KALIS, SEORANG ODGJ KAH?

0
48
Spread the love

Oleh Indrarti Purbawiyatni S, S.Pd
(Guru SMKN 1 Cikalongkulon)

Jika anda suatu saat bepergian kearah Ciranjang dari Cianjur, anda akan melewati sebuah perempatan jalan yang dikenal dengan sebutan Tungturunan, berada di wilayah Kelurahan Hegarmanah Kecamatan Sukaluyu. Kawasan ini sangat ramai dengan lalu lalang kendaraan dan orang-orang yang beraktifitas, karena lokasinya yang strategis dan merupakan jalur utama penghubung antara Bandung dan Cianjur. Begitu banyaknya orang-orang yang berseliweran di perempatan ini sehingga kita tidak memperhatikan mereka dengan baik, terkecuali seorang perempuan setengah baya yang berperawakan sedang, berkulit sawo matang, berpakaian lusuh dan berkerudung. Tingkah laku perempuan itu begitu unik, dia sering bertingkah seolah-olah tukang parkir, karena kebetulan terdapat toko retail yang berlokasi di tempat itu yang mana sering keluar masuk kendaraan dari dan ke toko tersebut, kadang-kadang juga bertingkah seperti seorang polisi lalu lintas yang sedang mengatur arus kendaraan, unik bukan? Ya, itulah Kalis perempuan setengah baya yang sering dianggap sebagai ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) oleh masyarakat sekitar..

Beberapa belas tahun yang lalu tidak jauh dari kawasan tersebut penulis pernah tinggal dalam sebuah kontrakan, sebagai pendatang baru di Cianjur tentu saja banyak yang penulis tidak tahu tentang situasi di sekitar kontrakan, terutama untuk membuang sampah. Suatu pagi saat akan membuang sampah, penulis tidak menyadari ada seseorang yang duduk didepan teras kontrakan, seorang perempuan yang berpakaian lusuh, kotor, dengan rambut acak-acakan, tentu saja penulis ketakutan dan memutar balik badan untuk masuk kedalam lagi, tapi terdengar perempuan tersebut bicara “rek miceun runtah, bu?” tentu saja mendengar itu penulis kaget, dan hanya menganggukkan kepala, “dieu ku urang we!” sahut perempuan itu, “urang piceun ka cikamuning!” ujarnya lagi.  

Sejak saat itu setiap pagi Kalis ( yang akhirnya penulis ketahui namanya dari tetangga ) selalu membantu membuangkan sampah, dia tidak banyak tingkah, kadang-kadang meminta makan, atau sekedar minum, dia senang seandainya diberikan uang sebesar 2000 rupiah sebagai upah membuang sampah. Kemudian penulis mengetahui bahwa Kalis memiliki seorang anak yang tinggal di kota lain bersama saudaranya. Tak habis pikir bagaimana mungkin ada seorang manusia yang membiarkan kerabatnya dalam keadaan seperti itu, tak ada tempat tinggal, makan sedapatnya, hidup tak menentu. Setiap hari saat berangkat bekerja, penulis sering bertemu Kalis di pangkalan ojeg,  setiap berpapasan selalu menyapa “sakola, bu?” dengan senyumnya yang khas dan seperti acuh tak acuh, dan Kalis tahu kalo penulis setiap minggunya selalu pulang kampung ke Bandung, karena selalu bertemu saat sedang menunggu bis dan lagi-lagi selalu bertanya “ka Bandung, bu?”. Seperti itulah kedekatan penulis dengan perempuan yang selalu dianggap ODGJ, yang selalu membantu setiap pagi, yang selalu kelihatan bahagia apabila diberikan uang 2000an, karena baginya uang itu sama nilainya, yang paling hapal adalah pecahan 2000an.

Penulis sempat tidak bertemu cukup lama dengan Kalis, sampai akhirnya kembali melihat Kalis sudah dalam keadaan berbeda, dengan pakaian yang cukup bersih dan berkerudung, dari yang penulis dengar rupanya ada orang baik hati yang membantunya membersihkan diri dan memberinya pakaian yang layak, dan juga membantu menyimpankan uangnya yang didapatkan dari belas kasihan orang-orang.

Setelah penulis berkeluarga dan pindah tempat tinggal, tidak pernah ada kabar berita tentang Kalis dan bahkan tidak pernah bertemu lagi. Setahun belakangan ini penulis bertemu lagi dengan Kalis yang rupanya hijrah dari tempat lama ke tempat baru yang tak jauh dari tempat tinggal penulis, mungkin perpisahan kali ini cukup lama sehingga dia sempat lupa dengan penulis saat bertemu pertama kali lagi, penulis sempat bertanya “Kalis, naha jadi aya didieu?” dengan cuek dan ekspresi bengong dia hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Dia mengerti orang berbicara, dia paham kalau seandainya disuruh melakukan sesuatu, dia mengerti mencuri itu tidak baik, dia selalu membeli kalau memegang uang, dia seperti layaknya orang normal dewasa tetapi berkelakuan seperti anak kecil, itulah Kalis yang tidak berubah dari saat pertama bertemu dulu.  Penulis memiliki rasa sayang dan iba tapi tidak tahu harus berbuat apa, hanya sering mengingatkan Kalis untuk tidak terlalu dekat dengan jalan raya, dan selalu mengingatkan kalau Kalis tertidur di emperan toko, dan selalu menyiapkan recehan untuk diberikan, hanya itu yang bisa dilakukan. Semoga ada orang-orang baik di luar sana yang bisa berbuat lebih lagi untuk seorang ODGJ yang baik hati seperti Kalis, bisa mengobatinya dan merawatnya dengan baik. Atau mungkin pemerintah daerah bisa lebih memperhatikan ODGJ ini dengan memberikan tempat tinggal dan pengobatan. Tanpa bermaksud apa-apa, penulis hanya ingin berbagi kisah tentang seorang manusia yang sungguh tidak beruntung, dan belajar dari semuanya bahwa kita patut bersyukur dengan apa yang kita punya, kesehatan jiwa raga, kesejahteraan, dan keluarga yang menyayangi. Semoga kita bisa memetik hikmah dari cerita ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here