Spread the love

EKA AMALIA, M. Pd
(SMK NEGERI 1 CUGENANG –CIANJUR)

Hari Guru Nasional (HGN) diperingati pada tanggal 25 November setiap tahunnya. Peringatan hari guru nasional ini merupakan apresiasi serta penghargaan kepada seluruh guru di Indonesia. Pada tahun ini adalah peringatan hari guru nasional yang ke-76. Peringatan ini bersamaan dengan dengan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Tepat seratus hari setelah Indonesia Merdeka, Hari Guru Nasional turut menjadi salah satu perjuangan kemerdekaan bangsa melalui pendidikan. Pendidikan memiliki peran sangat penting bagi rakyat Indonesia untuk bisa meraih kemerdekaan dari tangan penjajah. PGRI lahir dari organisasi Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang berdiri pada zaman kolonialisme pada tahun 1912.

Anggota dari PGHB adalah para guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan pemilik sekolah. Yang pada umumnya bertugas di sekolah desa dan sekolah rakyat angka dua. Selain berdirinya PGHB, berdiri pula organisasi guru lain dengan berbagi corak misal profesi keagaaman. Organisasi tersebut seperti Persatuan Guru Bantu, Persatuan Guru Ambachtsschool (PGAS), Perserikatan Normaal School (PNS), Perserikatan Guru Desa dan sebagainya. Pada tahun 1932, PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) yang tidak disukai oleh para penjajah. Pada kata Indonesia mengisyaratkan semangat kebangsaan dan persatuan di antara guru serta tenaga kependidikan.

Setelah Belanda, Indonesia menghadapi Jepang yang melarang aktivitas PGI, menutup sekolah, dan melarang organisasi. Tetapi, setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, Indonesia berhasil melakukan Kongres Guru Indonesia pada tanggal 24-25 November di surakarta. Dalam Kongres tersebut disepakati, bahwa semua organisasi guru dengan berbagai latar belakang dihapuskan. Guru-guru yang aktif mengajar, pensiunan guru aktif berjuang, dan pegawai pendidikan berada dalam satu wadah PGRI. Dengan Kesepakatan tersebut sehingga PGRI terbentuk pada tanggal 25 November 1945 seratus hari setelah proklamasi Kemerdekaan.

Bagaimana gambaran profil guru sekarang ?

Dunia pendidikan nampaknya perlu terus mentransformasi diri agar bisa menyesuaikan sesuai kebutuhan abad 21 dan mempersiapkan peserta didik memasuki dunia baru. Diperlukan sosok guru yang mampu menjalankan peran kompleks dan mampu menyesuaikan dengan tuntutan kompetensi guru abad 21. Selain itu guru tersebut idealnya merupakan seorang sosok atau profil guru yang efektif dalam memfasilitasi pembelajaran abad 21. Itulah mengapa menjadi penting bagi kita untuk memiliki gambaran jelas profil seorang guru abad 21 yang benar-benar diharapkan oleh peserta didik abad 21 dan siap mengantarkan peserta didik memasuki dunia baru. Pemerintah telah menetapkan 4 kompetensi namun secara penampilan kita perlu tampil memesona di hadapan peserta didik karena dapat memberikan sentuhan langsung yang berpengaruh kuat terhadap motivasi belajar peserta didik. Guru memesona yang selalu penuh semangat, canggih, humoris, cerdas membuat analogi dan metafora, mampu berempati dan memahami konteks berpikir peserta didik. Abad 21 menuntut peran guru yang semakin tinggi dan optimal. Sebagai konsekuensinya, guru yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman semakin tertinggal sehingga tidak bisa memainkan perannya secara optimal dalam mengemban tugas dan menjalankan profesinya.

Undang-undang No.14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 10 ayat (1) kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Artinya diselengarakannya Pendidikan Profesi Guru (PPG) dimaksudkan agar guru memiliki kompetensi sebagaimana yang dimaksud dalam Undangundang tersebut. Guru yang memiliki kompetensi memadai sangat menentukan keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan. Penjelasan kompetensi guru selanjutnya dituangkan dalam peraturan menteri Pendidikan Nasional No 16 tahun 2007 tentang kualifikasi akademik dan kompetensi guru yang berbunyi bahwa setiap guru wajib memenuhi kualifikasi akademik dan
kompetensi guru yang berlaku secara nasional.

Abad 21 yang ditandai dengan kehadiran era digitalisasi sangat berpengaruh pada pengelolaan pembelajaran dan perubahan karakteristik peserta didik. Pembelajaran abad 21 menjadi keharusan untuk mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi, serta pengelolaan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Pola pembelajaran berpusat pada guru (teacher centred) menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centred) karena sumber belajar digital dan lingkungan yang bisa dieksplorasi melimpah. Guru tipe 4 berperan sebagai fasilitator, mediator, motivator sekaligus leader dalam proses pembelajaran. Pola pembelajaran konvensional bisa dipahami sebagai pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah (transfer of knowledge) sedangkan peserta didik lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal. Kemampuan pedogogi dengan pola konvensional dipandang sudah kurang tepat dengan era saat ini.

Bagaimana menjadi guru yang memesona di abad 21 ?

Guru abad 21 mempunyai pemahaman bahwa peserta didik bukanlah gelas kosong yang harus diisi terus-menerus, namun peserta didik senantiasa berinteraksi dengan data dan informasi. Guru tidak berfokus pada penyajian pengetahuan sebatas sebagai fakta dan konten, namun mempunyai orientasi pengembangan keterampilan penting abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif,
komunikasi, dan kolaborasi. Guru yang juga aktif memahami konteks berpikir peserta didik dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Selain itu, guru mengajarkan materi pelajaran secara mendalam dengan banyak contoh dan fondasi kuat pengetahuan faktual. Selain memahami materi juga menguasai strategi pembelajaran yang memudahkan peserta didik belajar. Lebih penting lagi, guru harus METAL (Melek Digital) . Efektivitas pembelajaran abad 21 salah satu caranya dicapai melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Syarat guru di abad 21 adalah memiliki keterampilan mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran.

Guru dalam melaksanakan pembelajaran di sekolah menunjukkan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Salah satu yang dapat ditunjukkan adalah penampilan memesona di depan peserta didik. Guru yang memesona adalah guru yang penjelasannya mudah dipahami, penguasaan keilmuan benar, canggih menguasai teknologi, guru bisa menjadi teman belajar, pandai membuat metafora atau perumpamaan, humoris namun tegas dan disiplin, mau mendengar peserta didik, berempati atas kondisi peserta didik, pandai mengelola kelas, dan memiliki rasa kesepenuhatian dan menyadari apa yang dilakukan. Hal tersebut dapat menarik perhatian peserta didik. Selain memesona untuk memotivasi peserta didik, seorang guru harus pandai memanfaatkan media
pembelajaran, alat dan bahan pembelajaran. Kompetensi guru untuk memfasilitasi dan menginspirasi peserta didik, serta menumbuhkan kreativitasnya. Tentunya harus diawali dengan penguasaan materi yang baik. Selain itu, guru mampu menggunakan teknologi untuk memfasilitasi pengalaman belajar yang menumbuhkan kreativitas peserta didik.

Abad 21 merupakan abad penuh tantangan dimana pendidikan diharapkan mampu menumbuhkembangkan potensi peserta didik. Tantangan abad 21, guru harus mentransformasidiri dalam era digital dengan terus mengembangkan kreativitas dan inovatif. Dunia pendidikan perlu terus mentransformasi diri agar bisa menyesuaikan sesuai kebutuhan abad 21 dan mempersiapkan peserta didik memasuki dunia baru.

Selamat Hari Guru Nasional ke – 76 untuk seluruh guru di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here