DARI HOBI MENULIS DIARY HINGGA SUKA MENULIS
ARTIKEL

0
25
Spread the love

Eva Helviana Hafsah
Guru SMKN 1 Cikalongkulon

Anak yang lahir tahun 80-an dan tahun 90-an sudah pasti mengenal diary. Diary atau buku harian biasanya berisi tulisan pribadi berupa hal-hal yang kita sukai ataupun tidak disukai. Siapakah orang yang pertama kali menulis buku harian? Dilansir dari ranalino.id orang yang pertama menulis buku harian adalah Samuel Pepys (1633-1703). Ia adalah seorang administrator angkatan laut kerajaan Inggris. Buku hariannya disimpan di Magdalene College, Cambridge.

Fungsi dari buku harian adalah sebagai pengingat atau bisa juga sebagai tempat untuk curahan hati. Namun, ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar, fungsi dari buku harian itu berbeda. Pada tahu 1996 ketika saya masih duduk di kelas 6 SD, saya membeli sebuah diary kecil. Masih terbayang warna cover-nya perpaduan antara biru dan merah muda. Kertasnya bergaris berwarna merah muda. Hampir semua anak perempuan di kelas memiliki diary. Semua teman-teman atau sahabat akan saling meminjamkan buku hariannya kemudian menuliskan biodata mereka dengan lengkap di diary kita. Tidak lupa mereka juga menuliskan pesan dan kesan. Kadang jika salah satu teman kita kreatif, dia akan menggambar yang indah di diary kita. Ini adalah catatan untuk kenangan. Pada masa itu belum mengenal gadget hingga menulis di diary adalah satu-satunya cara untuk mengabadikan kenangan.

Pada suatu hari, salah satu tetangga saya yang bernama Lana meminjam diary. Lana adalah anak laki-laki kelas 2 SMP. Saya kemudian meminjamkannya. Dia berjanji akan mengembalikannya besok. Keesokan harinya, adiknya mengembalikan diary itu. Ketika saya buka dan baca, banyak sekali tulisannya hingga mencapai lima lembar. Saya kesal karena semua teman saya saja belum menuliskan biodatanya, khawatir mereka tidak kebagian menulis di buku itu. Ketika saya baca isinya selain biodata adalah sebuah puisi cinta dan juga ungkapan isi hati. Saya yang waktu itu belum mengerti atau menyukai teman lawan jenis merasa kesal, diary itu disobek dan dibuang kemudian saya membeli lagi buku baru.

Saya memiliki diary kedua ketika duduk di bangku SMP. Diary kedua saya berwarna pink bagian cover dan kertasnya. Kali ini saya lebih teliti. Saya meminjamkan diary hanya kepada teman-teman terdekat saja. Selain isinya tentang biodata teman, diary yang kedua berisi curhatan seperti masalah dengan teman, teman yang saya suka atau pelajaran yang tidak saya suka. Selain itu, jika saya memiliki masalah, saya akan menuliskannya di diary tersebut. Setelah saya menuliskan cerita, saya merasa lega. Ya, diary telah menjadi sahabat pada waktu itu.

Diary ketiga saya dibeli ketika saya duduk di bangku SMA. Buku ini memiliki cover dan kertasnya berwarna ungu. Kertas buku ini juga beraroma harum. Diary ketiga saya tidak ada lagi berisi biodata teman-teman sekelas. Isinya semua mengenai cerita saya atau curhatan hati. Ketika saya merasa sedih, saya tuliskan di diary dan ketika saya sedang bahagia pun saya menuliskannya. Semua motto hidup, mimpi-mimpi, uneg-uneg kepada orang lain, saya tuliskan di buku harian. Buku ini memiliki gembok kecil dan dikunci sehingga aman tidak bisa dibaca oleh orang lain karena buku harian itu bersifat pribadi dan rahasia. Kita tidak boleh membaca buku harian orang lain tanpa izin dari pemiliknya.

Itulah beberapa buku harian yang pernah saya miliki. Sayang sekali saya tidak tahu di mana diary kedua dan ketiga saya itu. Andaikan masih ada alangkah sangat berharganya tulisan-tulisan itu. Mungkin karena hobi menulis di diary, saya suka menulis hingga sekarang. Sekarang sudah berbeda, saya menulis memakai laptop atau smartphone dan tidak lagi menulis di diary lagi. Ketika saya sedang merasa sedih obat yang paling manjur adalah menulis. Saya tuliskan semua kesedihan dan kemarahan sehingga semua masalahku merasa tersalurkan. Beban yang dirasakan juga terasa lebih berkurang begitu pun ketika saya sedang bahagia saya akan menuliskannya. Kebahagiaan atau momen-momen indah yang pernah dialami kemudian dituliskan dan akan menjadi sebuah kenangan untuk kita. Kadang saya suka membuka kembali tulisan-tulisan yang pernah dibuat. Saya suka tersenyum sendiri dan merasa geli sendiri ternyata saya pernah menuliskan hal itu. Kisah teman-teman, sahabat, dan juga keluarga jika ada hal yang menarik saya tuliskan dan disimpan untuk dijadikan kenangan. Mungkin juga suatu saat nanti akan diperlihatkan kepada anak-anak saya bahwa ibunya mempunyai hobi menulis dan mereka akan tergerak hatinya untuk mengikuti. Saya bukanlah penulis handal seperti penulis-penulis yang terkenal itu. Saya hanya mempunyai hobi menulis apa yang saya suka.

Hobiku ini bertambah selain menulis hal-hal pribadi, saya juga sekarang suka menulis artikel atau cerpen. Tulisan-tulisan tersebut bukan hanya untuk pribadi saja, tapi dipublikasikan karena dimuat di media berita online. Menulis artikel berbeda dengan menulis curahan hati atau fiksi karena kita juga harus membudayakan kebiasaan membaca untuk mendukung isi artikel tersebut. Artikel yang pernah dibuat sebagian besar adalah artikel populer. Berbeda dengan membuat artikel, membuat karya fiksi seperti cerpen atau puisi kita harus memiliki daya imajinasi yang tinggi. Inspirasi ceritanya biasanya berdasarkan apa yang dibaca, ditonton dan dialami oleh diri sendiri atau orang lain. Begitulah latar belakang hobi menulis saya. Yang paling utama dalam menulis bukanlah keahlian tapi kemauan. Marilah menulis luapkan semua yang ingin kamu ceritakan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here