DIARY BIRU

0
273
Spread the love

Oleh Olis Aisah, S.Pd.
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Mentari masih belum menampakkan wajahnya ketika kami memasuki daerah perkampungan.  Bis yang membawa kami menyusuri jalan, mulai kelelahan dan terbatuk ketika  jalan  mulai menanjak. Aku duduk di pinggir kaca sehingga dengan leluasa bisa melihat  jalan yang baru dilewati, nampak  berada di bawah nan jauh disana. Sesekali aku melirik Jimmy, Sigunung es yang diam-diam sering hadir di hatiku. Jimmy duduk bersisian dengan  Andrian, nampak keduanya tertidur pulas. Mataku kuarahkan ke keluar, tiba-tiba beberapa ekor kerbau yang digiring pengembala menyebrangi jalan yang akan dilalui bis,  Pak sopir dengan cekatan menginjak rem untuk memberi kesempatan kepada sekawanan kerbau ituuntuk  menyebrang lebih dulu.  Mataku melihat sekeliling dan lagi-lagi berhenti pada sosok laki-laki yang sering bertamu di hatiku, siapa lagi kalau bukan Jimmy.  Jimmy mahasiswa fakultas hukum dua tahun lebih dulu dari aku. Kini dia sudah  terbangun, kemudian merapihkan rambut dan membetulkan posisi duduknya.

Setelah melewati tanjakan yang meliuk , kini bis sampai di atas bukit. Di tempat ini tanahnya lebih datar dan cukup luas. Beberapa bis sudah tampak berjejer di tempat parkir. Seorang kondektur berseragam biru sedang mengatur letak bis. Tak lama beberapa penumpang  warga Negara Asing  turun dari bis berwarna hijau  yang  ada tulisan Jamparing Asih.  Dari  fisiknya, sepertinya mereka  bukan wisatawan dari  Asia, kulitnya putih kemerahan dengan warna rambut sudah bisa dipastikan yaitu pirang.  Mereka sepertinya berasal dari benua Eropa.

Bis yang kutumpangi sudah berhenti tak jauh dari bis yang mengangkut tourits mancanegara tadi, beberapa orang temanku mulai berdiri  kemudian   berjalan menuju pintu keluar  bis,  yang ada di depan dan  juga di belakang. Aku masih duduk mempersilakan yang lain lebih dulu keluar. Kulihat Jimmy berjalan mendekatiku, dugaanku dia tidak mau keluar pintu belakang karena mungkin ngantri.  Ternyata dugaanku meleset karena dia sengaja berdiri di samping tempat dudukku. Dadaku seperti biasanya mulai dak dik duk tidak karuan.

“Ayo Niss, kita turun?”ucapnya pelan. Aku hanya bengong tak mampu berbuat apa-apa, tak kuduga sama sekali. Dia si gunung es yang terkenal dingin dan tak perduli, kini  rupanya mulai mencair dan memulai percakapan denganku. Samar aku mengangguk tanda setuju. Kugendong tas ranselku yang berisi peralatan mandi, baju ganti dan beberapa makanan kecil. Tak lupa mantel yang kusimpan di sandaran jok kuambil dan kutenteng. “Sini aku bawakan tasmu.” Jimmy mengambil tas dari tanganku tanpa menunggu persetujuanku. Aku hanya membiarkan  hal itu terjadi tanpa protes apapun kemudian  turun mengikuti Jimmy dari belakang.

Kami memilih duduk di sebuah bangku kayu  yang agak terpisah dari tempat teman serombongan. View yang indah mengelilingi tempat yang kami singgahi, warung-warung yang menjajakan makanan  berjejer rapi di  sebelah kanan sedang di sebelah kiri sebuah tebing yang dihiasi  air terjun  memanjakan mata,  sungguh karunia Allah yang sangat indah .

 Suasana terasa lebih fress, karena rembusan angin semilir  yang terasa dingin.  Ada rasa yang berbeda di hatiku apalagi sejak turun dari bis, Jimmy tak mau jauh-jauh dariku. Ardian yang waktu di bis tadi duduk bersebelahan dengan Jimmy, berdehem menggoda ketika dia melintas di depan  kami.

 “Brisik ah, udah sana temani Rina.” ucap Jimmy kepada Ardian. Ardian hanya nyengir kuda memperlihatkan giginya yang rapi.  

Sikap Jimmy berubah seratus delapan puluh derajat jadi manis dan enak diajak ngobrol. Aku berusaha tidak memperlihatkan rasa sukaku, bagaimana pun aku perempuan tidak baik mengumbar rasa sukaku kepada lawan jenis.

Kak Rijal ketua rombongan meminta kami untuk kumpul sebelum kami  makan siang . Aku dan Jimmy bergegas pergi masuk ke dalam kerumunan ,  Kak Rijal sudah berada di tengah lingkaran itu. Terdengar Kak Rijal memulai percakapan untuk menyampaikan kegiatan yang akan kami lakukan selama di tempat ini. Aku berdiri bersebelahan dengan Anita.

“Asyik,  ada yang lagi PDKT nih.” Anita menggodaku.

Aku hanya tersenyum tanpa berucap apapun. Untuk menghindari tatapan Anita yang cengar-cengir  menggodaku, aku menoleh ke seberang lingkaran  tapi tanpa kuduga aku malah  beradu pandang dengan Jimmy yang tersenyum manis kepadaku. Aku segera  menunduk karena malu,  badanku  terasa melayang ke angkasa dan  dadaku bergemuruh hebat.

            “Oh, alah ini toh rasanya jatuh cinta.” Aku memang bukan anak ABG tapi urusan jatuh cinta aku mungkin kalah dari siswa-siswi SMP. Aku anak bungsu dan perempuan satu-satunya dikeluargaku. Jarakku dengan  kakakku cukup jauh yaitu delapan tahun. Kebayang kan? kalau aku jadi  bidadari yang selalu dijaga dua orang bodiguar yaitu kakakku. Tak terasa kini usiaku hampir dua puluh satu tahun dan kalau tidak ada halangan aku tiga tahun lagi menjadi seorang sarjana ekonomi  dan sampai saat ini aku belum pernah berpacaran.  Sekarang kedua kakakku sudah berkeluarga dan masing-masing sudah punya anak, dan  itu artinya mereka lebih konsen menjaga anaknya dibanding aku.   Suatu hari Kak Arya pernah berbicara kepadaku. “Nissa sekarang kamu harus sudah bisa menemukan laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupmu, pilihlah laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak neko-neko!”

Sejak saat itu aku sering memperhatikan laki-laki  satu kampus  dan pilihanku jatuh kepada Jimmy seorang laki-laki yang di juluki Sigunung es  oleh gadis-gadis cantik di kampusku. Tapi aku adalah aku, seorang gadis yang tak pandai  menarik perhatiaan lawan jenis, termasuk menarik perhatian Jimmy. Perhatianku kepada Jimmy sudah cukup lama tapi sepertinya Jimmy cuek-cuek saja. Mungkin juga belum ada satu kesempatan, aku dan Jimmy pergi bersama. Tapi kini aku hampir tak percaya dengan kehangatan yang dia perlihatkan kepadaku.

Senja mulai merayap menyambut datangnya malam, mentari berwarna jingga keemasan bersembunyi di balik awan. Suasana di tempat itu tambah ramai, banyak mobil-mobil pribadi yang berdatangan memenuhi area parkir. Setelah makan dan salat Asyar  aku dan Nita  bercakap-cakap mengagumi ciptaan Allah yang terbentang dihadapan kami. Tiba-tiba Ardian dan Jimmy datang.

“Hai gadis-gadis cantik, kita jalan ke lembah yuk!” ajak Ardian.

“Siapa takut, ayo.” Nita mengandeng tangan Ardian dan mereka jalan berdua di depan aku dan Jimmy.

“Yuk Niss.” Jimmy mengajakku. Kami berjalan bersisian melintasi jalan menurun, sesekali Jimmy memberikan tangannya untuk aku pegang jika kebetulan melewati jalan yang becek dan licin. Nita dan Ardian entah sudah sampai dimana, keduanya telah menghilang dari hadapan kami..

Jimmy dan aku  telah sampai di lembah dekat air terjun itu bermuara. Banyak sekali pengunjung yang sedang mandi atau sekedar berbasah-basahan. Jimmy mengajakku berdiri agak menjauh dari tempat itu. Beberapa orang muda-mudi nampak berada di sana. Dari tempat ini  aku dan Jimmy bisa melihat dengan jelas aktivitas pengunjung di air terjun itu, tanpa harus terkena cipratan air.  Gemuruh suara air terjun ditambah lagi suara pengunjung yang sedang tertawa,  jeritan anak yang sedang bercanda, bahkan sekedar bercakap-cakap membuat aku dan Jimmy harus lebih berdekatan kalau ingin berbicara. Aku merasa kikuk karena tidak biasa berdekatan dengan Jimmy begitupun sebaliknya. 

“Niss boleh aku bertanya sesuatu ?” suara Jimmy agak gemetar memecah keheningan. Aku  hanya mengangguk samar.

“Maaf kalau aku lancang dan salah menafsirkan, betul kamu suka sama aku?”

Nissa hanya diam mematung tak mampu menjawab pertanyaan Jimmy. Tangannya memainkan daun ilalang yang ada di depannya. Jimmy paham apa yang dirasakan gadis di sampingnya.

 ”Jangan dijawab kalau tak berkenan, aku hanya memastikan apa yang kamu tulis di sini.”  Jimmy menyodorkan sebuah buku diary berwarna biru. Annisa sangat kaget kenapa diary yang dicarinya selama ini, ada pada Jimmy? Mukanya seketika menjadi merah, malu dan marah bercampur aduk.

 “Dari mana Kak Jimmy dapatkan  diary aku?”

 “Jangan marah dulu nona cantik…aku tidak mencuri kok, aku menemukan diary ini di perpustakaan  di tempat kamu duduk. Pada waktu itu hari Rabu sekitar pukul 11.00, di saat yang sama  aku juga  berada di Perpustakaan,  sebenarnya saat itu aku ingin mendekati kamu untuk mengajakmu berbicara tapi kamu terlihat sedang sibuk dan setelah ada panggilan telepon, kamu bergegas pergi, nah mungkin saat itu diarymu terjatuh. Aku minta maaf  karena tanpa seizinmu aku lancang membaca beberapa tulisanmu.”

Annisa mencoba mengingat semuanya, apa yang dikatakan Jimmy benar setelah dia pergi ke perpustakaan terakhir,  diarynya tidak ada dari tasnya.  Marahnya  Annisa  mereda tapi malunya ga ketulungan, Nissa malu dengan Jimmy yang telah mengetahui rahasia hatinya.

 “Kamu ga usah malu mungkin inilah cara Allah untuk mempersatukan kita karena diantara kita tidak ada yang berani memulai, kalau kamu tau akulah yang sudah lama jatuh hati kepadamu, karena menurut aku, kamu tidak seperti gadis lain, kamu gadis terhormat di mataku sehingga aku harus berpikir ulang  untuk tidak gegabah mendekatimu.”

 Annisa menarik napas lega apalagi mendengar tuturan Jimmy yang terakhir kalau Jimmy sudah lama jatuh hati kepadanya. Perlahan Nissa mengangkat wajahnya yang dari tadi menunduk karena malu. Kemudian dia beranikan diri untuk menatap pemuda  istimewa yang mampu mengisi relung kalbunya.  Keduanya bertatapan dengan senyuman penuh arti.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here