JODOHKU

0
781
Spread the love

Oleh Olis Aisah, S.Pd.
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Aku memang seorang wanita dewasa, bukan gadis remaja lagi. Aku paling jengkel  kalau orang bertanya”Kok belum nikah?”

Menikah bukan perkara mudah dan aku bukan orang yang anti menikah tapi Allah belum pertemukan jodohku. Teman–teman satu angkatan sekolahku memang sih… hampir semuanya sudah menikah dan memiliki anak.

Suatu hari keluarga dari ibuku datang untuk meminta kedua orang tuaku menjodohkan aku dengan anaknya  yang tak lain adalah sepupuhku.

 “Gila rencana apa  ini? Sampai segitu mengerikannya aku, sampai harus menikahi saudaraku sendiri.” jelas aku menolak perjodohan dengan anak  bibiku itu.

Aku tau bibiku marah tapi aku tak peduli, jangankan dengan saudara, menikah  dengan tetangga saja aku piker-pikir dulu. Prinsipku aku harus menikah dengan orang yang tempat tinggalnya tidak berdekatan dan bukan saudara pula.

Tak begitu lama setelah aku menolak perjodohan itu, adik sepupuhku menikah dengan gadis lain pilihannya sendiri bukan karena perjodohan. Sedangkan aku masih tetap dengan statusku dan itu membuat kedua orang tuaku tambah khawatir,  tetapi aku yang menjalani kehidupanku santai-santai saja karena aku berkeyakinan Allah SWT pasti telah memilihkan jodoh untukku.

Lepas dari perjodohan dengan sepupuhku, hal yang tidak mengenakkan datang lagi mengganggu hidupku. Tokoh kampung menemui orang tuaku untuk menjodohkanku dengan seorang ustad yang beru selesai mondok di pesantren. Lagi-lagi aku menolak dengan berbagai pertimbangan, pertama umurku terpaut lebih tua dari ustad itu  dan yang lainnya aku tidak merasa cocok.

Kehidupanku berjalan seperti biasanya, walau kadang cerita-cerita miring tentang aku kadang terdengar, terganggu  juga sih… tapi aku tidak mau memperkeruh suasana aku tetap berjalan melewati liku-liku kehidupanku. Bukan salahku juga kalau diumurku sekarang, aku belum menikah tapi aku tidak mengganggu siapapun termasuk mereka, misalnya tebar pesona sama suami orang…kok bisa-bisanya orang ngurusi hidupku.

Setiap pagi aku menjalani rutinitasku sebagai seorang karyawati  rendahan di sebuah perusahaan milik pengusaha pribumi. Sejauh ini aku berlum tertarik untuk bergabung di perusahaan asing yang akhir-akhir ini menjamur di Negeri tercinta. Penghasilanku tak seberapa tapi Alhamdulilah bisa aku nikmati dengan kedua orang tuaku.

Sudah sekitar satu tahun aku bekerja di perusahaan itu, banyak teman yang aku miliki baik laki-laki maupun  perempuan. Setelah berteman lama dengan Kang Ferdy yang sudah kuanggap sebagai kakakku, suatu saat dia memperkenalkan aku kepada  temannya  seorang pria  bernama Dandy yang usianya tak jauh beda dari aku. Di awal pertemuan kami, aku tidak punya perasaan apapun pada dia. Malah aku tidak mengingatnya sama sekali.

Setelah dua bulan perkenalan kami  berlalu. Suatu sore ketika aku sedang duduk santai menemani Caca keponakku, seseorang mengetuk pintu. Aku membalikan badan untuk membuka pintu, melalui  kaca kulihat Dandy sudah berdiri di teras rumahku.  Kaget juga kok dia tahu rumahku. Aku mempersilakan masuk walau dengan sedikit grogi. Setelah duduk kutinggal Dandy dan Caca  di ruang tamu lalu aku berlalu kebelakang untuk mengambil air minum.

“Ada siapa Neng?” suara Bapak mengagetku.

“Ada temen Pak.” ucapku pelan.

Aku berlalu meninggalkan bapak di dapur untuk kembali ke ruang tamu dan kudapati Dandy sedang mengajak Caca berbicara.

 “Anak cantik siapa nama kamu?” Caca hanya menatap wajah Dandy, keponakanku yang baru mau berusia dua tahun itu merasa asing dengan Dandy sehingga dia hanya diam.

“Sayang, ditanya tuh, jawab dong.” Caca balik menatapku, aku mengerti maksudnya.

“Ini Om Dandy sayang, temen Ate Ita.” ucapku.

 “Ayo bilang sama Om, nama anak cantik siapa?” Dandy ikut nimbrung.

 “Caca, Om” ucap gadis kecil kesayanganku sambal berlari kepangkuanku.

Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki bapak ke ruang tamu.

“Ada tamu rupaya.” kata bapak lalu duduk mengobrol dengan aku dan Dandy.

Setelah kunjungan yang aku tak sangka-sangka selanjutnya Dandy jadi sering mengunjungiku, Dandy diterima dengan baik oleh keluargaku, Dandy sering mengobrol dengan bapak dan semua saudaraku. Saudara-saudaraku nampak cocok dengan Dandy. Mereka sering makan nasi liwet bersama walau aku tidak ada karena belum pulang kerja. 

Sampai detik ini antara aku dan Dandy tidak ada hubungan apapun selain pertemanan.

Suatu hari ketika aku sedang bekerja di kantor, sebuah wathssap masuk di Henponku, rasa penasaran mendorongku untuk segera melihat apa isinya.

“Ita, aku sedang berada di rumah kamu loh.” Wa dari Dandy.

“Kok bisa, emang ga kerja?” balasku.

“Kerjalah, aku baru pulang dari luar kota sekalian mampir, karena rindu kumpul keluargamu, terutama rindu kamu sih…” balas Dandy. Ada rasa berdesir dihati ketika aku membaca kalimat terakhir Dandy.

Sebelum aku sempat membalas wa-nya, Dandy kirim wa lagi. “ Pulang jam berapa?”

“Seperti biasa Pukul 15.00.” balasku.

“Dua jam lagi, cukup lama juga ya, bisa numpang ikut tidur dulu ga? badan rasanya capek banget kayanya ga bisa dipaksa untuk pulang ke Jakarta sekarang.” bebernya.

“Sebentar aku tanya ibu ya.” balasku.

“Aku tunggu.” balasnya

“Kata ibu boleh, nanti sebentar lagi ibu tunjukan kamarnya.”

Jam pulang kantor, seperti biasanya aku harus bereskan semua berkas, menyimpan leptop  dan merapikan meja kerjaku baru kemudian keluar dari ruangan untuk absen terlebih dahulu, sebelum pergi ke parkiran motor.

Di tempat parkir aku ketemu Kang Ferdy.

“Ta, Dandy katanya ada di rumah kamu, tadi dia wa Akang.” ucap Kang Ferdy.

“Iya,  tadi dia juga wa saya Kang, hayu atuh ke rumahku kalau kalau Akang mau menemui dia.” ajakku.

“Ga ah, nanti kalian keganggu, kalau dia ada perlu ke Akang pasti ke rumah, Akang duluan ya Ta.”

Aku hanya senyum, mendengar ucapan Kang Ferdy. kemudian  memacu sepeda motorku menerobos mendung sore itu.

Pukul  empat aku baru sampai halaman rumahku, lebih lama dari biasanya karena tadi hujan turun cukup deras jadi terpaksa aku berteduh dulu. Sebuah sepeda motor  PCX putih milik Dandy ada di teras rumahku. Ku buka jas hujan, lalu menggantungnya di paku yang ada di dinding.

“Ate, ini handuknya.” Caca menyodorkan handuk.

“Anak cantik, terima kasih ya sayang.”  kusentil hidung mancungnya. Dia berlalu sambil menjulurkan lidahnya bikin aku gemes.

“Baru sampai?” tiba–tiba suara Dandy terdengar dari belakang.

Aku membalikkan badan menghadap ke Dandy, dia berdiri mengenakan sarung, rupanya baru beres solat Asyar, mata Dandy menatap wajahku, sesaat kami bertatapan, aku segera sadar dan memalingkan muka karena malu.

“Aku tinggal ke belakang ya,  belum solat Asyar.” Kulihat dia mengangguk.

”Tenang Ta, jangan geer belum tentu dia suka kamu.”, batinku berkecamuk setelah melihat tatapan Dandy tadi.

Setelah beres mandi dan solat, ku lihat wajahku di cermin, untuk memastikan pakaian dan mukaku sebelum keluar menemui ibu dan tentunya Dandy yang dari tadi sudah menungguku.

Keluar dari kamar, ibu menarik tanganku mengajakku ke dapur.

 “Ada apa Bu.”ucapku

“Ibu mah yakin kalau Nak Dandy teh, naksir kamu.” Ibu tersenyum bahagia.

“Ibu jangan girang dulu ,Ita takutnya ibu kecewa, soalnya selama ini Dandy belum pernah ngomong apa-apa ke Ita.”

“Mudah-mudahan apa yang ibu lihat tidak salah ya Ta.”pungkas Ibu.

Aku hanya mampu mengangguk, terlihat sekali kalau ibu menginginkan aku segera berumah tangga.

“Ya Allah jika dia memang jodoh yang Engkau kirim untukku dekatkanlah tapi jika bukan jodohku… jauhkanlah sebelum kedua orang tuaku berharap lebih jauh.” batinku.

“Ita, bisa ngobrol sebentar.” Dandy memanggilku dari ruang tamu.

“Iya sebentar.” Saat ini aku merasa jantungku degdegan tidak karuan, aneh karena tak seperti biasanya. Aku duduk di kursi depan Dandy. “Ada apa Kang.”aku berusaha setenang mungkin untuk menutupi kegugupanku.

“Cape ya.” tanyanya sambil menatapku.

“Iya gitulah…tapi sudah biasa.” ucapku sambil sedikit menghindari tatapannya.

“Aku boleh nginep ga? Cape banget kalau harus pulang malam ini.” katanya.

“Nginep aja, jangan maksa pulang kalau lelah, takutnya nanti ada apa-apa di jalan.”ucap Ita.

“Antar aku ke rumah Kang Ferdy dulu  ya, ga enak kalau Akang  ke sini tapi ga ke rumahnya.”

“Tadi Kang Ferdy aku ajak ke sini tapi dia bilang ga ah, nanti kalian malah keganggu .” gitu katanya.

Setelah berpamitan kepada orang tuanya, Ita dan Dandy pergi menaiki sepeda motor menyusuri jalanan yang basah karena telah  diguyur hujan lebat.

“Ta…ga ada yang marah kalau kamu pergi sama aku seperti sekarang?”

“Pasti adalah, bahkan banyak.”ucap Ita pasti.

Seketika Dandy menghentikan laju sepeda motornya kemudian membuka helmnya. Dandy turun dari motor mengikuti Ita yang sudah turun duluan.

“Bener ada yang marah?”

Terlihat Ita menganggukan kepalanya.

“Maafkan aku ya…aku takut membuat hubungan kamu dengan calon kamu berantakan.”

“Ari Akang ngomong apa? Kok bawa-bawa calon aku segala.”

“Yang marah calon suami kamu, kan.”ucap Dandy

Ita diam saja dan tersenyum mendengar ucapan Dandy.

“Kok kamu malah senyum-senyum.”

“Terus aku harus gimana?”ucap Ita.

“Ya setidaknya berbuat apa kek…bagaimana kalau mereka sampai menyerang aku?”

“Kang yang marah itu orang tua dan saudaraku, kalau kamu macem-macem sama aku.”

“Oh, Ya Allah…kenapa aku kok bisa mikir kesitu ya?”ucap Dandy polos.

“Emang Akang pikir,  aku  bisa terima  kamu di rumahku …kalau aku sudah ada calon suami?”

“Dan itu artinya …Aku diterima jadi calon suamimu , calon  mantu, calon adik ipar…”Dandy memotong ucapan Ita dengan ekpresi bahagia.

“Siapa yang diterima? Ngelamar saja belum.”olok Ita.

“Wah kode keras nih…minta segera di lamar ya…” ucap Dandy

Dandy terlihat bahagia sedangkan Ita hanya tersenyum memandang Dandy yang memamerkan ekpresi senengnya.

“Akhir bulan ini ya.”ucap Dandy mantap.

“Maksudnya akhir bulan ini?”

“Aku dan orang tuaku melamar kamu…kalau perlu kita sekalian nikah.”Dandy menatap Ita dengan serius.

“Serius itu Kang?”

“Aku siap kalau kamu Siap.”ucap Dandy

“Coba saja nanti, Akang bicarakan dengan bapak.”

“Kalau orang tuaku siap…aku siap karena aku tidak mau pacaran, apalagi diusiaku yang hampir 28 tahun, itu hanya buang-buang waktu.”

“Yakin…?” ucap Dandy ingin mendapat kepastian.

Ita terlihat mengangguk. Saking senengnya Dandy mau memeluk gadis yang dicintainya tapi Ita menahan dengan tangannya dan menjauh,”Kita belum halal Kang.”

Sore yang dingin, diwarnai dengan jalan yang basah dan daun mahoni yang menunduk menjadi saksi niat suci dua anak manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here