KELAS UNGGULAN, EFEKTIF KAH?

0
22
Spread the love

Oleh Eva Helviana Hafsah
(Guru SMKN 1 Cikalongkulon)

SMKN 1 Cikalongkulon sebagai SMK Pusat Keunggulan menerapkan pembelajaran paradigma baru. Kurikulum Paradigma Baru dibagi menjadi dua bagian yaitu: kegiatan intrakurikuler berupa tatap muka dalam kelas dan kegiatan proyek. Kegiatan proyek dilakukan untuk mencapai Profil Pelajar Pancasila. Karakter siswa harus sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila tersebut. Pembelajaran paradigma baru menurut pendapat saya yaitu menjadikan guru untuk lebih mengenal karakter tiap siswa yang berbeda, membelajarkan siswa dengan cara yang menyenangkan dan mengedepankan kerja sama yang solid ketika siswa mengerjakan proyek. Siswa memiliki kecerdasan yang beragam sehingga harus didukung keragaman kemampuan mereka.

Saya akan berbagi pengalaman tentang kelas yang tidak beragam yang pernah saya ikuti. Pada waktu itu dinamakan kelas unggulan. Ini pengalaman saya waktu kelas 3 SMP. Pada waktu itu saya masuk ke kelas 3 A yaitu kelas unggulan karena siswa-siswanya memiliki peringkat lima besar ketika kami duduk di kelas 1 dan 2 SMP. Tujuan guru membuat kelas unggulan pada waktu itu diharapkan bisa menjadikan siswa-siswa unggulan yang bisa memasuki SMA terbaik di kota tersebut. Selain itu juga bertujuan untuk mengasah kemampuan sehingga lahirlah juara-juara dalam perlombaan. Menurut pendapat saya, ada beberapa kelemahan kelas unggulan berdasarkan pengalaman saya, yaitu:

1. Persaingan yang sangat ketat

Persaingan sangat ketat di kelas itu. Setiap hari tugas dan PR tidak pernah luput. Guru selalu menuntut kami untuk cepat belajar. Guru menjelaskan materi dengan sangat cepat karena dianggap kami adalah siswa yang cepat belajar. Ada beberapa teman saya yang sangat berambisi untuk menjadi terbaik di kelas unggulan tersebut hingga dia selalu aktif belajar dan bertanya. Dia juga sering meminta soal yang lebih banyak kepada guru-guru. Saya adalah orang yang santai dalam belajar saat itu. Persaingan pada waktu itu menurut saya tidak baik karena beberapa dari mereka sangat berambisi untuk menjadi the best of the best. Mereka yang berambisi jarang bersosialisi, mereka terus belajar bahkan pada waktu istirahat.

2. Menuntut siswa sesuai yang diinginkan guru

Pada saat itu saya tidak menyukai pelajaran Matematika. Menurut saya waktu itu gurunya sangat keras. Guru Matematika tersebut sebut saja namanya Pak Andi. Beliau mengajar dengan cepat dan tegas. Ia tidak segan menghukum jika kami salah dalam menjawab soal. Saya sangat tidak menyukainya sehingga saya menjadi tidak bisa mencapai nilai yang sangat memuaskan dalam pelajaran Matematika. Ternyata benar pendapat orang jika kita ingin menyukai pelajarannya maka kita harus menyukai gurunya terlebih dahulu. Pada saat ada pelajaran Matematika, saya sangat malas untuk pergi ke sekolah. Sebenarnya saya ketika kelas satu dan dua SMP menyukai pelajaran tersebut tatapi karena saya tidak bisa mengikuti gaya mengajar Pak Andi, saya menjadi tidak menyukainya. Pak Andi bertujuan baik hanya saya pada waktu itu saya belum memahaminya. Siswa dituntut cerdas dalam semua pelajaran. Jika ada yang tertinggal akan diberikan pemberitahuan bahwa mereka akan dipindahkan ke kelas di bawah kelas A, tentu saja pemberitahuan itu membuat kami ketakutan sehingga kami belajar keras karena tidak ingin dipindahkan ke kelas bawah.

3. Membuat siswa menjadi ekslusif

Saya mempunyai beberapa teman dan sahabat pada waktu duduk di kelas satu dan dua SMP. Ketika kelas 3 kami terpisah. Mereka berada di kelas bawah atau kelas bukan unggulan. Mereka terkesan menjauhi saya karena merasa telah berbeda dengan saya. Mereka enggan berteman lagi dengan saya. Selain itu juga, ketika kami (kelas A) pergi ke kantin, siswa kelas bukan unggulan akan menyindir dengan berkata, “Awas ada anak-anak pinter, kita harus minggir!”. Ucapan mereka sangat menyakitkan. Kami seperti dipisahkan dengan kelas-kelas tertentu. Salah satu teman saya yang berada di kelas I (kelas paling bawah) pernah berucap, “Ngapain kita belajar, guru-guru juga udah tau kita mah kelas bawah, bodoh-bodoh”. Mereka yang berada di kelas bawah terkesan pesimis dengan dirinya sendiri.

Itulah pendapat saya mengenai kelas unggulan yang pernah diikuti. Tujuan dibentuk kelas unggulan itu baik yaitu memudahkan para guru membimbing dan melatih siswa-siswa unggulan supaya lebih berprestasi dalam semua bidang. Namun, menurut saya itu tidak efektif. Pintar itu tolak ukurnya bukan karena cerdas dalam hal Matematika. Setiap siswa memiliki multiple intelligences yang harus dibantu dikembangkan oleh pendidik. Selain itu juga, karakter atau sikap yang baik yang harus dimiliki oleh siswa harus sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila yang terdapat di dalam kurikulum paradigma baru.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here