HADIAH UNTUK BUNDA

0
73
Spread the love

Oleh: SYAIMA YULIANTI
XII ATP SMKN PP Cianjur

Berparas cantik, baik hati dan ramah itulah Laras Saputri. Laras Adalah anak dari keluarga yang cukup terkenal,dimana sang ayah Bagas Indrawan adalah seorang pemilik perusahaan tekstil terkenal di Bandung. Laras adalah anak tunggal, Ibunya Ayuni Saputri seorang ibu rumah tangga yang sering dipanggil “Bunda” oleh Laras. Bahagia, itulah yang mungkin Laras rasakan di dalam keluarganya, namun ternyata kebahagian itu hanya sementara semuanya berubah setelah kejadian malang menimpa keluarga mereka.

Sabtu sore 2014, terjadi peristiwa naas yakni tabrak lari yang menimpa ayahnya hingga harus dilarikan ke rumah sakit, namun ternyata takdir malah berkata lain, saat diperjalanan menuju rumah sakit ayah Laras sudah dinyatakan meninggal. Itu adalah hal yang paling berat untuk Laras, ia harus merasakan pedihnya kehilangan sosok seorang ayah yang menjadi pahlawan dan pelindung dalam kehidupannya untuk selama-lamanya. Meskipun berat, Laras berusaha untuk tetap tegar dan mengikhlaskan kepergian sang ayah.

“Dasar Pembunuhl!”, itulah perkataan yang paling mengejutkan dan menyakitkan yang harus ia dengar dari ibunya sendiri, ibunya menyalahkan kematian sang suami kepada anaknya, andai waktu itu Laras tidak membangkang dan menurut untuk tidak berlari ke jalanan, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. “Asing”, itulah yang kini laras rasakan dirumahnya, sudah 7 tahun berlalu semenjak kejadian itu yang menyebabkan nyawa ayahna terenggut, namun ibunya masih tetap tidak mengggap kehadirannya. “Pembunuh”, kata itulah yang sering dilontarkan ibunya saat berpapasan dengannya.

“Ya tuhan,Laras kangen bunda yang dulu, Laras pengen bunda sayang lagi, pengen dipeluk bunda, pengen makan bareng, pengen nyeritain semuanya ke bunda lagi.” keluh Laras sambil menangis dan memeluk kakinya.

Hari ini adalah hari minggu, dimana Ibu laras ada dirumah dan hari libur sekolah Laras tentunya. Semenjak ayahnya tiada ibunya sibuk mengurus perusahaan, kalaupun pulang pasti malam,dan Laras sudah tertidur.

Di meja makan terlihat ibunya sedang sarapan, usaha Laras untuk mendekati ibunya akan ia lakukan lagi.

“Bunda?” panggil laras.

Hening, tidak ada jawaban dari ibunya, Laras tidak pantang menyerah ia akan berusaha keras untuk membuat hubungan dengan ibunya kembali membaik

“Bunda, Laras boleh ga pe..” ucapannya menggantung, ibunya malah pergi begitu saja.

Laras mengusap dadanya.

“Ya tuhan sampai kapan bunda begini, Laras tau ayah meninggal gara-gara nolongin laras, tapi laras ga berharap kejadian itu terjadi, Laras kangen bunda.” Lirih laras, kini butir butir cairan bening bercucuran membasahi pipinya untuk kesekian kalinya lagi.

Bi inah selaku asisten rumah tangga disana menghampiri Laras.

“Yang sabar yah non, bibi tahu bunda sayang sama non,cuman mungkin bunda masih butuh waktu aja.” tuturnya menenangkna laras

“Tapi ini udah 7 tahun bi, udah lama banget.” balas laras sambil mengusap air matanya.

 “Bibi ngerti Non, Non yang sabar ya, kan masih ada bi inah, non bisa cerita apapun ke bibi,bibi siap 24 jam buat non.”tuturnya sembari menghormat ke Laras.

“Laras terkekeh, (bergumam dalam batinnya): “ia tidak menyangka ternyata masih ada yang peduli kepadanya”. Ia pun memeluk bi inah dengan erat, memang kenyataannya setelah kejadian itu laras selalu menceritakan keluh kesahnya kepada bi inah, ia juga sudah  menganggap bi inah seperti keluarganya sendiri.

Senin pagi ini Laras sudah siap dengan seragam putih abunya.

” Tuk… tuk … tuk…” suara langkah kaki terdengar dari tangga kamarnya menuju ruang makan.

Terlihat sosok ibunya sedang melahap sarapan paginya dimeja makan.Dalam hati kecilnya Laras selalu berharap ibunya mau berbicara kepadanya, walaupun hanya sekedar menyuruh membawakan barangnya ataupun memanggil namanya,tapi semua itu belum tewujud, ibunya masih keras kepala,ia sama sekali tak memperdulikannya. Bi Inah yang melihat kejadian didepannya itu segera menghampiri Laras.

“Eh non Laras yang cantik sudah siap berangkat sekolah ya…, ayo non sarapan dulu, bibi udah buatkan nasi goreng kesukaan non Laras.” (Tutur bi Inah).

Laras hanya mengangguk segera duduk dan mulai melahap sarapannya.Hening, keduanya sibuk dengan sarapannya masing-masing, tanpa ada  sapaan ataupun sekedar gurauan yang keluar dari mulut mereka.

Bi inah yang melihatnya merasa iba, terlebih non Laras yang tak pernah berputus asa untuk membuat hubungan dengan ibunya membaik, namun malah tak dipedulikan.

 Selesai makan, Laras bangkit dan mengulurkan tangan kepada ibunya untuk salam, lagi-lagi tak diperdulikan.

“Bunda, Laras berangkat sekolah dulu, Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam.” balasnya singkat.

Laras berbalik ke belakang untuk menghampiri bi I nah yang tengah membersihkan piring.

“Bi,Laras berangkat sekolah dulu yah.”Laras mengulurkan tangannya hendak salam.

“Eh non atuh ga usah salam ke bibi.” tungkasnya tak enak

“Gapapa bi, kan Laras udah menganggap bibi keluarga Laras juga. Bi Inah tersenyum dan mengangguk .Laras mencium tangan asisten rumah tangga yang ia anggap keluarganya.

“Ya sudah, non Laras hati-hati dijalan, jangan lupa baca doa non kalau melakukan sesuatu, belajar yang rajin.” Tungkasnya.

“Siap laksanakan.” Laras menghormat ke bi Inah.

Bi Inah terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepala. Kuat sekali anak ini, ia selalu berusaha tegar dan tersenyum dalam keadaan apapun.

Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata ibunya Laras memperhatikan keakraban sang anak dengan asisten rumah tangganya. Bulir air mata menetes dari matanya, namun dengan cepat ia usap.

“Brukkkkk.”  Terdengar suara benturan keras di jalanan perumahan tempat Laras tinggal.

Dengan cepat laras berlari menghampiri suara itu. Banyak orang yang berkerumun untuk melihat kejadian itu. Setibanya di sana terlihat seorang perempuan berusia sekitar 30 tahun terbaring tak berdaya dengan berlumur darah. Laras berusaha untuk menerobos kerumunan supaya ia bisa melihat dengan jelas siapa orang itu. Alangkah terkejutnya laras saat mengetahui perempuan itu adalah ibunya.

Dengan cepat Laras meminta tolong kepada warga disana untuk membantu membawa ibunya ke rumah sakit.

Di rumah sakit Laras sangat cemas, ia mondar mandir tak menentu, ia takut terjadi sesuatu hal pada ibunya.

“Ceklekk.” pintu UGD terbuka, dan menampakan seorang dokter laki-laki.

“Dok gimana keadaan bunda Laras?” tanyanya.

“Terjadi benturan hebat dikepalanya, sehingga ibu kamu mengalami kebutaan.” tutur sang dokter

Hati laras begitu sakit mendengar penuturan sang dokter, benteng pertahanannya runtuh ia tak sanggup menerima bahwa ibunya buta. Selama di rumah sakit Laras lah yang menemani dan marawat ibunya.

Beberapa hari kemudian

“Bunda sekarang makan bubur dulu, Laras yang suapain yah.” ajak laras kepada ibunya.

Ibunya menggagguk.

Setelah kejadian kecelakaan beberapa hari itu, Hubungan Laras perlahan membaik dengan ibunya.

“Besok kan ulang tahun bunda, mau kado apa dari Laras?”tanya Laras.

“Bunda mau melihat kembali laras, bunda mau jaga kamu, bunda mau menebus semua kesalahan bunda sama kamu.” jawabnya sembari meraba-raba mencari tangan laras untuk digenggamnya.

Laras mematung, air matanya menetes ia tidak tega melihat keadaan ibunya sekarang.

“Bunda bakalan bisa lihat lagi ko.”tuturnya langsung memeluk ibunya.

Keesokan harinya,bertepan dengan ulang tahun ibunya.

“Bunda ada kabar baik ,hari ini bunda bakalan dioperasi ada orang yang mau mendonorkan matanya untuk bunda.” Tutur laras, senang kepada ibunya.

“Memangnya siapa yang mau mendonorkan matanya untuk bunda” tanya ibunya kepada laras

” Kalau soal itu laras tidak bisa jawab bunda yang paling penting sekarang bunda bakalan bisa melihat lagi.”

Terlihat bunda laras menetaskan air matanya, dengan cepat Laras memeluk ibunya.

Kini di rumah sakit tengah dilakukan tindakan operasi donor mata untuk ibu laras.

Operasinya telah selesai dan berjalan lancar.

Datanglah seorang dokter ke kamar ibunya dan perlahan ia membuka perban yang terbalut di matanya. Ibu Laras membuka matanya pelan-pelan ,betapa terkejutnya ternyata ia bisa melihat kembali. Di dalam ruangan terlihat hanya asisten rumah tangganya dan dokter yang mengoperasinya.

“Bagaimana bu apa ibu sudah bisa melihat kami”  tanya dokter.

“Saya bisa melihat lagi dok.”jawabnya dengan senang

“Laras dimana bi?” tanyanya tiba-tiba, karena ia tidak melihat keberadaan sang anak disini.

Bi Inah saling bertatapan dengan sang dokter.

“Ibu sekarang lebih baik istirahat dulu.” tutur sang dokter.

“Tapi saya mau bertemu anak saya dok, Laras pasti senang.”jawabnya lagi

“Iya bu,tapi tidak sekarang yah.”

“Iyah bu, ibu istirahat dulu, nanti kalo ibu sudah pulih kita ketemu sama non Laras.”

Sorenya Bi Inah membawa ibunya Laras menggunakan kursi roda. Bi Inah membawa ibunya Laras ke arah pemakaman.

“Bi kenapa saya dibawa kesini?”tanyanya bingung

“Kita akan ketemu non Laras bu.” Tuturnya.

Ada prasangka buruk dalam hatinya, namun dengan cepat ia hilangkan, mungkin bi Inah membawanya kesini karena Laras sedang berziarah ke makam ayahnya.

Setibanya disana ada gundukan tanah baru dengan papan nisan yang bertuliskan “Laras Saputri”.

Bagaikan dipetir iang hari, gundukan tanah itu bertuliskan nama anaknya, anak yang selama ini ia acuhkan bertahun-tahun.

“Bi?” tanyanya lirih, berharap bi Inah akan menjelaskan semuanya.

“Iya bu, ini non Laras, dia sudah pergi meninggalkan kita buat selamanya.”

Dengan susah payah, ibu Laras turun dari kursi roda ia memeluk kuburan anaknya, ia menagis sejadi jadinya.

“Non laras mendonorkan matanya untuk ibu, tapi non Laras ga mau ibu tau kalau dialah yang mendonorkan matanya,ia ga mau liat ibu sedih.”jelas bi Inah

“Jadi kamu yang ngedonorin mata buat bunda, kenapa kamu ga jujur Laras, bunda lebih baik tidak bisa melihat dari pada harus kehilangan kamu, maafkan bunda Laras, bunda sudah salah selama ini, bunda nyesel.”tuturnya sembari memeluk kuburan sang anak.

Bi Inah memberikan sebuah surat berwarna merah kepadanya di sana tertulis “Teruntuk bunda”.

“Bunda sekarang bunda bisa lihat lagi kan?, tidak gelap lagi. Laras senang kalo bunda baca surat ini berarti operasinya bejalan lancar. Oh iya maaf yah bunda, Laras belum bisa jadi anak yang baik buat bunda, Laras selalu bikin bunda marah-marah. Nah di hari ini bertepan dengan ulang tahun bunda Laras ngasih hadiah mata Laras untuk bunda, Laras ga mau bunda sedih terus, maaf yah bunda Laras ga bisa jaga bunda lagi, ga bisa nyiapin makan buat bunda lagi, tapi bunda ga boleh sedih nanti Laras ikut sedih juga,kalo bunda bahagia laras juga bahagia. Bunda jaga diri baik-baik yah,bunda ga boleh telat makan sama jangan terlalu sibuk kerja nanti sakit, entar Laras sedih.Laras pamit yah Bunda.Laras sayang bunda.”

Ibu laras menangis kembali,a naknya kini pergi meninggalkan dirinya selama lamanya. Penyesalanlah yang kini ia rasakan,akibat amarah lah hubungan dirinya dengan sang anak jauh. Namun ini sudah terjadi dirinya harus bisa menerima dan memulai kehidupan seorang diri. Dan menjadikan ini sebagai pelajaran berharga untuknya bahwa amarah bisa membuat seseorang gelap mata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here