Mukena Usang

0
10
Spread the love

Oleh Olis Aisah
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Jam baru menunjukkan pukul 02.30 menit, seperti biasanya Bu Esih sudah terbangun dari tidur lelapnya untuk melaksanakan salat sunah tahajud dan salat  sunah lainnya.  Setelah bersih-bersih dan berwudhu dia kembali ke kamarnya.  Bu Esih mengambil mukena yang tergantung di kastop yang ada di balik pintu kamarnya.  Ketika dia akan memakai mukena  itu, tak sengaja tangannya  meraba bagian kepala samping kanan yang robek.  Bu Esih tertegun seketika kemudian  menilik bagian robek itu, apakah masih bisa diperbaiki atau tidak.

Bu Esih memutuskan untuk tidak jadi memakai mukena berwarna  gold itu dan mengembalikan mukena itu ke tempatnya.  Kemudiian Bu Esih membuka lemari untuk mengambil mukena berwarna putih yang berhias renda kecil berwarna merah.  Setelah selesai  salat perhatian bu Esih tertuju lagi pada mukena warna  gold yang robek. Bagi Bu Esih mukena itu memiliki makna lebih dibandingkan sederet mukena yang dia beli,  sehingga mukena itu lebih sering dipakai dibanding mukena lainnya.

 Mukena berbahan kain katun itu  memang terasa dingin di tubuh dan membuat nyaman ketika Bu Esih  mendirikan salat dan nyaman  ketika dia harus berlama-lama untuk melantunkan  doa. Sebenarnya bukan hanya itu keistimewaan mukena itu. Ada alasan tertentu mengapa  mukena itu sampai begitu berarti  bagi Bu Esih karena diberikan oleh orang-orang yang sangat berarti bagi hidupnya .

Mukena gold itu kini sudah mulai koyak karena sering dicuci dan tentunya juga  termakan usia. Ya mukena itu tak terasa sudah berumur 6 tahun. Di akhir tahun ajaran 2015  dia menerima mukena itu dari  Dewi, anak  didiknya sebagai utusan kelas XII IPA 2,  waktu itu Bu Esih  dengan muka sumringah dan senyum mengembang dia menerima mukena itu. Bu Esih  sangat bahagia  karena anak didiknya telah perhatian dan ingat sama dia. Bagi Bu Esih barang sekecil apapun yang diberikan orang pada  dia pasti akan berarti dan dihargai karena dia tidak melihat permberian orang dari harganya.  Dengan orang ingat dan perhatian sama dia saja sudah satu nilai plus untuk Bu Esih. Alhasil dia akan menggunakan dan merawat  barang tersebut sebaik-baiknya.

Sekarang mukena kesayangannya itu sudah rusak dan hal itu membuat bu Esih sedih.   Suatu hari Bu Esih sedang menggunting renda bagian bawah mukena usang itu yang putus di sana-sini, kalau masih memungkinkan dia ingin tetap memakainya. Setelah memeriksa kondisi mukena itu  tiba-tiba bu Esih berkata, “ Kayanya kamu sudah harus pensiun menemani aku menghadap-Nya, kamu sudah tua dan sudah harus beristirahat menemaniku, kalau aku tetap paksakan kamu temani aku  akan ada bagian auratku yang terbuka, jangan marah ya, kalau aku tidak menyertakanmu dalam salatku”ucapnya .

Saat bersamaan sepasang muda-mudi yang berpenampilan elegan sudah berada di  halaman rumah Bu Esih.

” Assalamualaikum Bu.” ucap Dewi.

“Waalaikumsalam.” jawab Bu Esih dengan ekspresi kaget dan bingung, keningnya berkerut tanda dia sedang mengingat sesuatu. Dia ingat dengan wajah  gadis itu tapi  lupa sama  nama dan kelasnya, bu Esih   tidak dapat mengingatnya.

“Ibu lupa ya sama Dewi.” Dewi tersenyum sambil memeluk Bu Esih, guru yang selalu dirindukannya.

“Ya Allah. Dewi  ayo masuk.  Oh ini siapa? Bu Esih bertanya sambil menatap pemuda tampan yang ada di samping Dewi. Dewi paham maksud tatapan Bu Esih kepada Arya.

” Kenalkan Bu, ini  Mas Arya calon suami Dewi.”

Arya segera menyalami Bu Esih dengan penuh hormat.

Mereka bertiga duduk di ruang tamu dan mengobrol  penuh kehangatan.

 “Bu maaf, kalau  Dewi , ga salah  mukena yang tadi ibu gunting rendanya itu mukena yang diberikan anak IPA 2 , enam tahun yang lalu, kan?”

” Iya bener Wi, itu hadiah dari kalian enam tahun lalu.” 

“Ya Allah Bu masih ada, Itukan sudah lama banget.”

“Ada dan ga mungkin ibu buang atau ibu kasih ke orang, itu perhatian kalian untuk ibu, tapi sekarang sudah harus pensiun karena bahannya sudah rapuh sehingga terkoyak di beberapa bagian terutama ,ya renda itu.”

“Ibu jangan khawatir, Dewi punya sesuatu untuk ibu, dan ibu harus tau benda itu Dewi beli dengan gaji pertama Dewi  bukan hasil patungan seperti  enam tahun lalu.” Dewi  berucap sambil  tersenyum.

“Ya Allah Wi, kamu masih ingat saja dengan ibu.

” Harus dong Bu, karena ibu juga kan, Dewi bisa seperti sekarang. ” ucap Dewi

Setelah dipersilakan,  Bu Esih tidak sabar untuk segera membuka isi kado, mata Bu Esih membelalak ketika melihat sebuah mukena penuh bordir  berwarna gold, yang sama persis  dengan mukena usangnya  yang akan dia pensiunkan.

“ Ya Allah Wi, sama banget mukenanya,  kamu memang pintar nyenengin hati ibu dan masih  ingat saja warna kesukaan ibu.” Bu Esih hampir meneteskan air mata  karena bahagia.

Pasti sama bu, karena Dewi pesan  mukena ini pada orang yang membuat mukena  yang dulu Ibu terima.

“ Kamu memang anak solihah yang suka membahagiakan orang lain, makanya kamu selalu dikasih kemudahan oleh Allah.” ucap Bu Esih. “Aamiin.” ucap Dewi berbarengan dengan Arya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here