DIPAKSA DEWASA OLEH KEADAAN

0
169
Spread the love

Oleh Hj. Ai Aneu Masyruroh, S.Pd., M.M
Guru SMKN PP Cianjur


Kisah ini diambil dari kisah nyata seorang anak perempuan yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Cerita ini berawal dari hari Rabu 17 Febuari 2021, hari di

mana sebuah keluarga kehilangan salah satu anggota keluarga yang paling berarti di keluarga tersebut, yakni seorang wanita, seorang istri, dan sekaligus seorang ibu dari kelima anaknya, Ibu Elin namanya. Beliau telah mengembuskan napas terakhirnya di sebuah rumah sederhana. Namun, terlihat cukup nyaman. Semasa hidupnya almarhumah berprofesi sebagai buruh harian lepas, sama seperti suaminya. Kelima anak Ibu Elin kini tumbuh dengan mewarisi kepribadian ibunya, baik hati, murah senyum, penyabar, rajin, dan tekun. Ibu Elin meninggal dunia karena penyakit diabetes dan tekanan darah rendah yang dideritanya. Penyakitnya itu telah menggerogoti badannya yang tadinya padat berisi berubah menjadi hanya tinggal tulang berbalut kulit .

 

Kepergian Ibu Elin pastinya meninggalkan duka yang mendalam di keluarganya. Saat itu baru anak yang pertama yang sudah berkeluarga, dan ikut suaminya tinggal di Bandung. Anak yang ke dua sampai ke empat masih sangat membutuhkan sosok ibu yang mengayomi, dan mengarahkan untuk menjadi mandiri dan menata masa depan, meskipun masih ada seorang ayah.  Namun demikian terkadang tetangga juga kurang memikirkan perasaan anak-anaknya almarhumah Ibu Elin. Belum genap satu Minggu Almarhumah meninggal dunia, para tetangga sekitar rumah Elin sudah rame ingin menjodohkan suami almarhumah, sebut saja namanya bapak Doni, dengan seorang janda beranak 6 yang merupakan saudara ibu Elin sendiri, bahkan teman sepermainan ibu Elin di masa kecilnya. Ketika mendengar hal itu, semua anak ibu Elin sangat terpukul dan pastinya tak merestui sama sekali akan hubungan tersebut. Meskipun  restu anak tak akan berpengaruh besar terhadap keputusan sang ayah namun tetap saja semua anak ibu Elin menolak keras, dan terang terangan menolak hubungan itu, bahkan anak kedua ibu Elin mengancam tak akan pulang ke rumah sampai kapan pun, jika pernikahan itu terjadi. Kejadian itu membuat keluarga almarhumah ibu Elin dan bapak Doni semakin larut dalam kesedihan.

Anak almarhumah Ibu Elin yang ke empat sebut saja namanya Rania, dia  tampak sangat terpuruk atas meninggalnya ibu yang sangat ia cintai, dan Rania lah yang menemani sang ibu ketika terbaring di sebuah rumah sakit di daerah Cianjur. Satu Minggu penuh Rania menjaga ibunya. Ibu Elin kelihatan sangat tersiksa dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh, oleh karenanya ibu Elin jadi agak sedikit rewel dan tidak sabar sama anak-anaknya.  Hal itu pula yang dirasakan oleh Rania, yaah kadang-kadang Rania merasa jengkel ketika menghadapi sifat keras kepala ibunya.  Terkadang Rania ingin pergi dulu ke luar dari ruangan rawat inap ibunya, untuk sedikit menghirup udara segar dan tak suntuk terus menerus berada di dalam ruangan, namun hal itu ia urungkan mengingat kondisi ibunya yang belum stabil. Setelah satu Minggu lamanya ia berada di rumah sakit yang terkadang bergantian jaga dengan kaka-kakanya, Ibu Elin diperbolehkan pulang meskipun saat itu kondisinya malah semakin memburuk. Kadar gula darah beliau saat itu 500, terbilang sangat tinggi diatas rata rata, namun para dokter menyarankan untuk pulang, dan menurut dokter si pasien akan lebih baik kondisinya jika dirawat di rumah, dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Belum genap satu Minggu ibu Elin di rawat di rumah, ternyata Allah berkehendak lain, Allah lebih menyayangi almarhum Ibu Elin dan hari itu almarhum Ibu Elin dipanggil Yang Maha Kuasa.

Sungguh sebuah pukulan yang besar bagi Rania, penyesalan demi penyesalan datang silih berganti bagai tak ada hentinya, Seolah-plah hancur sudah kehidupan Rania. Rania yang kini tinggal hanya berdua bersama sang adik, karena kakak pertamanya pindah lagi ke kontrakan bersama suaminya, sedangkan kedua kakaknya yang nomor dua dan nomor tiga bekerja di suatu perusahaan tekstil di Bandung. Hari hari yang dulu sangat membahagiakan bagi Rania kini berubah jadi hari hari yang berat, dimana ia harus berusaha kuat dan selalu tersenyum di depan adiknya, agar adik bungsunya itu tumbuh dengan kepribadian yang baik. Terlebih lagi adiknya ini laki-laki, Rania khawatir kalau sampai adiknya terpengaruh lingkungan yag kurang baik. Oh iya bapaknya Rania hanya diizinkan pulang satu kali dalam seminggu oleh Bosnya, bapaknya sekarang bekerja merawat sapi di sebuah peternakan sapi. Rania beserta adiknya masih bersyukur karena setiap satu minggu sekali, bapak Rania pulang ke rumah untuk memberikan uang mingguan kepada anaknya meskipun tak banyak tapi cukup untuk mengganjal perut anak nya.

Rania yang kini menginjak usia 17 tahun, dia dipaksa dewasa oleh keadaan. Dia sekarang duduk di kelas XI sebuah SMK Negeri di Cianjur. Disamping tugas sekolahnya sendiri yang menumpuk, tuntutan guru yang memaksa anak didiknya untuk selalu mengerjakan tugas tepat waktu, terlebih sekarang musim pandemic, pembelajaran sebagian besar dilaksanakan secara daring, tugas sekolah yang semakin hari semakin banyak. Dia juga harus mengurus adiknya, mendampingi sang adik untuk belajar dan mengerjakan tugas, belum lagi ia harus putar otak agar uang yang diberikan sang ayah cukup untuk satu Minggu kedepan. …Berbagai tekanan yang ia hadapi, bertambah lagi dengan gosipan tetangga yang ia dengar, , ,Hal ini karena Rania di sekolah cukup aktif di organisasi, sehingga ia bayak kegiatan dan menuntut dia pulang sore, yang menyebabkan tetangga yang suka bergosip, sebagian mereka menyangka Rania pergi main dengan pacarnya. Huuuh rasanya semakin membuat Rania stres , lelah dengan kehidupan yang Rania alami. Namun apalah daya ”hidup harus dinikmati bukan disesali” itu yang menguatkan Rania selama ini walau begitu tak seterusnya kuat. Rania tetap kuat menghadapi masalah,  walau terkadang Rania menangis di malam hari karena terlalu banyaknya beban yang ia pikul sendiri.

Memandangi foto wajah gadis kecil yang tertawa riang, membuat hati Rania teriris. Begitu indah dan bahagia masa kecilnya namun begitu pahit yang ia rasakan sekarang.  terbersit di pikiran Rania untuk mengakhiri hidupnya namun itu takkan bisa menghilangkan masalah yang ada, malah menambah masalah. Rania kecil yang selalu tertawa dan hiperaktif kini berubah jadi anak yang lebih suka menyendiri dan lebih irit dalam berbicara.

Selalu terselip dalam doanya: “Semoga Allah selalu memberi kekuatan dalam menjalani proses kehidupan ini yang sesungguhnya sudah ada dalam scenario Allah. Semoga hamba dapat melewati semuanya, hamba yakin Allah tidak pernah tidur, mengurus makhluk-Nya. Semoga suatu saat nanti saya bisa merasakan hikmahnya di balik tempaan saat ini, dan saya pun bisa meraih kebahagiaan di dunia dan di Akhirat, Aamiin.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here