IN HOUSE TRAINING (IHT) HARI KETIGA BELAJAR YANG MEMERDEKAKAN BERPROFIL PELAJAR PANCASILA

0
401
Spread the love

Oleh Ai Ratnasari M.Pd.
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Membahas tentang kurikulum yang kini sedang diimpelentasikan pemetaannya yakni SMK Pusat Keunggulan untuk melakukan pembaharuan di sekolah-sekolah yang ditunjuk dan ditetapkan sebagai SMK rujukan. SMKN 1 Cikalongkulon pada tanggal 12 Agustus 2021 pukul 08.00 WIB melangsungkan kegitan In House Training (IHT), dalam hal ini peserta IHT mengikuti kegiatan yang dilaksanakan secara kombinasi antara luring dan daring. Pada kesempatan pagi ini menghadirkan tiga narasumber yang merupakan guru dari SMKN 1 Cikalongkulon ketiga narasumber tersebut adalah peserta komite pembelajaran yang telah melaksanakan diklat/pelatihan tentang SMK Pusat Keunggulan selama 10 hari. Tentunya sebagai pengajar mereka memiliki pengetahuan yang mumpuni sebagai leader yang akan membimbing serta mengarahkan bagaimana melaksanakan pembelajaran siswa atau membangun iklim yang baru agar suasana kelas lebih kondusif sesuai target kurikulum SMK Pusat Keunggulan. Pada kegiatan tersebut acara dipandu oleh Ibu Indrarti Purbawiyatni sebagai pembawa acara. Ketiga nara sumber tersebut di antaranya. 1) Haris, S.PdI., M.Pd. 2) Irfan Ahmad, S. Pd. Dan 3) Dudi Firmansyah, M. Pd.

Mengawali kegiatan IHT hari ketiga panitia mencoba membangun antusiasme peserta dengan melakukan ice breaking yang dipandu oleh petugas piket hari itu. Hal tersebut sangat bermanfaat untuk memantik rasa semangat peserta IHT di awal pelatihan. Pada kesempatan hari itu ketiga pemateri berbicara tentang bagaimana peran guru di era pandemi ini dengan pilosofi yang diusung Ki Hajar Dewantara yang semboyan beberapa tahun silam masih melekat dibenak kita semua terutama para pengajar dalam hal ini guru-guru.  Mengingatkan kita kembali tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara ada tiga semboyan yang membuat kita yang berada di ranah pendidikan harus memaknai secara mendalam tentang ketiga semboyan tersebut. Pertama, Ing ngarsa sung tuladha. Kedua, Ing Madya mangun karsa. Ketiga, Tut wuri Handayani. Di antara ketiganya memiliki makna yang sangat mengena di hati para guru sebuah kepatutan dan keharusan bersinerginya suatu perlakuan seorang guru dalam mendidik dan membentuk karakter paserta didik.

Kegiatan IHT ini sebagai tindak lanjut setelah semua peserta komite pembelajaran menyelasaikan pelatihan. Hal itu diimplikasikan untuk menyamakan persepsi tentang kurikulum SMK Pusat Keunggulan yang menjadi kurikulum baru yang akan diterapkan dikelas X. kegiatan ini sebagai langkah dalam menyiapkan SDM yang dapat membawa perubahan seperti tuntutan dalam kurikulum SMK Pusat Keunggulan. Bagaimana membudayakan belajar yang merdeka di tengah-tengah pandemi  yang memberikan warna keprihatinan bagi dunia pendidikan saat ini. Tentunya dengan program-program yang telah digulirkan pemerintah tentang kebijakan yang mengatur alur pendidikan saat ini berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi peserta didik. “Pendidikan merdeka itu … berdaya upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup tumbuhnya budi pekerti (rasa-pikiran, roh) dan badan anak dengan Jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan, jangan disertai perintah dan paksaan.” (Ki Hajar Dewantara). Pernyataan tersebut diartikan bahwa kemerdekaan belajar itu mutlak milik anak didik, sebagai guru kita memberikan teladan dan pembiasaan agar mereka belajar dengan sendiri dari apa yang mereka lihat tanpa memberikan unsur perintah maupun paksaan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Haris, S.PdI., M.Pd. sebagai guru Agama di SMKN 1 Cikalongkulon pada kesempatan itu mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaannya, pembelajaran menggunakan alur  MERRDEKA itu memiliki makna.

  1. Mulai dari diri sendiri
  2. Eksplorasi konsep
  3. Ruang kolaborasi
  4. Refleksi terbimbing
  5. Demonstrasi kontekstual
  6. Elaborasi Pemahaman
  7. Koneksi antara materi
  8. Aksi nyata

Bagaimana seorang guru dalam memberikan pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan alur yang sudah ditetapkan seperti di atas. Arahkan anak sesuai vision dan passion yang mereka miliki dan kehendaki. Biarkan mereka mengeksplor kemampuan yang mereka miliki sesuai minat dan bakat mereka. Situasi  pandemi saat ini lebih memberikan keleluasaan peserta didik untuk belajar di mana ruang dan waktu tak membatasi mereka untuk belajar. Dengan belajar online peserta didik dapat belajar di mana dan di mana saja. “Kemerdekaan mengarah pada sikap penghargaan terhadap keunikan serta kekhasan masing-masing individu, aturan bersama diperlukan untuk menjaga agar kemerdekaan setiap pribadi tetap terpelihara dan terjamin.” Tegas Haris.

Senada dengan narasumber pertama, Bapak Irfan Ahmad, S. Pd menyatakan bahwa merdeka belajar diartikan sebagai unit pendidikan yaitu para guru dan peserta didik memiliki kebebasan dalam berinovasi dan bertindak dalam melakukan proses pembelajaran. Saat ini peran guru di kelas bukan lagi sebagai center di mana guru yang merupakan satu-satu sumber informasi tetapi era kini guru dituntut mengoptimalkan kemampuannya untuk mengenal peserta didik yang memiliki keunikan yang beragam. Harus dimiliki seorang pendidik yakni guru sebagai katalisator, fasilitator, motivator dll. Guru hari ini adalah yang selalu meng-upgrade kemampuan agar meningkatkan kemampuanya sebagai pendidik bagaimana saat ini peserta didik bukan objek yang dapat kita bentuk sesuai keinginan guru. Namun, saat ini peserta didik dapat merdeka untuk mengeksplor sesuai minat dan bakatnya. “Hal yang paling krusial di kelas bagaimana saat ini guru dapat menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga kehadiran kita dinantikan, bukan pembelajaran yang kaku dan monoton yang akan membuat anak jenuh dan bosan. Tetapi, mendorong mereka untuk berpikir kritis dan memiliki keberanian dalam menyampain ide dan gagasannya” tambah Irfan.

Lain hal yang diungkapkan oleh Bapak Dudi Firmansyah, M. Pd. Tentang profil pelajar pancasila beliau berpendapat bahwa dulu hanya gambaran profil pelajar pancasila sebatas penguatan tidak menjadi mapel utama. Namun, saat ini dengan kurikulum yang baru bahwasanya profil pancasila ini menjadi mapel utama dan yang menjadi sangat penting  untuk kurikulum saat ini. Beliau menambahkan bahwa merdeka belajar saat ini bagaimana peserta didik dapat memiliki karakter profil pelajar pancasila yang diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. SMKN 1 Cikalongkulon saat ini sedang dalam penerapan kurikulum SMK Pusat Keunggulan.

Mengenal apa itu profil pelajar pancasila menurut kementrian pendidikan dan kebudayaan profil pelajar pancasila adalah profil lulusan yang bertujuan menunjukkan karakter dan kompetensi yang diharapkan diraih dan menguatkan nilai-nilai luhur pancasila peserta didik dan para pemangku kepentingan. Bagaimana peserta didik memiliki keenam karakter profil pancasila di antaranya.

  1. Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak mulia.
  2. Berkebinekaan Global.
  3. Mandiri.
  4. Bergotong royong.
  5. Bernalar Kritis.
  6. Kreatif.

(Tujuan pendidikan Nasional dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3).

Keenam ciri di atas merupakan perwujudan  pelajar Indonesia yang harus melekat pada diri seorang peserta didik. Sebagai pelajar yang  menyadari bahwa pendidikan itu sepanjang hayat merupakan ciri pelajar yang memiliki profil pancasila. “Sebagai guru hendaknya mengarahkan para peserta didik agar mereka memiliki karakter profil pelajar pancasila dengan pembiasaan yang diterapkan di sekolah atau dalam kehidupan sehari-hari, untuk menumbuhkan karakter itu peserta didik dapat diarahkan untuk berkolaborasi mengerjakan tugas project based learning sehinnga pada implemtasinya peserta didik dapat menjiwai dan memaknai profil pelajar pancasila.” Jelas Dudi.

Berdasarkan pemaparan ketiga narasumber bahwa merdeka belajar yang memerdekakan harus berpusat/menghamba kepada peserta didik saat ini yang dikembangkan oleh kurikulum SMK Pusat Keunggulan dengan pendekatan blanded learning yang didukung teknologi digital dan virtual  semakin memberikan alur yang tepat untuk memerdekakan belajar. Namun, merdeka belajar tidak harus selalu berupa pembelajaran menggunakan teknologi digital, hal ini bagaimana guru dapat membangun pembelajaran yang menyenangkan dan unsur merdeka belajar dapat terintegrasi sesuai apa yang dibutuhkan peserta didik. Proses pembelajaran yang sejatinya dapat mengena hati peserta didik sehinngga image profil pelajar pancasila dapat dimiliki para pelajar Indonesia dengan alur pembelajaran Merrdeka belajar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here