KETELADANAN GURU TERHADAP MURID

0
46
Spread the love

Oleh Ai Didah Hamidah, S.Pd.I, M.Pd
(Staf pengajar di SMKN 1 Cikalongkulon)

Keteladanan dalam arti luas, yaitu menghargai ucapan, sikap, dan perilaku yang melekat pada pendidik (Aqib, 2011:86). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian keteladanan berasal dari kata “teladan” yang artinya hal yang dapat ditiru atau dicontoh. Sedangkan menurut Islahunnissa ‘(2010: 42) pengertian keteladanan berarti penanaman akhlak, adab, dan kebiasaan-kebiasaan baik yang harusnya diajarkan dan dibiasakan dengan memberikan contoh nyata. Keteladanan dalam pendidikan adalah pendekatan atau metode yang berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk serta mengembangkan potensi peserta didik. 

Dalam pendidikan Islam, keteladanan merupakan aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang guru. Menjadi guru berarti harus siap memberikan contoh yang baik, sikap yang terpuji, dan jangan sampai sesuatu yang pernah disampaikan sebagai bahan pelajaran tidak mampu diaplikasikan sehingga murid tidak melihat adanya nilai-nilai keteladanan.

 Menurut M. Ainur Rasyid dalam hadits-hadits tarbawi dikatakan, Rasulullah bersabda, “ Barang siapa memberi teladan yang baik dalam Islam, lalu diikuti orang lain sesudahnya, maka dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Dan, barang siapa yang memberikan teladan jelek dalam Islam lalu diikuti orang lain sesudahnya, maka dicatat untuknya dosa sebanyak yang diperolah orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka perolah sedikitpun”. (HR. Muslim)

Dengan demikian, jelaslah bagi kita bahwa keteladanan merupakan inti dari pendidikan Islam. Ketika seorang guru memberikan teladan yang baik kepada murid-muridnya, baik di dalam kelas maupun di luar kelas, maka sesungguhnya guru itu telah memberikan sebuah ilmu yang jauh lebih kongkret daripada sekedar teori. Di sinilah pentingnya keteladanan.

Dalam pendidikan Islam, proses belajar-mengajar dinilai gagal justru ketika seorang pendidik (guru) tidak memberikan keteladanan yang baik. Sebab, pendidikan Islam memiliki perhatian yang serius terhadap keteladanan. Tanpa ada keteladanan, mustahil ilmu yang didapat oleh murid bisa diaplikasikan secara maksimal.

Dalam kontek keteladanan ini, Ibnu Muqaffa pernah berkata, “ orang yang mengajar dan mendidik dirinya sendiri ialah yang paling berhak untuk dihormati dan dimuliakan daripada orang yang hanya mengajar dan mendidik orang lain.”

Sungguh amat penting pendidikan melalui keteladananan sebab, contoh yang baik dengan tindakan tindakan pasti akan menjadi penyemangat bagi seorang murid dalam menuntut ilmu. Maka, guru sepatutnya mampu menjadi pusat keteladanan bagi murid-muridnya, guru yang menebarkan tindakan positif, pastilah akan berdampak positif pula pada tindakan-tindakan anak didiknya. Demikian juga sebaliknya.

Dalam sebuah keterangan disebutkan bahwa Uyainah bin Abi Sufyan berkata kepada guru yang mengajar anaknya,”hendaklah yang pertama-tama kamu lakukan dalam memperbaiki anakmu ialah dengan memperbaiki dirimu sendiri, sebab, sesungguhnya mata anak-anak itu hanya akan tertuju kepadamu. Maka, sesuatu yang baik menurut mereka adalah ialah sesuatu yang kamu perbuat, dan sesuatu yang jelek menurut mereka ialah sesuatu yang kamu tinggalkan.”

Pesan dari Umayah bin Abi Sufyan tersebut merupakan pesan kepada para guru, pendidik, atau ustazd agar tidak sekedar mengajarkan ilmu dengan baik, tetapi juga memberikan keteladanan. Sebuah pesan yang menunjukan betapa pentingnya keteladanan. Sebuah pesan yang betul-betul bernilai, terutama bagi seorang guru.

Keteladanan guru merupakan tindakan penanaman akhlak yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki profesi dengan menghargai ucapan, sikap dan perilaku sehingga dapat ditiru oleh orang lain yang dilakukan oleh pengajar kepada peserta didik. Hal ini diperkuat oleh Aziz (2012 : 2) bahwa guru menjadi ujung tombak dalam sebuah perubahan sehingga diharapkan akan munculnya sebuah generasi tangguh bagi sebuah bangsa atau Negara dari sentuhan tangan para guru. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Mulyasa (2014: 169) bahwa keteladanan guru adalah sikap yang mempunyai pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan sehingga berfungsi untuk membentuk kepribadian anak guna menyiapkan dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dengan demikian, mendidik berarti juga memberikan keteladanan. Karena itu, terlihat aneh ketika ada seorang guru yang hanya mampu memberikan pembahasan, teori, dan gagasan yang maksimal, namun pada waktu bersamaan, ia justru gagal memberikan keteladanan.

Apalagi dalam konteks mengajar anak usia dini, misalnya. Tentu saja lebih kompleks dibandingkan dengan mengajar orang dewasa. Dikatakan demikian karena ucapan saja tidak cukup untuk menerangkan materi pelajaran tertentu. Anak-anak masih butuh contoh berupa tindakan langsung. Dengan kata lain, anak itu butuh contoh konkret dari pada sekadar teori. Apalagi anak itu masih berusia 3 sampai 4 tahun, yang masih kaku menggenggam pensil, tentu otaknya masih lemah sehingga tidak mungkin dijejali sekian banyak teori. Dengan demikian, amatlah penting bagi seorang guru untuk memperioritaskan tindakan nyata dari pada teori. Ajarkan anak didik perilaku dengan penuh dengan nilai-nilai yang bermanfaat bagi mereka. Dalam konteks ini, syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang guru ialah sikapnya yang penyayang dan pengasih. Tanpa sikap yang demikian, mustahil guru bisa mencontohkan perilaku yang baik atau mencontohkan perilaku yang positif, baik saat mengajar di dalam kelas maupun di luar kelas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here