CIRATA KU SAYANG CIRATA KU MALANG

0
205
Spread the love

Oleh Yola Nurkamil
(Guru SMK PPN Cianjur)

Cirata dibangun pada tahun 1980 dan diresmikan pada tahun 1987 oleh Presiden Sukarno. Cirata merupakan salah satu pemanfaatan potensi tenaga air di Sungani Citarum. Luas waduk Cirata 62km2 yang meliputi 3 kabupaten yaitu Cianjur, Purwakarta dan Bandung Barat. Genangan air terluas terdapat di Cianjur. PLTA Cirata merupakan PLTA terbesar di Indonesia dengan kapasitas power house bawah tanah 8×126 Megawatt (MW) dan produksi listrik rat-rat 1.428 Giga Watthour (Gwh) pertahun. Dengan kapasitas listrik yang besar tersebut diharapkan dapat menerangi Jawa Madura dan Bali.

Fungsi sampingan  Cirata adalah PLTA ada fungsi lain yang tidak kalah penting yaitu sebagai tempat wisata sehingga pada hari libur wilayah – wilayah tertentu sering dipadati oleh pengunjung.  Hal tersebut menimbulkan mata pencaharian baru untuk warga sekitar yaitu berjualan makanan dan jasa sewa perahu untuk wisatawan yang ingin menikamati pemandangan di tengah waduk. Fungsi sampingan lainnya yaitu sebagai wadah budidaya ikan. Awal mula budidaya ikan di Cirata di sosialisasikan oleh pemerintah dengan tujuan membuka peluang usaha bagi warga yang kehilangan mata pencaharian akibat dari dibangunnya waduk Cirata.

Wadah budidaya yang digunakan adalah Karamba Jaring Apung (KJA). Pemerintah membuat program khusus untuk mensosialiasikan program budidaya KJA ini pada warga sekitar. Bahkan wadah dan ikan pun diawal merupakan bantuan dari pemerintah untuk menarik minat warga melakukan kegiatan budidaya ikan. Perkembangan budidaya ikan d Cirata begitu pesat bahkan sangat pesat, investor mulai berdatangan dan menanamkan modal untuk budidaya ikan di KJA. Milyaran uang beredar di Cirata, pabrik pakan dan sarana produksi lainnya mendekat kesana. Pundi-pundi uang mengair dari usaha budidaya ikan di Cirata,. Cirata menjadi salah satu titik sentral budidaya ikan air tawar di Jawa barat bahkan di Indonesia.

Sayangnya budidaya ikan di Cirata dilakukan tanpa memperhatikan kaidah pelestarian lingkungan. Pakan diberikan secara intensif dengan harapan ikan cepat besar dan cepat di panen. Padalah cara tersebut menimbulkan masalah yang cukup besar dikemudian hari. Pakan yang tidak termakan mengendap di dasar perairan dan membusuk di sana. Secara tidak sadar para pembudidaya sudah melakukan pencemaran di Cirata. Dari hari ke hari sisa pakan yang berada diperairan semakin bertumpuk (sedimentasi) menjadi momok yang mengancam dan menakutkan.

Puncak kejayaan budidaya ikan di Cirata mengalami penurunan karena banyak hal salah satunya karena budidaya yang overload menyebabkan sisa pakan menumpuk banyak di dasar. Pada saat musim hujan terjadi fenomena upwelling yang menyebabkan terjadinya kematian masal ikan di Cirata. Fenomena upwelling adalah terjadinya pembalikan massa air akibat perbedaan suhu air dipermukaan dengan di dasar perairan. Sehingga pada musim hujan saat air hujan yang suhu air nya rendah dangan massa yang lebih tinggi masuk ke perairan dan bergerak ke dasar, sementara air di dasar cirata yang hangat naik ke permukaan membawa sisa pakan di dasar yang mengandung amoniak yang tinggi, dan meracuni ikan yang ada di KJA.

Ikan yang berada di KJA tidak bisa menghindari racun yang masuk ke KJA sehingga mati masal. Kematian ikan masal bisa mencapai puluhan ton dalam 1 hari.  Usaha budidaya mengalami kerugian besar. Hal tersebut menyebabkan banyak pembudidaya yang mulai meninggalkan usahanya. Usaha yang tinggalkan tidak seta merta mengangkut unit KJA yag ada. KJA tetap dibiarkan begitu saja sehingga menjadi PR baru untuk pengelola waduk. Meskipun pengelola terbantu dalam hal mengurangi jumlah pembudidaya di Cirata.

Budidaya ikan di KJA efektif dilakukan sampai dengan 4 unit KJA, yang 1 unitnya terdiri dari 4 karamba. Saat kapasitas budidaya ditingkatkan terjadi penurunan efisiensi dalam hal pemberian pakan. Sehingga meskipun keuntungan meningkat, tetapi tidak semaksimal seperti 4 unit karamba sebelumnya. Karena gambaran keuntungan yang sangat tinggi, para investor tak segan menambah unit KJA tanpa memperhitungkan keefisienananya, hal tersebut menjadi salah satu penyebab kegagalan budidaya di KJA. Oleh karenanya muncul ide budidaya ikan berkelanjutan dengan tujuan kegiatan budidaya yang dilakukan tidak merusak lingkungan alam dan bisa terus dilaksanakan sampai anak cucu nanti.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here