LEBIH DARI SEKADAR SAHABAT

0
138
Spread the love

Oleh Eva Helviana Hafsah
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Pada saat ini aku ingin menceritakan salah satu sahabatku yang bernama Titi. Dia teman sekelasku pada saat kuliah dulu. Pada tahun akhir perkuliahan kita baru menjadi dekat. Rumahnya berada di daerah Bogor. Dia pergi ke kampus mengendarai sepeda motor dan kadang memakai bus sedangkan aku tinggal di rumah indekost dekat dengan kampus.

Kepribadiannya berbeda denganku. Namun, entah kenapa aku bisa dekat dengannya dan itu pun tidak dari awal perkuliahan. Dia yang lumayan tomboy dan sering bergaul dengan laki-laki sedangkan aku anti bergaul dengan laki-laki. Dia yang ceria dan supel berbeda denganku yang pemalu dan susah untuk akrab dengan orang baru. Dia lebih sabar dariku sedangkan aku kadang mudah marah. Pernah pada suatu hari aku meminta dia mengantarku ke pasar Bogor karena ada yang harus aku beli. Kami berjalan dari kampus menuju pasar dengan jarak yang lumayan jauh. Dengan mengobrol tidak terasa kami sampai. Sesampai di toko itu kami mencari barang yang aku perlukan, ketika hendak membayar di kasir aku kaget karena aku tidak membawa dompetku. Dia pun sama tidak membawa uang banyak hanya cukup untuk ongkos saja. Akhirnya kami kembali ke kampus tetapi aku tidak melihat raut wajah kesal dari Titi, kami hanya tertawa oleh tingkah kami yang konyol.

Dia juga cerdas. Dia belajar dengan cepat. Aku hanya biasa saja di kelas tapi aku tidak pernah mengulang mata kuliah jadi kemampuanku tidak di bawah hanya tidak sebagus sahabatku Titi. Pada awalnya aku salah memilih jurusan seharusnya memilih jurusan MIPA tetapi memilih jurusan Bahasa Inggris. Padahal kemampuan Bahasa Inggrisku kurang ketika SMA tetapi aku yakin jika kita sungguh-sungguh kita bisa menguasainya.

Titi mengajakku segera mengajukan proposal penelitian pada awal semester 8 padahal aku orangnya santai karena merasa tidak bisa secepat itu lulus. Dia menyemangatiku dengan membantuku mencari judul yang tepat. Kami pergi ke Jakarta dan Bandung untuk mencari referensi buku untuk penelitian. Proposal kami diterima dosen. Tanpa pikir panjang kami langsung menyusun rencana penelitian.

Titi mengajakku mengadakan penelitian di tempat dia bekerja. Saat itu dia sudah bekerja menjadi guru honorer di salah satu sekolah swasta di Bogor. Titi menjodohkanku dengan salah satu rekan kerjanya walaupun pada akhirnya ternyata mereka saling menyukai. Titi kemudian menjodohkanku lagi dengan salah satu rekannya lagi, aku menurut saja tapi aku bilang tidak boleh memaksa kalau aku tidak suka. Rekan kerja Titi itu sebut saja namanya Randi.

Randi orangnya sangat baik. Dia mengajar di sekolah yang sama dengan Titi. Randi membantuku dalam mengadakan penelitian. Penelitian kami berjalan dengan lancar. Setelah penelitian selesai, kami melaksanakan sidang. Sidang skripsi berjalan dengan lancar dan akhirnya kami lulus. Aku sangat bersyukur bisa lulus berbarengan dengannya sementara teman-teman yang lain masih banyak yang belum lulus karena penelitiannya belum selesai.

Titi mengajakku supaya mencari pekerjaan di Bogor supaya tidak berpisah dengannya. Dia bilang belum siap harus kehilangan sahabat sepertiku. Keesokan harinya aku melamar ke sebuah tempat kursus bonafide di Bogor. Titi mengantarku dan aku diterima bekerja di tempat kursus itu tapi ijasahku ditahan selama dua tahun. Artinya aku tidak boleh berhenti bekerja selama dua tahun. Aku memberitahukan kabar tersebut kepada keluargaku. Mereka melarangnya karena mereka tidak menginginkan aku bekerja di sana dan tidak pulang. Aku mengatakan keputusanku kepada Titi dan dia terlihat kecewa.

Seperti biasa aku sering menginap di rumah Titi. Malam itu kami mengobrol sambil melihat langit-langit. Titi dan kekasihnya memutuskan akan segera menikah. Aku sangat senang mendengarnya karena melihat sahabatku itu bahagia. Titi juga menanyakan perasaanku pada Randi tapi aku belum bisa menjawab apa-apa, walaupun Randi dan teman-temannya pernah berkunjung ke kampung halamanku di Cianjur tapi aku menganggapnya teman saja. Malam itu kami menitikkan air mata karena kehidupan kami sebentar lagi akan berjalan berbeda. Aku mengatakan akan pulang ke kampungku di Cianjur, Titi merasa sedih.

Hari bahagia yang ditunggu Titi telah datang. Titi menikah dengan pujaan hatinya itu. Tidak sampai di situ, Titi hendak menjodohkanku lagi dengan sepupunya tetapi aku tetap tidak bisa seperti halnya dengan Randi, perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mengerti mengapa Titi sering menjodohkanku karena dia tidak ingin aku pergi jauh atau pulang ke kampung halamanku. Dia bilang aku sudah seperti kakaknya karena dia anak pertama perempuan dan tidak memiliki teman untuk curhat karena kedua adiknya adalah laki-laki.

Kita memiliki takdir yang berbeda. Aku memutuskan pulang ke Cianjur karena tidak ingin membuat ibuku khawatir. Aku mulai bekerja di kota ini. Titi dan aku selalu menjaga komunikasi. Pada tahun 2009 aku menikah dan Titi datang bersama suaminya. Setiap tahun pada libur idul fitri Titi selalu mengunjungiku. Dia dan suaminya tidak pernah absen selalu datang minimal setahun sekali berkunjung. Aku pernah sekali berkunjung ke rumahnya dengan suami dan anak-anakku. Pada libur lebaran tahun ini sepertinya dia akan absen berkunjung, adanya larangan pemerintah untuk tidak mudik membuat kami sulit untuk berkunjung ke luar kota untuk mengunjungi sanak saudara.

Titi sudah banyak berubah dari asalnya pada waktu kuliah adalah seorang gadis tomboy tidak berkerudung, kemudian berkerudung modis dan sekarang dia menjadi hijaber dan memakai nikab. Dia sering sekali menasihatiku. Ketika masalah datang yang aku ingat adalah dia. Dia tempat berbagi suka dan duka. Aku beruntung memiliki sahabat seperti dia yang sering mengingatkan untuk selalu membawa bekal untuk kehidupan akhirat. Titi bukan hanya sahabat tapi dia sudah seperti keluarga sendiri. Stand by me, my bestie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here