Kisah Putih Abuku (Part2)

0
31
Spread the love

Oleh Away Irfansyah
Siswa SMKN 1 Cikalongkulon Kelas XII ATPH 1 Jurusan Agribisnis Tanaman Pangan Hortikultura.

Kini kisahku menjadi siswa putih biru telah usai, tangis dan tawa telah menemaniku mewarnai indahnya sebuah cerita.

Lembaran baru telah hadir menyapaku,dan kini aku telah siap tuk mengisi lembaran itu dengan goresan tinta penaku, akan kuceritakan bagaimana manis dan pahitnya kehidupan, akan kuceritakan bagaimana caranya menikmati hidup dan akan kuceritakan bagaimana caranya menjadi sukses.

Flash Back

Oh ya…perkenalkan nama saya Away Irfansyah seorang anak yang lahir dari sebuah keluarga sederhana. Ayahku adalah seorang buruh tani sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga biasa.

Ketika aku berumur 4 tahun kedua orang tuaku berpisah (cerai), namun apalah dayaku saat itu aku tidak bisa berbuat apa apa. Aku tidak bisa berupaya apa-apa. Aku hanyalah seorang anak kecil yang baru saja mengenal indahnya dunia. Beberapa tahun kini telah berlalu ketika aku beranjak menjadi seorang remaja ibuku menjelaskan semuanya kepadaku alasan kenapa mereka berpisah, alasan kenapa kehidupanku berbeda dengan orang lain,semuanya ia ceritakan.

Kini semuanya telah terjawabkan. Rasa penasaranku kini telah sirna sekejap mata. Pikirku bingung tak karuan. Ada rasa sedih yang begitu mendalam saat aku mendengar cerita itu.

Sejak aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku tinggal bersama ibuku, kini ia sudah memiliki keluarga yang baru dan kebahagiaan yang baru begitu pun dengan ayahku. Aku merasa bahwa diriku hidup seperti Selat Sunda yang menjadi pemisah antara pulau Jawa dengan pulau Sumatera. Aku hanya bisa menatap mereka berdua di tepi pantaiku yang indah tanpa bisa menyatukan mereka kembali seperti semula.

Sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar aku bisa dibilang anak yang berprestasi baik itu di kelas ataupun disatu sekolah. Setiap tahun aku selalu menduduki peringkat satu di kelas dan aku selalu menjadi wakil sekolah ketika ada kegiatan perlombaan.

Ketika aku hendak menduduki bangku SMP, aku tinggal bersama bibiku di daerah Cikendi, Desa Mekarjaya Kecamatan Cikalongkulon Kab.Cianjur. Jarak antara rumah dan sekolahku yang jauh memaksaku tinggal bersamanya, ya mau tak mau sih.

“Tak ada seorang pun yang ingin tinggal di kampung orang lain tatkala mereka masih memiliki kampung halaman yang indah tuk diceritakan”

Sejak SMP kumulai belajar hidup mandiri, setiap hari sepulang sekolah aku selalu membersihkan rumah bibi dan merapikan barang-barang miliknya seperti mencuci piring yang kotor. Itu semua kulakukan karena aku tidak ingin hidup hanya menjadi sebuah benalu bagi orang lain. Bibiku setiap hari bekerja di sebuah PT di kawasan Cianjur dari pagi sampai sore, kadang pula ia pulang malam hari jika ia lembur. Ketika bibiku pulang, aku selalu menyiapkan makan malam untuknya, ya walaupun rasanya tidak begitu sempurna namun aku telah membuatnya dengan penuh cinta. Semua resep masakan yang aku hidangkan untuk makan malam adalah resep yang diajarkan pamanku setiap hari menurutku dia adalah koki yang hebat di dunia, dia pandai dalam memasak seperti chef Juna yang ada di acara Master Chef.

Tak jauh beda dengan kehidupanku di SD, di SMP pun aku termasuk siswa berprestasi baik itu di kelas maupun di satu sekolah. Aku pernah mendapatkan penghargaan sebagai juara satu paralel satu sekolah, tidak hanya itu saja aku juga pernah menjadi wakil sekolahku dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tahun 2018. Aku juga aktif dalam beberapa organisasi dan Ekstrakulikuler di sekolah seperti Osis, Pramuka, Paskibra, PMR, Paduan Suara, Sains Club dan lain-lain. Tidak heran jika disekolah aku dijuluki The King of School.

Apakah terlihat bahagia bukan menjadi anak yang berprestasi?

Memang iya menjadi anak yang berprestasi itu menyenangkan bagi sebagian anak kecuali diriku.

Bagiku ketika aku mendapatkan sebuah penghargaan. Namaku mendapatkan predikat sebagai juara diri ini merasakan kesedihan yang begitu mendalam di relung hati, rasanya jiwa ini sudah tak mampu menahan beban hidup yang aku pikul. Hanya satu yang selalu kupinta dalam doa di sepertiga malamku pada Allah. Aku hanya ingin ketika aku berprestasi dan ketika aku dinobatkan menjadi seorang juara aku ingin ayahku menyaksikan itu. Aku ingin ayahku menjadi saksi bisu bahwa aku seorang anak yang tidak pernah diinginkan tuk lahir ke dunia ini dapat membawa segelintir prestasi untuk mengharumkan sebuah nama.

Aku ingat dengan cerita dari ibuku. Dulu ketika aku baru saja dilahirkan tuk melihat indahnya dunia ayahku pergi meninggalkanku begitu saja. Ia berkata pada ibuku, “Untuk apa anak laki-laki?”. Kata-kata itu selalu menyelinap dalam setiap pikiranku namun itu adalah motivasi untuk diriku. Itu adalah sebuah dorongan yang sengaja ayah berikan padaku agar aku menjadi anak yang kuat berjiwa besi dan bermental baja.Terima kasih ayah berkatmu aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Mungkin suatu saat kau akan menjemputku di belakangmu meski masa itu kini tak kunjung datang namun aku akan selalu menunggumu seumpakan tanah yang menanti hujan di musim kemarau.

Namun kisah itu kini telah kututup. Kisah itu tak akan pernah kubuka lagi dan tak akan pernah kubaca lagi untuk kedua kalinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here