Spread the love

Oleh Naida Makiani S.Pd.

(Guru SMK Madani Cianjur)

Covid-19 berasal dari negara Cina kota Wuhan. Di kota Wuhan ada sebuah pasar
tradisional yang menjual berbagai jenis hewan mulai dari hewan ternak hingga hewan
liar. Hewan liar yang dijual disana sudah lumrah untuk dikonsumsi. Adapun hewan liar
yang dikonsumsi berupa ular dan kelelawar. Banyaknya orang–orang yang
mengonsumsi hewan liar ini diduga Covid-19 ini disebabkan oleh hewan liar tersebut.
Sudah hampir satu tahun lamanya Covid-19 ini menyebar ke seluruh dunia.
Negara besar maupun kecil menutup akses jalan transportasi, dengan dalih agar
penyebaran Covid-19 ini berhenti. Namun hingga saat ini sampai dengan bulan Januari
202, Covid-19 masih saja beraksi.
Di samping berhentinya akses jalan, sekolah–sekolah pun menghentikan belajar
sekolah secara tatap muka. Siswa dan guru melaksanakan kegiatan belajar mengajar
dengan proses daring atau jarak jauh melalui handphone dengan memanfaatkan situs
internet. Aplikasi yang dipakai guru dan siswa bisa berupa via WhatsApp, Zoom, Google
Classroom, Facebook dan lain sebagainya.
Pembelajaran di kota dan daerah itu berbeda, mungkin di kota-kota besar bisa
menggunakan cara pembelajaran jarak jauh dengan menyenangkan dan lancar karena
tidak sedikit orang di kota-kota pun sudah memakai handphone sejak lama. Tapi
bagaimana dengan siswa pinggir kota bahkan pelosok-pelosok? Apakah mereka memiliki
handphone dengan kualitas layak untuk mengunduh aplikasi yang sudah disebutkan
tadi? Tak sedikit siswa yang menyebut handphonenya itu adalah “HP kentang”. Plesetan
ini membuat perasaan siswa memiliki rasa tidak nyaman untuk belajar. Karena HP
kentang itu maksudnya adalah handphone yang kualitasnya kurang layak dipakai.
Mereka tidak bisa mengakses aplikasi seperti Zoom ataupun Google Classroom. Adapun
mereka beralih ke aplikasi Facebook, tetap ternyata ada kendala. Terkadang link yang di
bagikan guru tidak bisa dibuka bahkan gambar saja buram.
Bukan hanya HP kentang yang meresahkan tapi kendala siswa yang berasal dari
keluarga tidak mampu bahkan tidak memilikinya. Karena tidak semua siswa memiliki
handphone, di daerah pelosok ataupun pinggir kota tetap ada saja yang tidak
memilikinya. Mereka tak segan untuk memilih bekerja dalam masa pembelajaran ini.
Sebagian siswa merasa tidak pernah putus asa akan mencari ilmu. Ketika ada
pembagian kuota gratis ternyata tidak merata. Ada saja yang tidak mendapatkan kuota
gratis. Terkadang mereka sembunyi-sembunyi datang ke sekolah untuk mendapatkan
Wifi gratis. Namun apa daya, sekolah pun tidak bisa membiarkan mereka terus
berkeliaran di sekitar area sekolah, sehingga dewan guru atau bagian tata usaha
mematikan atau mengunci gerbang sekolah agar siswa tidak masuk ke area sekolah.
Frustrasi dan kesal pasti siswa alami dalam pembelajaran seperti ini. Bosan dan
tidak memahami pelajaran yang diberikan guru melalui sosial media. Tidak sedikit siswa
yang berkeluh kesah dengan keadaan belajar seperti ini. Ada yang tetap di antusias
belajar tetapi tidak sedikit pula sudah hilang semangat mereka untuk belajar jarak jauh.
Walaupun tidak dapat belajar tatap muka ke sekolah atau belajar jarak jauh, siswa
yang bersekolah di sekolah swasta tetap harus membayar uang kegiatan sekolah. Apalah
daya mereka yang harus tetap menjaga semangat mengejar cita-cita dalam keadaan
yang tidak pasti ini.
Semangat siswa masih bisa terjaga karena masih ada kegiatan praktik yang tidak
bisa dilakukan oleh belajar jarak jauh. Hal ini masih bisa membuat mereka bahagia dalam
belajar. Bertemu teman-teman dan guru praktik belajar bersama lebih menyenangkan
daripada belajar di rumah yang berhadapan dengan handphone saja. Bagaimana mereka
bisa tahan untuk tidak bertemu dengan teman-teman mereka jika mereka hanya
berkomunikasi dengan handphone saja. Mungkin di area digital ini sangat mudah untuk
mendapatkan informasi. Namun tidak semua siswa dapat melakukan hal tersebut. Setiap
siswa memiliki kemampuan pemahaman yang berbeda, sehingga diperlukan interaksi
langsung dengan guru.
Pesan dari penulis untuk siswa khususnya dan umumnya untuk pembaca.
Bagaimanapun kondisi kita saat ini dalam menghadapi pembelajaran, semangatlah dan
kuatkan tekad kalian dalam menghadapi cobaan ini, badai ini pasti akan berlalu,
ikhlaskan hati kalian tetap mencari ilmu dimanapun kalian berada. Kebaikan akan selalu
kembali kepada orang yang berbuat baik pula. Semangat mencari ilmu sampai ke negeri
Cina walaupun Covid-19 berasal dari Cina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here