Spread the love

Oleh Eva Helviana Hafsah
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

“Mulutmu adalah harimaumu”, pernahkah Anda mendengar peribahasa tersebut? Peribahasa itu artinya bahwa kita harus berhati-hati dalam berucap terhadap orang lain. Ucapan kita yang tidak baik bisa saja menjatuhkan kita atau melukai orang lain. Ada juga peribahasa, “Lidah lebih tajam daripada pedang”. Arti dari peribahasa itu hampir sama yaitu kita harus berhati-hati dalam berucap.

Ini adalah kisah teman saya sebut saja namanya Melani. Melani adalah seorang pekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan. Melani seorang pegawai yang rajin dan menyukai pekerjaannya dan tidak menganggapnya sebuah beban. Pada suatu hari Melani mengalami sakit yang mengharuskan ia dirawat di rumah sakit. Ia menderita sakit Typus karena pola makannya yang tidak teratur dan sering makan sembarangan. Hampir dua minggu Melani menjalani perawatan di rumah sakit sampai akhirnya ia diperbolehkan pulang.

Melani memiliki kebiasaan buruk yaitu ketika pekerjaan yang dihadapi banyak, ia selalu lupa untuk makan. Ia akan makan jika pekerjaannya telah selesai. Namun setelah ia sembuh dari sakit itu ia berusaha untuk makan tepat waktu walaupun dalam porsi yang sangat sedikit. Badan Melani semakin hari semakin kurus. Berat badannya drastis turun hingga 10 kilogram. Melani selama ini memang tidak memiliki berat badan yang berlebih. Berat badannya ideal tetapi setelah sakit terlihat sangat kurus.

Penurunan berat badan yang drastis membuat teman-teman kantor Melani bertanya-tanya penyebabnya mengapa. Melani sendiri tidak mengerti karena ia selama ini tidak merasakan apa-apa dalam tubuhnya. Teman-teman Melani selain bertanya juga banyak juga yang meledek seperti “Kerempeng amat sih”, “Wah kurus banget pasti gak bahagia ya?”, “Kenapa sih kurang gizi ya?”, “Wah kayaknya gizi buruk ya?”, “Kayaknya hidupnya penuh tekanan ya?”. Ucapan-ucapan tersebut bagi Melani adalah hanya candaan semata karena ia sangat mengenal teman-temannya. Teman-teman Melani mungkin tidak tahu jika candaan tersebut jika diulang terus-menerus menjadi sebuah perundungan bukan hanya candaan semata saja.

Melani sering bercerita dengan suaminya tentang candaan teman-temannya. Sebut saja suaminya Randi. Randi terlihat tidak suka mendengar cerita istrinya itu. Randi sampai bertanya, “Apakah kamu tidak bahagia hidup denganku?”. Mendengar pertanyaan suaminya seperti itu Melani hanya tertawa. Candaan rekan-rekan kerja Melani menganggu pikiran Randi. Randi sering mengajak Melani makan di luar. Randi juga menyarankan Melani memeriksa kesehatan Melani ke dokter. Melani memeriksakan dirinya ke dokter ahli dalam dan dokter hanya memberikan vitamin. Badan Melani tidak mengalami perubahan tetap saja kurus. Melani juga memeriksakan dirinya ke dokter kandungan dan hasilnya tidak ada apa-apa. Usaha terakhir adalah Melani dengan diantar suaminya memeriksakan dirinya ke laboratorium untuk diperiksa darah. Hasil dari pemeriksaan tersebut normal tidak ada penyakit apa-apa.

Tahukah Anda berapa jumlah biaya yang dikeluarkan untuk pemeriksaan-pemeriksaan tersebut? Pemeriksaan tersebut mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Melani dan Randi seperti membuang uang sia-sia untuk menjalani pemeriksaan karena omongan orang-orang yang hasilnya nihil dan tentu saja hasil nihil tersebut menggembirakan. Bagi Randi ucapan-ucapan rekan kerja Melani tersebut menyakitkan. Ia merasa gagal menjadi suami jika tidak bisa membahagian istrinya. Kadang kita merasa ucapan kita kepada orang lain itu biasa saja. Ledekan itu hanya gurauan karena kita merasa sudah dekat dengan teman-teman kita. Namun perlu disadari bahwa tidak semua orang bisa menerima hal tersebut apalagi ledekan yang dilakukan secara berulang-ulang. Melani merasa biasa saja tetapi lain halnya dengan suaminya yang mengakibatkan ia merasa sakit hati dan menganggu pikirannya.

Saya menyarankan kepada Randi untuk menganggap hal tersebut adalah hal biasa dan jangan sampai mengganggu pikirannya. Orang akan selalu melihat kelemahan kita tanpa melihat kelemahan dirinya sendiri. Baik kurus dan gemuk akan selalu menjadi omongan bagi orang lain yang ingin mengejek kita. Orang kurus diledek kurus dan orang gemuk pun diledek gemuk. Kita harus berlapang dada menerima candaan tersebut karena sejujurnya mereka sayang kepada kita. Mereka merasa dekat dengan kita sehingga berani berkata seperti itu. Namun, tahukan Anda? Menghina bentuk fisik walaupun hanya bercanda termasuk pada body shaming. Body shaming adalah mengolok dengan tujuan menghina atau bercanda atas bentuk fisik seseorang. Berhati-hatilah karena ada undang-undang yang mengatur tentang body shaming. Dikutip dari laman www.jdih.tanahlautkab.go.id, jika melakukan body shamming secara verbal maka pelaku diberikan sanksi Pasal 310 KUHP dengan ancaman hukumannya 9 bulan. Jika (body shaming yang langsung ditujukan kepada korban) dilakukan secara tertulis dalam bentuk narasi, melalui media sosial, dikenakan Pasal 311 KUHP dengan hukuman 4 tahun.

Kita harus berhati-hati atas ucapan yang menghina bentuk fisik seseorang karena bisa dikategorikan termasuk bullying. Korban bisa mengalami depresi hingga mencoba bunuh diri. Selain itu juga korban bisa melakukan hal jahat apabila ia adalah seseorang yang tidak bisa mengontrol emosinya. Dikutip dari news.detik.com “Ali Heri Sanjaya (27) membunuh dan membakar Rosidah karena dendam kerap menjadi korban body shaming. Kepada polisi, Ali mengatakan korban kerap menyebutnya gendut, Boboho, dan sumo”,  https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4877791/pelaku-bunuh-dan-bakar-rosidah-karena-body-shaming-ini-kata-psikolog, 29 Januari 2020). Marilah kita berkata dengan bijak. Jika secara tidak sadar kita menjadi pelaku body shaming hanya untuk bercanda, ubahlah topik bercanda kita dengan yang lain jangan mengarah ke dalam bentuk fisik. Jika kita adalah korban maka katakan dengan baik-baik bahwa candaan tersebut menganggu Anda dan tentu saja jika ia adalah teman baik Anda maka ia akan menyadarinya. Selain itu juga Anda tidak usah memikirkan ucapan-ucapan teman-teman Anda, baik kurus atau pun gemuk adalah sama-sama ciptaan Allah. Sadarilah bahwa ketika menghina Anda sama saja dengan menghina pencipta-Nya. Jangan biarkan ucapan-ucapan body shaming mengganggu pikiran Anda. Tunjukan hal hebat lain yang bisa Anda lakukan. Love yourself karena fisik yang Anda miliki sekarang adalah ciptaan-Nya, yang terpenting Anda selalu menjaga kesehatan Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here