sebuah hadiah kecil dari Allah untuk hambanya yang selalu taat padanya.

            Allah akan menjadi saksi, bahwa Aisyah adalah hamba yang sangat taat, seperti Nabi Ayub as. Di segala cobaan dan keterpurukan, Aisyah mampu menghadapi ini semua dengan senyuman yang terus menghiasi wajah cantiknya, tanpa pernah sedikitpun untuk menyerah lalu melupakan penciptanya.

              Setelah selesai melaksanakan sholat, seperti biasa Aisyah selalu berdzikir dan berdoa kepada Allah SWT. Seusai itu ia bergegas melangkah keluar mesjid untuk pulang ke rumah.

            Sekarang Aisyah tengah berada di depan gerbang sekolahnya Ansyah, Ansyah meminta Aisyah untuk pulang bersamanya. Lima belas menit berlalu, Ansyah tidak menunjukkan batang hidungnya. Lantas Aisyah bertanya pada seseorang.

            “Assalamualaikum kak.” Salamnya pada seorang perempuan, tanpa lupa senyuman yang selalu ia tampilkan

            “Waalaikumussalam, ada apa dek.”

            “Kak, kakak tau gak Kak Ansyah pulangnya kapan.”

            “Ouh Kak Ansyah yang demisioner Ketua OSIS.” Tebak perempuan itu. Aisyah mengangguk, kakaknya itu sangat terkenal dimanapun, baik di sekolahnya bahkan di luar sekolah pun banyak yang mengenalnya. Lain halnya dengan Aisyah yang sifatnya tertutup, Aisyah tidak banyak dikenal banyak orang, hanya segelintir orang saja yang mengetahui Aisyah.

            “Kak Ansyah, eskul pramuka dulu dek.”

            “Kapan ya kak pulangnya.” Aisyah bertanya lagi.

            “Palingan jam 5 dek.”

            “Ouh iya makasih kak.”

            “Iya dek sama sama, kakak duluan yah. Assalamualaikum” Pamitnya, perempuan itu sangat ramah kepada Aisyah.

            “Iya kak Waalaikumussalam.”

               Tidak lama dari itu Aisyah memutuskan untuk pergi pulang sendiri, karena agak kelamaan menunggu Ansyah pulang.

            Setapak demi setapak ia lalui, jalanan yang agak licin sedikit akibat hujan gerimis tadi membuat Aisyah harus lebih hati hati dalam melangkah. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang laki laki.

            “Assalamualaikum Ais.” Laki laki itu berdiri mematung, menatap Aisyah dengan tatapan sendu.

            “Waalaikumussalam, maaf kamu siapa.” Tanya Aisyah dengan sedikit ketakutan.

         Tanpa perintah apapun, laki laki itu memeluk Aisyah dengan sangat eratnya, Aisyah langsung berusaha melepaskan pelukan laki laki itu.

            “Kamu siapa HAH, lepasin Ais.”

            “Kamu nggak kenal papa Ais.” Ternyata laki laki itu adalah Fikri, papa Aisyah dan Ansyah.

               Mendengar hal itu, Aisyah yang balik memeluk papanya dengan sangat erat.

            “Ais kangen pa.” Ucap Aisyah dengan tersedu sedu di telinga Fikri.

            “Papa juga kangen Ais.”

          Keduanya saling memeluk, bertukar rasa rindu yang terus menyapa mereka, yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa. Namun kini semua menjadi nyata, doa yang mereka panjatkan bersatu dan bertemu di langit yang sama.

            “Ais bahagia gak sama mama.” Tanya Fikri, setelah melepas pelukannya.

            “Bahagia banget pa, mama baik banget.” Jawab Aisyah dengan sejujurnya.

         Mungkin menurut kita masa sih Aisyah bahagia, dimana letak kebaikannya Laras. Yang menurut Aisyah mamanya itu sangat baik.

            “Ais jangan bohong, abang kamu suka bilang kamu sering di siksa sama mama lebih dari apapun, buktinya ini Ais panas, mata sembab. Masa sih Ais bahagia.”

          Aisyah tersenyum. “Bahagianya Ais, ketika melihat orang yang Ais cintai bahagia.”

            “Tapi Ais, bahagia mama itu liat Ais menderita. Apa itu definisi bahagia untuk Ais.”

            “Nggak papa pa, selagi Allah masih memberikan kekuatan untuk Ais, supaya Ais bisa membahagiakan mama. Ais rela mengorbankan apapun itu.”

             Fikri menangis melihat kondisi anaknya kini. Bekas luka menjadi penghias wajah nya, fisiknya yang keliatan lemah, namun dia tetap saja menebarkan senyum dan kebahagiaan untuk orang lain.

            “Ais ikut papa yuk, di rumah papa Ais bakal bahagia selamanya, gak akan ada lagi penderitaan yang Ais alami.”

             Aisyah menggelengkan kepalanya. “Ais nggak tega pa ninggalin mama sendirian, Ais nggak akan pernah meninggalkan mama.”

             Fikri menatap Aisyah dengan tatapan kecewa, tapi mau bagaimana lagi, sekuat apapun niat baiknya. Aisyah tetap akan memilih mamanya.

            “Oke kalau Ais nggak mau ikut papa, tapi sekarang Ais mau apa dari papa. Semua papa akan beliin.”

            “Nggak perlu pa. Ais cuman minta doa dari papa agar Ais bisa menjalani takdir ini dengan baik, dan doakan Ais biar bisa masuk surga.”

         Fikri hanya menatap datar, agak sedikit kecewa sih. Namun disisi lain juga dia bangga terhadap Aisyah.

            “Kamu dijamin masuk surga Ais, tanpa perlu papa doain lagi. Kamu terlalu baik, dan terlalu sempurna. Allah tidak akan pernah membuatmu susah di akhirat nanti.”Batin Fikri.

“Ais pamit dulu ya pa, kita berdoa lagi ya pa, semoga Allah mempertemukan kita lagi.” Ujar Aisyah tanpa melupakan senyumannya, Fikri pun mengangguk.

“Kalau begitu Ais pamit duluan yah pa, Assalamualaikum.”

            “Waalaikumussalam.” Jawab Fikri memandangi punggung anak bungsunya.

            Matahari mulai terbenam di ufuk barat, jalan raya yang Aisyah tapaki mulai ramai dengan kendaraan roda dua maupun roda empat. Mungkin ini karena jam kerja sudah usai. Aisyah terus berjalan, sesekali terhenti karena kelelahan. Jarak yang ditempuh pun tidak dekat, butuh satu jam berjalan kaki untuk sampai dari sekolah ke rumah Aisyah.

****

            Beberapa alat tulis dan buku tebal milik Aisyah tergeletak hancur begitu saja di atas lantai ruang tengah. Tas hitam miliknya pun sudah tidak berbentuk lagi.

            “APA APAAN INI NILAI FISIKA 98.” Bentakan kasar keluar dari mulut Laras. Ketika melihat hasil ulangan Aisyah

            “OTAK KAMU KEMANA AISYAH.”

            “KURANG KERAS KAH DIDIKAN MAMA UNTUK KAMU AISYAH, BUKANNYA BERTAHAN MALAH BERKURANG.”

            “MAU MAMA KERASIN LAGI HAH, KAMU HARUS JADI PEREMPUAN YANG BERKUALITAS AIS, JANGAN KAYAK MAMA. DISIA SIAIN PAPA.” Laras terus saja membentak Aisyah.

            “JAWAB AISYAH.” Laras mengangkat mulut Aisyah. Aisyah hanya pasrah dan tertunduk ketika Laras terus saja membentaknya.

            “Kalau tidak ada respon apapun berarti kamu setuju untuk mama kerasin lagi.” Laras langsung menyeret Aisyah masuk kedalam kamar

            “Mama sakit.” Jerit Aisyah saat tubuhnya bergesekan dengan keramik lantai rumahnya.

            Laras yang tidak peduli dengan Aisyah, menghiraukan jeritan Aisyah. Laras menginginkan anak perempuannya sempurna, agar dia tidak akan pernah disia siakan laki laki diluaran sana.

            Setelah di dalam kamar. Laras mengunci pintu kamarnya dan mengambil sebuah ikat pinggang di lemari pakaiannya. Langsung memukuli Aisyah dengan ikat pinggang yang ia bawa.

            “Hiks.” Isakan Aisyah terdengar amat memilukan, tapi Laras sama sekali tidak tersentuh.

            “INI HUKUMAN YANG PANTAS BUAT KAMU AISYAH, KARENA KAMU NGGAK MENURUTI PERINTAH MAMA.” Sentak Laras, tangannya masih sibuk berkutat memukuli Aisyah. Jeritan terus keluar dari bibir cantik  Aisyah. Alih alih merasa iba, Laras malah semakin menjadi jadi menyiksa Aisyah. Bahkan tak segan menendang kepala Aisyah hingga berdarah.

            Di luar, Ansyah yang baru saja pulang sekolah, panik setengah mati mendengar seseorang menjerit di dalam rumahnya. Tanpa mengucapkan salam apapun langsung berlari ke arah sumber suara jeritan. Ternyata berasal dari kamar mamanya.

            “KAMU MENDING MATI AISYAH, DARIPADA KAMU HARUS SAKIT HATI OLEH SEORANG LAKI LAKI.”

            Jeritan itu adalah jeritan Aisyah yang sedang disiksa oleh mamanya. Ansyah berusaha membuka pintu kamar mamanya, namun usahanya nihil, kamarnya terkunci kuat.

            “Ma, buka pintunya, mama kenapa mukulin Ais.” Ansyah terisak, laki laki itu tidak bisa membayangkan kondisi adik kesayangannya sekarang. Laras tidak menghiraukan ucapan Ansyah dan terus saja memukuli dan menendang tubuh Aisyah.

            “DASAR ANAK SIAL, BAJINGAN, GARA GARA KAMU, PAPA KAMU MENCERAIKAN MAMA.” Umpat Laras.

            Dengan segala tenaganya Aisyah berusaha memegang tangan mamanya.  “Ma, Ais minta maaf.”

            “GAK ADA KATA MAAF UNTUK ANAK PEMBAWA SIAL.”

            “Aisyah.” Pekik Ansyah saat mendapati Aisyah dengan kondisi yang mengenaskan. Beberapa menit Aisyah disiksa, Ansyah berhasil mendobrak pintu, dan melihat adiknya sudah lemah. Beberapa tetes darah mengotori keramik kamar Laras. Ansyah buru buru mendekati Aisyah, dan memeluk adiknya. Ia tidak memperdulikan  pakaian pramukanya yang sudah berlumuran darah.

            “Maafin abang Ais.”

            Aisyah menatap Ansyah dengan senyuman yang terus saja sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dari wajah cantiknya.

            “Ais, nggak papa bang. Ais sehat kok.” Hanya orang bodoh yang menganggap Aisyah baik baik saja

             Lama memeluk Aisyah, Ansyah mengalihkan pandangannya pada mamanya dengan penuh kebencian.

            “BANGSAT LO ANJING, LO APAIN ADIK GUE.” Sentak Ansyahn kepada Laras yang membuat Laras terkejut. Sudah cukup Aisyah bertahan, sudah cukup pula Ansyah melihat adiknya menderita.

            “KAMU BERANI NGELAWAN MAMA.” Sahut Laras dengan nada yang tinggi.

            “CIH NGGAK SUDI GUE NGANGGEP LO SEBAGAI IBU GUE, LO CUMAN BAJINGAN YANG HANYA BISA NGELAMPIASIN AMARAH LO KE ORANG YANG NGGAK PERNAH TAU MASALAH KEHIDUPAN LO.”

            “BERANI KAMU NGELAWAN MAMA YANG NGELAHIRIN DAN NGEBESARIN KAMU MUHAMMAD ANSYAH AL FIKAR.”

            Aisyah yang mendengar perdebatan hebat antara kakak dan mamanya, berusaha untuk menenangkan kakaknya.

            “DIEM AISYAH, INI URUSAN ABANG, JANGAN KAMU IKUT CAMPUR.” Sentak Ansyah kepada Aisyah, untuk pertama kalinya ia membentak adiknya itu.

            “GUE GAK BAKALAN KAYAK GINI, KALO LO SENDIRI NGGAK GITU SAMA ADIK GUE. ITU SEMUA GARA GARA LO SENDIRI YANG NGGAK BISA NGEHARGAIN PAPA, TERUS KENAPA LO LUAPIN NYA KE AISYAH BANGSAT.”

            Laras memandangi wajah anaknya yang penuh amarah, sebisa mungkin ia bersikap tenang.

            “Mama hanya ingin Aisyah jadi perempuan yang nggak pernah disia siain laki laki lain.”

            “NGGAK GITU JUGA CARA NGEDIDIKNYA TOLOL, LO MIKIR, LO TERUS TERUSAN NUNTUT AISYAH BUAT DAPET NILAI YANG SEMPURNA. SAMPAI KAPANPUN AISYAH NGGAK AKAN  BISA, DIA BUKAN TUHAN, ANJING.”  Ansyah terus membentak Laras.

            Suara keras Ansyah membuat Laras merasakan sesak. Laras mulai merasakan sesak dan sakit di area jantung sebelah kanannya. Ia berusaha untuk tetap kuat berdiri, namun sia sia. Dia langsung pingsan.

            Ansyah hanya berdecih.” Cih, drama lo basi.” Setelah itu Ansyah berlari mendekati Aisyah.

            “Kita ke rumah sakit sekarang.” Kata Ansyah to the point, namun Aisyah menolaknya. Dan selalu mengatakan tidak apa apa.

            “Tapi kamu harus ke dokter sayang, kamu udah parah banget.” Lanjut Aisyah.

            Aisyah menggeleng lagi.” Mending abang bawa mama aja yang ke dokter.” Kenapa di situasi ini juga Aisyah terus saja memikirkan seseorang yang telah menyiksanya.

            “Buat apa, abang ngurusin si bajingan itu.”

            “Astagfirullah abang, Ya Allah Ais nggak nyangka abang bilang itu ke mama.”

            “Gaperlu merasa kasian sama orang gila itu.”

            “Bang bagaimanapun itu mama kita bang, orang yang ngelahirin kita orang yang ngebesarin kita dari kecil.”

            “Orang yang ngerawat abang dari kelas 1 SMP itu kamu SITI AISYAH HUMAIRAH AL FIKRA.” Ucap Ansyah, sedikit geram dengan adiknya yang selalu membela Laras.

            “Tapi abang harus inget, yang ngorbanin nyawa nya untuk abang siapa bang kalau bukan mama. Mama berjuang 9 bulan agar anak yang dikandungnya sehat ketika lahir ke dunia ini. Terus yang ngerawat abang dari bayi banget siapa lagi kalau bukan mama, Ais hanya sebentar bang. Lalu balasan apa yang abang berikan buat mama, gak ada kan, abang malah terus terusan memarahi mama.”

            Ansyah hanya menunduk, kata kata Aisyah selalu saja membuatnya terdiam dan ingin menangis.

            “Abang inget hadist yang pernah papa ajarkan untuk kita. Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, dan murka allah tergantung pada orang tua. Kalau orang tua marah otomatis Allah juga marah.”

            Detik ini juga si kuat Ansyah kalah lagi oleh kata kata Aisyah, ia menangis lagi. Tak ada seorang di dunia ini yang mampu membuat Ansyah menangis kecuali adik bungsunya ini yang sekarang sedang terluka.

            Ansyah menggendong Aisyah ke kamarnya, lalu mengobati Aisyah dengan penuh cinta. Setelah selesai Ansyah kembali ke kamar Laras dan menggendongnya keluar dari kamar.

            “Ais abang bawa mama dulu ke rumah sakit ya.”

            “Iya bang semangat, semoga abang kuat. Sambil jalan jangan lupa bacain mama sholawat, biar Allah memberikan mama keselamatan.”

            Ansyah mengangguk, namun ketika ia ingin melangkah Aisyah memanggilnya lagi.

            “Abang.”

            “Iya dek.”

            “Makasih udah buat Ais bahagia, terima kasih segala galanya, makasih udah jadi pahlawan buat Ais, makasih udah ngerawat Ais dari kecil, makasih udah mau jadi papa kedua Ais, Ais bangga banget punya kakak seperti abang. Ais berharap abang bahagia untuk selamanya.” Ucap Aisyah diakhiri senyuman. Ansyah pun membalasnya dengan senyuman.

            Dengan sekuat tenaga, Ansyah berjuang menggendong Laras. Butuh waktu setengah jam Ansyah menggendong Laras menuju rumah sakit. Langkahnya kini diberkahi oleh bacaan sholawat, sesuai pesan Aisyah padanya. Tanpa sadar Ansyah telah sampai di rumah sakit, dan berteriak memanggil suster.

            “SUSTERRR.”

            “DOKTER”

            Seorang dokter dan suster mendekati Ansyah.

            “Pasien ini kenapa.” Tanya dokter itu pada Ansyah.

            “Mama saya kena serangan jantung dok.”

            “Ya Allah, suster tolong ambilkan brankar.” Titah dokter tersebut kepada seorang suster yang sedang bersamanya. Suster itu langsung berlari mengambil brankar. Setelah brankar itu sampai dihadapan Ansyah. Ansyah langsung memposisikan Laras di atas brankar itu, dan berlari bersama dokter dan suster yang sedang mendorong brankar tadi.

            “Mama yang kuat yah, maafin kesalahan Ansyah ma.”

            “Mama bisa.”

            Setelah sampai di ruangan UGD, suster melarang Ansyah untuk masuk kedalam ruangan itu. Dengan berlapang dada Ansyah mengangguk, karena itu sudah menjadi prosedur rumah sakit.

            “Semangat ma.”

Ansyah hanya bolak balik tidak karuan, sesekali membaca sholawat seperti yang Aisyah katakan. Hatinya tidak bisa merasa tenang, ketika melihat mamanya yang berjuang karena ulah dirinya. Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar. Tanpa basa basi apapun Ansyah langsung menanyakan keadaan mamanya.

            “Gimana keadaan mama saya dok.”

            “Saat ini kondisi Ibu Laras, kritis. Kita harus melakukan tindakan operasi, dan membutuhkan donor jantung yang cocok untuk dirinya, kalau tidak, kemungkinan hidup Ibu Laras hanya 5%.”

            Seketika pertahanan Ansyah runtuh, hatinya begitu sakit mendengar mamanya yang sedang kritis. Dia bingung harus mencari pendonor jantung darimana untuk Laras.

            “Boleh saya masuk dok.”

            “Boleh, silahkan, saya pamit dulu. Permisi.”

            Ansyah membuka pintu ruangan tempat mamanya dirawat, dan menatap sedih ketika melihat mamanya terbaring lemah diatas ranjang sedang berjuang.

            “Maafkan Ansyah ma, gara gara Ansyah mama jadi gini.”

            Di sisi lain Aisyah sedang membeli sebuah kado kecil berupa boneka beruang, karena mamanya sangat suka dengan bonek beruang. Diam diam tanpa memberitahukan siapapun, Aisyah pergi ke sebuah toko untuk memberikan hadiah untuk mamanya di hari ibu tepatnya dua hari lagi. Ditemani hujan, Aisyah terus saja menerobos jalanan, tak pernah Aisyah menyerah meskipun dirinya sedang sakit dan rintikan hujan yang sedang menerpa dirinya. Setelah sampai di toko boneka Aisyah dengan sangat telaten memilihkan boneka beruang terbaik untuk mamanya. Dan meminta seorang pelayan toko itu untuk membungkuskan boneka itu dan sebuah surat kecil untuk mamanya. 

***

            “Aisyah kamu dimana.” Teriak Ansyah ketika Aisyah tidak ada di tempat tidurnya.

            Sebelumnya dia mengabarkan Fikri bahwa Laras masuk rumah sakit.  Dengan cepat Fikri langsung menuju rumah sakit tempat mantan istrinya dirawat. Setelah sampai di ruangan Laras di rawat, Fikri melihat Ansyah dan menuruhnya pulang untuk berganti pakaian, dan istirahat. Awalnya dia menolak dan ingin terus bersama mamanya, dengan sabar Fikri mensehatinya hingga ia menuruti perintahnya.

            “Aisyah kamu dimana.” Ansyah masih berteriak, mencari keberadaan adiknya di dalam rumah. Dirasa Aisyah tidak ada di rumah. Ansyah berlari keluar tanpa memperdulikan di luar sedang hujan.

            Hujan terus saja mengguyuri diri Ansyah, tapi tak pernah menggugurkan semangatnya untuk mencari adiknya. Beberapa orang yang lewat, Ansyah tanyai satu persatu tentang Aisyah, tapi tak ada satupun yang tau dimana keberadaan Aisyah.

            “Kamu dimana dek.”

            Ansyah yang setengah panik mencari keberadaan Aisyah, dikejutkan dengan gerombolan orang dijalanan. Ansyah bertanya kepada seseorang yang tadi ikut bergerombol.

            “Pak ada apa ya kok pada bergerombol.”

            “Ada tabrakan mas, dan korbannya seorang gadis berhijab.” Jawab bapak itu.

            Ansyah agak sedikit cemas, namun dia tetap berbaik sangka. “Ciri ciri nya seperti apa Pak.”

            “Wahh saya kurang tau mas, saya hanya melihat nya sepintas, kalau mas mau tau liat saja ke sana.”

            Ansyah pun mengangguk sambil mengucapkan terima kasih kepada bapak itu lantas berlari menuju kearah gerombolan tersebut. Setelah melihat siapa korbannya. Ansyah berteriak.

            “AISYAHHH.” Teriaknya sambil mendekati Aisyah. Ansyah langsung menangis memeluk Aisyah yang sudah berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.

            “AISYAH KAMU KENAPA DEK.”

            “KAN KAMU LAGI SAKIT, KENAPA MAIN HUJAN HUJANAN.”

            “Pak tolongin adik saya pak.” Pinta Ansyah kepada bapak bapak yang sedang menggeromboli dirinya dan Aisyah. Bapak bapak tersebut langsung menggotong Aisyah dan memasukkinya ke dalam mobil taksi yang sedang lewat. Dan Ansyah pun masuk di dalamnya, memeluk adiknya, bersama seorang bapak bapak.

            “Pak bagaimana ini bisa terjadi.” Tanya Ansyah dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.

            “Adek ini lagi nyebrang, dari arah berlawanan ada sebuah truk yang remnya ngeblong ditambah dengan jalanan yang licin. Alhasil adek ini ketabrak dan kelindas dibagian perutnya.”

            “Ouh iya dek ini ada barang, yang adek itu peluk ketika ia tertabrak.” Ansyah pun menerimanya dan membaca luaran kado tersebut.

            Untuk mamaku tercinta

            Ansyah tidak berani membukanya, karena kado ini bukan haknya. Lama di dalam mobil taksi, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat yang sama ketika Laras di rawat.

            Aisyah langsung diambil alih oleh suster yang sedang berjaga, dan membawanya ke ruang UGD. Lagi lagi Ansyah dilarang untuk masuk ke dalam. Ansyah menunggu diluar dan bolak balik cemas sambil menelepon Fikri, beberapa menit kemudian Fikri datang  dan langsung memeluk Ansyah.

            “Maaf semua masalah ini gara gara papa. Coba aja waktu itu papa nggak nyerah dan terus bersama kalian. Mungkin kejadian ini nggak bakalan terjadi.”

            “Bukan pa, ini bukan salah papa. Semua ini salah Ansyah yang gagal menjaga amanah papa.”

            Setelah itu dokter yang sama dengan dokter yang merawat Laras keluar. Kali ini Fikri yang menanyakan kepada dokter.

            “Gimana keadaan anak saya dok.”

            Dokter itu hanya menunduk.” Maaf Allah berkehendak lain, Aisyah dinyatakan meninggal dunia. Karena pendarahan yang hebat menimpa dirinya.”

            Mendengar hal itu Ansyah dan Fikri syok berat, dan menjerit bersamaan menyebut nama Aisyah. Bahkan Fikri sampai marah marah ke dokter yang baru saja mengucapkan Aisyah meninggal.

            “Ais, andai abang tau kata kata dan senyuman tadi merupakan senyuman dan kata kata Ais yang terakhir. Abang akan bilang dan teriak Ais nggak boleh ngomong dan nggak boleh senyum lagi.” Batin Ansyah

            “Makasih udah buat Ais bahagia, terima kasih segala galanya, makasih udah jadi pahlawan buat Ais, makasih udah ngerawat Ais dari kecil, makasih udah mau jadi papa kedua Ais, Ais bangga banget punya kakak seperti abang. Ais berharap abang bahagia untuk selamanya.” Ucap Aisyah diakhiri senyuman. Ansyah pun membalasnya dengan senyuman.

            Kalimat itu akan selalu ia ingat, bahwa adiknya kini telah bahagia dan telah mendapatkan sesuatu yang baik baginya. Dan sangat yakin adiknya akan sangat bahagia dibanding dirinya

            “Makasih Ais atas segala galanya, tunggu abang di syurga ya dek.”

****

            Setelah dua hari Laras menjalani masa kritisnya, akhirnya ia tersadar. Lalu ia membuka kelopak matanya secara perlahan dan melihat putranya yang sedang duduk menunggunya sambil membaca Al Qur’an.

            “Mama dimana.” Tanyanya lemah.

            Ansyah yang mendengar itu, terkejut sekaligus senang.

            “Mama di rumah sakit.”

           Seketika Laras menangis, sedangkan Ansyah bingung. Laras menangis tanpa sebab.

          “Kenapa mama nangis.”

          “Kenapa kamu baik sama mama, mama udah jahat sama kamu Syah.”

 Ansyah tersenyum. “Ada seseorang ma yang buat Ansyah jadi gini, yang udah ngasih tau Ansyah tentang segalanya, yang udah ngasih tau Ansyah tentang perjuangan mama. Ansyah minta maaf ma udah ngebentak mama hari itu, udah kasar sama mama. Maafkan Ansyah ma, Ansyah menyesal.” Giliran Ansyah yang menangis, ada rasa penyesalan dalam dirinya karena telah durhaka pada ibunya sendiri.

          “Seharusnya mama yang minta maaf, mama yang suka buat Ansyah marah sama mama. Maukan Ansyah maafin mama.”

            Ansyah mengangguk lantas memeluk Laras. Rasa syukur Ansyah selalu ucapkan dalam hatinya. Pengorbanan Aisyah merubah sikap Laras tidak akan pernah sia sia meskipun dirinya sudah tiada.

            Laras mengedarkan pandangannya, dan melihat sekeliling mencari keberadaan putri bungsunya.

            “Adik kamu mana Syah, dan gimana keadaannya mama pengen minta maaf sama Ais.”

Ansyah hanya diam sejenak, kemudian menjawab pertanyaan mamanya. “Aisyah ada kok ma, bahkan dia udah sehat dan udah sembuh seperti sedia kala.”

            “Mana Syah, tolong panggilkan.”

            Ansyah berdiri dan keluar ruangan tempat Laras di rawat. Kemudian Ansyah kembali lagi masuk ke dalam dan membawa bingkai foto dan sebuah kotak.

            “Ini ma Aisyahnya, cantik yah.” Ucap Ansyah memberikan foto Aisyah kepada Laras.

            “Apa maksud, kamu Syah.” Tanya Laras bingung.

Ansyah langsung menangis lagi dengan sangat keras.  “Maaf ma udah boong, sebenernya Aisyah udah nggak ada. Hari mama tidur waktu itu, menjadi hari tidur pula bagi Aisyah. Aisyah meninggal karena tertabrak dan terlindas truk. Dan sekarang Ansyah kangen banget sama Ais.”

            “Nggak mungkin, Aisyah anak yang kuat. Kamu boong kan Syah, jangan jangan Aisyah udah nyiapin surprise buat mama.”

            Ansyah menggelengkan kepalanya menatap sedih mamanya.”Nggak ma, Aisyah udah beneran ninggalin kita.”

            Jeritan keras Laras terdengar di langit langit ruangan dia di rawat. Sedih rasanya, dia belum sempat minta maaf pada anak bungsunya, dia ingin memeluknya untuk terakhir kalinya.

             “Ya Allah kenapa harus anakku yang engkau ambil, kenapa ya Allah bukan aku saja.”

            “Istighfar ma istighfar.”

             “Ais maafin mama Ais, maafin segala kesalahan mama.” Ucap Laras dengan penuh kesedihan dan kerinduan. Tapi sekarang percuma Aisyah sudah meninggalkannya untuk selama lamanya.

            “Ais pasti maafin mama kok, hati Ais kan seperti malaikat. Nggak mungkin mama nggak dimaafin.”

            Laras hanya menangis sambil terbaring lemah. Jika ditanya apa keinginan nya sekarang, hanya satu yaitu Aisyah kembali, dan ia berjanji akan terus menyayangi dan menjadi ibu yang baik baginya, namun semua hanyalah angan yang tak akan pernah terwujudkan. Kini dia harus rela menerima Aisyah tidak akan pernah kembali di kehidupannya.

             “Nanti kalau mama udah sembuh, kita main yuk ke rumah baru Ais, pasti Ais seneng liat mama main ke rumah barunya.” Hibur Ansyah. Laras mengangguk sambil tersenyum.

             “Ouh iya ma, ini ada kado terakhir dan terindah dari Ais buat mama. Sebenarnya hadiah aslinya udah hancur, cuman Ansyah beli lagi yang baru.    Tapi untuk hasil tangan cantik Aisyah, Ansyah nggak pernah ganti.”

            Ansyah membantu membukakan kado untuk Laras dari Aisyah. Dan didapati boneka beruang kesukaan Laras dari kecil hingga sekarang. Dan sebuah surat kecil dari tulisan tangan milik Aisyah yang sangat rapi dan indah, meskipun hampir rusak akibat dari kecelakaan yang menimpanya.

             Dear Mama Laras, mamaku tercantik dan terbaik sepanjang masa.

Assalamualaikum mama cantik. Semoga Mama bahagia selalu yah.

Ais mau ngucapin “Selamat Hari Ibu” Yeayy Ais seneng. Makasih mama udah rawat Ais dari kecil, makasih udah mau nganggep Ais sebagai anak mama, makasih udah menaruh harapan tinggi pada Ais yang menandakan mama ingin sekali Ais sukses. Beribu ribu kata makasih mungkin nggak akan pernah bisa membalas jasa mama.

            Insya Allah dalam tahun ini mama lebih bisa dekat lagi dengan Allah dan lebih bisa bijaksana, dan lebih bisa bermanfaat bagi orang lain.

          Kenapa ya Ais punya firasat mama butuh donor jantung? Ahh nggak mungkin mama pasti sehat, Ais yakin mama kuat hanya perasaan Ais aja, tapi intinya kalau mama butuh donor jantung itu, ambil aja ma Ais ikhlas. Dan jika nanti Ais udah nggak ada, dan mama rindu sama Ais hahaha Ais geer banget yah ma. Mama tinggal usap aja letak jantung Ais di donorkan untuk mama.

         Maaf ya ma kalau Ais cuman bisa ngasih boneka beruang, semoga mama suka. Ais cuman dikasih tau papa kalau mama itu suka boneka beruang. Dan satu lagi kalau mama kangen seseorang peluk aja boneka beruang itu.

          Ais pengen deh jadi mutiara yang berharga di hidup mama, tapi kayaknya akan lama deh, tapi Ais yakin suatu hari nanti Ais akan jadi mutiara yang berharga di hidup mama. Mama Ais titip Bang Ansyah yah, tiap malem dia suka manja haha.

         Teruntuk Bang Ansyah, makasih yah atas segalanya, abang akan selalu menjadi kakak terbaik yang Ais punya, dan Abang akan selalu ada di hati Ais.Abang jangan marah lagi sama mama ya, kalau kejadian lagi. Ais bakalan ngambek beneran, nggak mau main lagi sama abang.

        Semoga mama, Bang Ansyah, dan papa juga selalu bahagia yah meskipun bahagianya pas Ais udah nggak ada. Semoga kita bisa berkumpul lagi di surga-Nya nanti Aamiin.

        Cianjur, 20 Desember 2021

       Dari gadis yang penuh dosa

     Siti Aisyah Humairah Al Fikra.

-SELESAI-

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here