KOMPETISI GITA

0
162
Spread the love

Oleh Siti Fety Fatimah
guru Bimbingan Konseling di SMKN PP Cianjur

Aku yang polos dan lugu namun, sedikit bawel tapi aku orangnya suka ngomong apa adanya aku bukanlah berasal dari keluarga yang berada,  bukan pula orang yang cantik yang banyak dilirik oleh banya pria aku hanya orang biasa dari keluarga yang sangat sederhana tapi aku bersyukur masih bisa merasakan indahnya sekolah di tingkat atas meski untuk mencapainya membutuhkan perjuangan yang luar biasa.

Dari kecil aku tidak tinggal dengan ibuku, ibu pergi mengubah nasib untuk menjadi TKW demi memenuhi kebutuhan keluargaku namun, sayang keberangkatan ibu tidak semulus yang di harapkan, bapak yang tinggal di rumah saat itu setelah selang berapa tahun ibu berada di perantauan bapak malah tergoda oleh perempuan lain di kampungku sehingga menyebabkan retaknya hubunganku dengan  ayahku, aku sangat membencinya saat itu bahkan sampai sekarang karena telah menyakiti hati ibu yang sedang berjuang di perantauan.  

Aku menjadi benci sangat benci sama ayahku  karena sudah menghinati ibu yang sudah susah payah berkorban jauh dari keluarga hanya untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah karena ingin memilik rumah yang sangat diidamkan. Beberapa tahun ibu di perantauan akhirnya terwujudlah harapan memiliki rumah setelah ibu pulang kerumah. Ibu mengetahui mengenai hubungan ayahku yang sudah dekat dengan perempuan lain. Namun, ibu tidak serta merta langsung membencinya malah ibu memaafkan kesalahan ayah dan akhirnya mereka bersatu kembali. Tapi bukannya aku senang dengan bersatunya mereka malah sebaliknya aku sanagt tidak suka.

Sepulang dari perantauan ibu mengandung lagi dan lahirlah adikku, sampai sekarang karena dari kecil aku tuh tidak dekat dengan ibu Karena dari kecil aku sudah di tinggalkan ibu, aku lebih dekat dengan nenekku bahkan setelah lahir aku belum bisa menrima keberadaan adikku sampai sekarang bahkan ku tidak dekat dengan ibuku. Kadang aku selalu iri sama kakaku yang selalu diperhatikan dan dekat juga dengan ibu disayangi ibu tapi aku…? Ah… aku tidak bisa mendapatkan sepenuhnya apa yang dirasakan oleh kakak dan adikku, aku dari kecil selalu berjuang sendiri untuk mendapatkan uang 1000 atau 2000 lebih nya dari penjualan “Cilok” yang aku jajakkan cilok itu buatan nenekku dari aku SD selalu jualan lumayan untuk manambah uang jajan kalo tidak jualan yah aku ga punya uang.

Sampai sekarangpun aku setelah masuk SLTA masih suka jualan “cilok” andalanku, buatan nenek karena meski ibu ada di rumah aku tetap tinggal dengan nenekku aku tidak tinggal bersama ibu meski rumahnya berdekatan karena kadang aku merasa tersisih kalau berada di rumah ibu sehingga menyebabkan aku gak betah di rumah.

Makanya aku julan “Cilok” ke sekolah biar dapat uang buat ongkos sekolah. Apabila “cilok” jualanku tersisa aku bawa ke pengajian sorenya, waktu liburpun aku tidak diam kalau tidak jualan gak bakalan bisa dapat uang buat ongkos sekolah, kalaupun aku tidak punya uang akupun tidak menyerah begitu saja untuk tidak sekolah aku tetap sekolah meski harus berjalan kaki, lumayanlah jarak dari rumah ke sekolah tidak dekat cukup  jauh juga naik angkot satu kali kemuadian harus naik ojek kalo lagi punya uang aku naik ojek kalo ga punya uang cukup dengan jalan kaki

Dari perjuanganku itu aku selalu semangat belajar ingin kubuktikan pada orang tua bahwa aku bisa sukses aku bisa menjadi siswa berprestasi di sekolah dan bahkan aku berharap bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi itulah impianku.

Sebelumnya aku pernah mengikuti beberapa kompetisi dari mulai kompetisi bahasa inggris dan kompetisi matematika waktu kelas X (sepuluh) aku selalu terpilih oleh guru untuk mengikuti kompetisi meski waktu di kelas X belum sempat menjadi juara, namun itu tak mematahkan semangatku untuk terus berusaha dan berusaha keras dalam belajar .

Aku cukup dikenal dan dekat juga sih dengan guru-guru di sekolah karena kebawelanku, karena kepolosanku dalam bicara yang apa adanya tanpa dibuat-buat namun, kadang banyak orang juga sih yang memanfaatkan kepolosanku ada yang mencemooh juga karena memang aku bukan perempuan cantik yang bahkan  kalau di sekolah suka gak pakai alas kaki juga aku yang cuek dan apa apadanya meski tumitku pecah pecah ah aku ga pernah menutupinya aku ga pernah menutupi kekuranganku

Yang aku pikirkan bagaimana cara mengukir prestasi, di kelas terbilang rajin katanya karena kelas selalu bersih karena aku suka besih bersih ruang kelas sampai kelasku pernah menjadi juara umum kebersihan,  kelas bangga  gak sih kalau kita juga ikut andil atas prestasi itu… bangga kan?

Ya, memang sangat bangga saat aku masuk tingkat XII aku ada satu kompetisi matematika tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh salah satu perguruan tinggi terbesar di kota itu aku terpilih tuh sama guru matematikaku guru favoritku dech karena aku memang suka banget dengan matematika bahkan akupun punya cita cita ingin menjadi guru matematika… tercapai ga ya?  semoga ya ku bisa mencapai mimpi itu dengan baik Aamiin…

Dari beberapa jurusan di sekolah di ambil dua orang yang memang memiliki kemampuan lebih di bidang matematika, seleksi di tingkat sekolah sebelum memasuki kompetisi di tingkat kabupaten dari hasil seleksi tingkat sekolah terpilih lah dua orang kebetulan aku dan teman sekelasku teman dekat juga suatu kebanggaan kan aku bisa terpilih, karena itu cita cita dan harapanku, setelah terpilih  selalu rajin berlatih dengan guru-guru matematika di sekolahku semangat tuk belajar tak pernah padam ingin ku buktikan bahwa aku bisa aku mampu.

Tibalah saaatnya kompetisi itu di salah satu perguruan tinggi di kotaku yang terbilang cukup besar hari pertama hatiku “ dag-dig-dug-der” tapi kukerjakan dengan yakin dan percaya diri soal soal yang ada di depan mata akhirnya kulalap dan diselesaikan sebisaku meski tidak kuisi semua karena penialainnya seperti penilai SBMPTN kalau salah di kurangi point-nya maka tidak kuisi semua karena tidak semua yakin  dengan jawabnnya dari pada harus dikurangi.

Tibalah pengumuman babak penyisihan, “berdebar-debar” lagi tuh hatiku dan aku bersyukur masuk ke babak berikutnya tapi sayang temenku itu tidak masuk, aku tambah semangat lagi belajar untuk bisa mengikuti babak selanjutnya.

Tahap demi tahap kulalui akhirnya tiba di babak terakhir aku lolos ke babak akhir dan masuk ke lima besar. Keesokan harinya kusiapkan diri ini untuk bisa tampil prima karena di babak akhir ini tidak hanya menyelesaikan soal saja tapi harus dipresentasikan juga di depan juri makin “ deg-degan juga tuh tapi pikirku  harus tetap tenang menghadapi babak akhir ini harus bisa menunjukkan dan menampilkan yang terbaik.

Saat yang dinanti tibalah aku dipanggil oleh juri untuk siap-siap mempresentasikan hasil jawabanku tiba tiba yang di panggil nama “Gita” padahal aku biasanya panggilan di sekolah bukan Gita meski dalam namaku ada nama Gita clingak -clinguk lah aku dan baru sadar setelah dikasih tahu sama guru pembimbingku. Saatnya aku memperesentasikan hasilnya. Alhamdulillah lancar memasuki hasilnya belum tahu bagus atau tidak pikirku ini kompetisi harus siap menghadapi kemenangan dan harus siap juga menghadapi kekalahan.

Tibalah saatnya pengumuman saat saat yang dinanti dan diharapkan juga, sangat menegangkan Karena diumumkan haslinya awalnya gak percaya diumumkan dari urutan terakhir. Namaku di sebutkan diurutan ketiga senang yang ga kesampaian sampai “lost control” sampai jingkrak jingkrak aku saat itu akhirnya perjuanganku membuahkan hasil kubuktikan hasil dari kerja keras dan perjuangan belajar selama ini terwujud kan kupersembahkan penghargaan ini untuk ibu yang selama ini tidak pernah dekat dengan aku. Terima kasih  telah mendidikku menjadi orang kuat, perhatian selama ini diberikan kepadaku ibu. Guru-guruku semuanya aku bisa berprestasi saat ini atas bimbingan semuanya. Satu harapan dan cita-citaku ingin masuk perguruan tinggi semoga terwujud, Aamiin

****

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here