Spread the love

Oleh Etik Sukmawati, S.Pd, M.M
(Pengajar di SMKN 1 Cikalongkulon)

Kata “Gagap” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti gangguan bicara (kesalahan dalam ucapan dengan mengulang-ulang bunyi , suku kata atau kata). Hal ini yang melatarbelakangi tulisan saya kali ini, gagap antri yang saat ini banyak sekali kita temui di aktivitas-aktivitas yang menuntut kita untuk bisa berbudaya antri namun banyak sekali orang yang masih kedapatan mengalami ganguan dalam mengantri.

Suatu hari saya pergi ke suatu tempat wisata yang menyediakan lift untuk menuju pintu keluar  yang lumayan panjang  dan menanjak  sehingga banyak ibu-ibu yang membawa anak dan orang-orang tua yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Untuk dapat naik ke lift tersebut, pengunjung wajib membeli karcis dan mengantri untuk bisa mendapat giliran masuk ke dalam lift. Saya bersama ketiga anak saya dan suami memilih menggunakan fasilitas lift karena anak-anak cukup lelah setelah berjalan mengitari tempat wisata. Saya membeli karcis dan masuk ke dalam antrian bersama anak anak. Tiba-tiba sekumpulan anak muda pria dan wanita berbaju hitam sembari tertawa-tertawa membeli karcis dan masuk ke barisan yang bukan antrian. Kemudian ada salah seorang ibu yang membawa anaknya menegur mereka untuk mengantri namun salah satu wanita di kelompok itu justru marah-marah dan merasa mereka benar karena dia berpikir dia orang terkenal dan populer jadi  harus diberi jalan khusus padahal teguran yang diberikan ibu tersebut lembut dan masuk akal. Sang Ibu itu juga menegur petugas yang menjaga lift namun oleh penjaga lift kumpulan anak muda tersebut memang diperlakukan special dan diberikan jalan untuk segera masuk lift dan mengabaikan kami yang sudah antri. Sayapun masih bingung kenapa kami disana semua diam dan hanya ibu tersebut yang berani menegur, saya hanya memberi nasihat kepada anak- anak saya supaya jangan berbuat seperti itu dengan berbisik karena itu perbuatan tidak baik. Setelah saya duduk di lift saya baru berpikir kenapa saya diam saja, seharusnya semakin banyak orang yang menegur pastinya gerombolan anak muda kota yang merasa populer itu menjadi malu dan mereka mendapatkan pembelajaran tentang budaya mengantri. Kejadian seperti ini pasti sering saudara temui.

Kejadian berikutnya ketika saya harus melewati jalan yang sedang diperbaiki sehingga kita harus bergantian mengantri untuk bisa lewat di jalan yang hanya bisa dilewati oleh satu kendaraan. Ketika kami sedang diberi kesempatan jalan ternyata ada beberapa dari beda arah yang menerobos antrian sehingga beberapa mobil mengalami kesulitan berjalan karena beresiko menabrak tebing atau mengenai kawat di jalan yang sedang diperbaiki dan akibatnya kemacetan terjadi ditengah jalan yang sedang diperbaiki sehingga orang-orang yang ingin melintas di jalan tersebut harus mengantri lebih lama karena macet.

Dari kedua kejadian diatas maka saya membuat judul “Gagap Antri” yang saya bisa artikan sebagai gangguan dalam berbudaya antri. Dalam kasus gagap baca atau gagap hitung, orang yang mengalaminya memerlukan terapi tersendiri supaya bisa lancar dalam membaca dan menghitung. Begitupun dalam gagap antri perlu adanya terapi supaya bisa terbiasa dan menjadi kepribadian dari orang tersebut bisa berupa diberikan pemahaman, diingatkan melalui nasihat, teguran hingga hukuman yang diberikan jika melanggar antrian.

Kata antri sendiri memiliki arti berdiri berderet-deret memanjang menunggu untuk mendapat giliran. Kegiatan mengantri sering kita lihat dalam aktivitas di bank, pelayanan public, mini market, transportasi umum dan juga toilet. Dalam suatu penelitian pernah dijelaskan bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari ketertiban masyarakatnya dalam mengantri. Semakin tertib masyarakatnya dalam mengantri maka semakin majulah negara tersebut. Untuk itu kita perlu menanamkan budaya mengantri sejak dini kepada anak-anak kita sehingga bisa menjadi bagian dari pribadi mereka baik melalui pembelajaran di sekolah maupun nasihat atau pembiasaan yang dilakukan di keluarga.  Banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menerapkan budaya antri sedari anak-anak. Manfaat tersebut antara lain :

  1. Belajar menghargai hak orang lain. Dalam mengantri orang yang datang duluan mendapatkan hak untuk lebih dulu dilayani.
  2. Belajar bersabar. Dalam mengantri kita akan berusaha mengendalikan emosi kita sehingga bisa bersikap adil terhadap orang lain.
  3. Belajar konsekuensi terhadap yang kita lakukan. Jika kita datang terlambat maka kosekuensinya harus menunggu giliran lebih lama dalam antrian.
  4. Belajar mengatur waktu. Jika ingin mendapat pelayanan pertama maka kita harus datang lebih awal dan memperhitungkan waktu yang dibutuhkan.
  5. Belajar bersosialisasi. Ketika kita menunggu giliran maka kita bisa berkenalan atau ngobrol dengan orang yang juga sedang mengantri.
  6. Belajar berani. Ketika ada orang lain yang menyerobot antrian sebaiknya kita berani menegur karena kegiatannya merugikan banyak orang.

Cara paling ampuh dalam mengajarkan  budaya antri kepada anak- anak kita adalah dengan memberi contoh kepada mereka bagaimana kita bersabar dan menghargai orang lain ketika mengantri sehingga mereka dapat meniru hal yang kita lakukan ketika kita sedang mengantri. Mari kita berantas gagap antri dari diri kita dan dari anak-anak kita supaya bangsa kita dapat menjadi bangsa yang berbudaya dan maju karena mengantri termasuk cerminan profil pelajar Pancasila.  Masihkan anda gagap antri hari ini ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here