CINTA PERTAMA

0
58
Spread the love

Oleh Olis Aisah, S.Pd.
Pengajar SMKN 1 Cikalongkulon

Laki-laki yang kupanggil bapak itu selalu membuat hatiku tentram, setiap ada masalah aku sering bercerita dan minta bantuan kepada bapak. Menurutku bapak sangat pandai memberikan solusi dari masalah yang kualami. Bapak lelaki sempurna yang sangat paham kondisi kejiwaanku, sehingga menurutku  bapaklah yang   pantas untuk dicintai. Bapak begitu berpengaruh dalam hidupku, sampai-sampai aku pernah bertanya pada diriku sendiri “Masih bisa hidupkah aku, kalau bapak sampai meninggalkan aku?”

Cintaku pada bapak tak pernah lekang dimakan waktu. Karena begitu cintanya pada bapak, maka bapak menjadi tolak ukur aku untuk memilih laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupku. Aku selalu melihat bagaimana cintanya  dan perlakuan bapak sama ibu dan cinta bapak pada aku dan adik-adikku.  Mungkin karena itulah   aku sering bandingkan laki-laki yang mendekatiku dengan  sosok bapak yang menurutku adalah lelaki ideal yang pantas untuk dijadikan suami. Tidak adil memang,  kalau aku bandingkan lelaki muda yang mendekatiku dengan bapak yang jelas-jelas telah banyak mengecap asam garam kehidupan.

Bapak selalu memberi petuah bernada halus kalau anak perempuannya ini,  salah dalam bersikap. Bapak pokoknya segalanya bagiku.   mungkin yang sedang terjadi padaku  yang selama ini sering dikatakan orang,  kalau cinta pertama seorang anak gadis ada bapaknya  sendiri.

Kini aku  adalah gadis dewasa, bukan  gadis remaja yang segalanya harus  bergantung pada orang tua terutama bapak. Aku harus mulai menentukan  langkah untuk hidupku ke depan sehingga pada  suatu saat ketika bapak dipanggil yang Kuasa aku tidak terlalu  goyah karena kehilangannya. Atas izin bapak juga aku menerima tawaran teman untuk bekerja di sebuah instansi pemerintah. Tak butuh waktu lama,  aku sudah akrab dengan beberapa orang pegawai baik laki-laki maupun perempuan di  tempat kerjaku.

Aku bekerja satu ruangan dengan Asna  wong Jowo nan ayu. Asna  berasal dari Jogjakarta. Aku dan Asna menemukan banyak kecocokan. Mulai dari cara kerja, cara  berpakaian dan banyak lagi hal lainnya.

Di tempat kami bekerja,  aku dan Asna  mengenal beberapa pegawai dari bidang  yang berbeda.  Dalam acara  yang digelar perusahaan kami sering bertemu dengan Bima  yang berperawakan tinggi, dan kulit putih. Bima memiliki keistimewaan yaitu tutur bahasanya sangat halus dan ini  bikin  banyak gadis klepek-klepek termasuk juga aku.

Pada suatu sore aku chat Asna untuk bertemu, aku ingin bercerita kepada Asna perihal perasaanku terhadap Bima. Singkat cerita aku bertemu dengan Asna di cape yang kujanjikan. Saat aku kutemui,  kulihat raut wajah Asna berseri dengan sorot sangat bahagia. Rasa kepoku membuat aku sepontan bertanya, ”  Ada Apa As … wajahmu terlihat sangat bahagia?”

Belum selesai aku berbicara tiba-tiba Asna memelukku erat.

” Betul Indah, hari ini aku bahagia banget, baru saja Kak Bima nembak aku, dia mengajak berhubungan serius dengan aku.”

Bagai disambar petir, aku mendengar ucapan Asna tapi aku   berusaha untuk kuat walaupun kakiku terasa lemas. Aku tidak mau Asna tahu perasaanku yang sebenarnya kalau  aku menemui dia untuk curhat tentang perasanku kepada Bima. Aku pikir,  kalau aku dan Asna hanya memiliki kecocokan dalam pekerjaan dan cara berpakaian, …eh ternyata untuk urusan  lawan jenis, ternyata aku dan Asna juga punya perasaan yang sama yaitu sama-sama kepincut lelaki yang sama.

 Aku berusaha untuk kuat dan menerima kenyataan kalau Bima lebih memilih Asna dibanding aku.

Jumat sore aku pulang ke rumah orang tuaku,  aku malas harus menyaksikan Asna yang dijemput Bima di di hari Sabtu. Sampai di rumah,  ibu menyambut kedatanganku, begitu juga dengan dua adikku.

” Bapak kemana Bu?”aku tak sabar ingin bertemu Bapak.

” Bapak lagi ke Bandung Dah, tapi hari ini juga pulang.” Sepertinya ibu tahu kalau aku sudah tak sabar ingin bertemu bapak.  Terus terang ada rasa kecewa begitu aku tahu kalau  bapak tidak ada di rumah padahal aku sudah membawa segudang cerita untuk aku curhatkan kepada bapak. Sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah kejuruan, bapak sangat pandai memahami murid-muridnya yang mayoritas perempuan dan di rumah aku anak perempuan satu-satunya banyak kecocokan dengan bapak dan kalau aku ada masalah pasti aku cerita sama bapak.

Setelah ngobrol dengan ibu dan adikku, aku masuk kamar untuk beristirahat. Terasa lama waktu yang kulewati karena harus menunggu. Menjelang magrib bapak datang, seperti biasa bapak akan menyelesaikan solatnya dulu sebelum kami semua berkumpul di ruang makan.

Aku keluar dari kamar dengan sedikit gontai dan tak bersemangat. Di saat yang sama, bapak yang sudah duduk di kursi makan melihat ke arahku. “Kenapa anak gadisku ini, kok loyo?”bapak seperti sudah tau perasaanku. Aku mencium tangan bapak dan duduk di sampingnya.

Setelah ibu dan kedua adikku duduk bapak memimpin doa kemudian kami mulai makan. Tak seorang pun yang bersuara ketika kami makan, hanya denting  suara piring dan sendok yang beradu  saja  yang kami dengar. Kami semua patuh aturan bapak, kalau kami semua tidak boleh makan sambil ngobrol.

Selesai makan bapak menuntun tanganku dan mengajak aku berbicara dari hati kehati di ruang tengah. Refan dan Rihan dua adikku ikut nimbrung di ruang tengah.

” Dua jagoaan Bapak belajar dulu, kerjakan dulu PR-nya nanti Bapak periksa.”bapak menyuruh kedua adikku.

 ” Rifan kan ingin main sama Embak.” Rifan menatap ke arahku.

“Besok kan hari Minggu, Mbak ajak kalian jalan-jalan deh.”

” Asyik, bener ya Embak.”kedua adikku bersorak kegirangan.

” Embak janji.”ucapku seraya mengangkat jempolku. Kulihat kedua adikku melakukan hal yang sama kemudian mereka pergi ke kamarnya.

Setelah dua adikku yang baru kelas 3 SD itu pergi aku menceritakan semua perasaanku kepada bapak, terlihat bapak manggut-manggut. Setelah itu tersenyum menatapku.

” Kok Bapak malah tersenyum, senang ya aku sedih.”aku cemberut tak terima dengan sikap bapak.

” Jangan salah paham, pertama Bapak senang karena anak gadis Bapak selalu mau berbagi cerita, itu tandanya kamu percaya sama Bapak. Kedua Bapak senang karena anak gadis Bapak sudah dewasa dan sudah mulai jatuh cinta. Untuk yang ketiga kamu sedih,  Bapak jelas tidak senang. Tapi kamu jangan bersedih, dan  ingat setiap orang Allah sudah pasangkan dengan jodohnya. Yakinlah menurut Allah Bima bukan lelaki terbaik untuk kamu. Bapak sangat yakin suatu hari nanti akan ada pangeran  datang kepada Bapak untuk meminta kamu jadi permaisurinya.” .

Mendengar perkataan Bapak, aku merasa lega dan dadaku tak sesak lagi, semangatku berangsur pulih. Tak lama Ibu bergabung dengan aku dan bapak. Ibu duduk di sampingku tangannya mengelus-elus rambutku yang panjang.

” Sepertinya kita, tak lama lagi akan menerima kunjungan anak perjaka, ya Pak.”ibu memulai pembicaraan.

Kulihat bapak tersenyum lebar, “Siap-siap saja, Ibu sebentar lagi punya calon mantu.”

Setelah perasaanku mulai tenang.  Aku, ibu dan bapak mengobrol banyak hal termasuk perihal pekerjaanku.

Seperti yang sudah aku janjikan kepada kedua adikku,  pukul 09 pagi aku sudah siap membonceng dua adikku. Mereka sangat senang aku ajak jalan. Tujuan pertama, mengajak mereka makan fried chicken favorit mereka. Sibungsu Rehan sangat sibuk memilih ice cream untuk makanan penutup. ” Embak, ice creamnya boleh dua ya?”teriaknya.

” Boleh, tapi satu dihabiskan dulu baru ambil lagi.”

” Iya, Dek nanti ga habis kan sayang, ya Embak.”ucap Rifan so dewasa.

Senang rasanya menyaksikan mereka makan dengan lahap. Aku hanya hanya minum air mineral karena sudah sarapan bubur. Saat aku menemani dua adikku makan,  sebuah chat masuk dari orang tak dikenal, “Kamu Indah, bukan?” Aku tak mau membalas chat tersebut karena aku pikir itu chat dari orang iseng. Setelah aku baca chat  tersebut, chat dengan pertanyaan yang sama masuk berturut-turut di hpku.  Kesal juga karena dichat terus-terusan, akhirnya aku balas juga, “Iya aku Indah, Anda siapa?”

” Ih, sombong  banget jawabnya.”sebuah suara datang tak jauh dari tempat dudukku.

Aku penasaran untuk melihat sosok siempunya suara. “Ya Allah, Kak Fauzi ya?”aku nyaris tak percaya kakak tingkatku waktu kuliah ada di hadapanku.

“Iya aku Fauzi, yang sering kamu panggil Kak Fauzi.” Fauzi menirukan ucapanku.

“Kok, Kak Fauzi tahu no aku, ini kan bukan nomorku yang dulu.”

“Ah gampang, aku hubungi Tina pasti punya nomor kamu.”

“Oh, gitu toh.”

“Embak, mau ice creamnya lagi.” Refan dan Rihan berbarengan.

“Iya boleh.” Aku memberi isyarat pada pelayan untuk membawa dua ice cream untuk adikku. 

Aku jadi ingat ketika kuliah dulu, aku dan Tina sering ditraktir makan oleh Fauzi. Aku dan Tina pernah berolok-olok kalau Fauzi naksir salah satu diantara kami berdua tapi sampai Fauzi lulus tidak pernah ada ucapan Fauzi yang meminta salah satu antara aku dan Tina untuk menjalin hubungan serius.  Sampai akhirnya aku maupun Tina lose kontak dengan Fauzi.

” Lagi mengingat masa lalu ya?”tiba-tiba Fauzi sudah berdiri lagi dekatku.

Aku cuma membalasnya dengan senyuman.

” Eh, ngomong-ngomong kamu setelah ini mau pulang atau mau kemana?”

” Aku mau antar adikku berenang, kenapa gitu Kak?”

” Aku ikut ya, kebetulan aku juga pengen berenang, kalau kamu pakai motor, motor kamu simpan di sini nanti aku titipkan sama satpam. Kita berangkat bareng naik mobil.”

Di kolam renang Rifan dan Rehan sudah berganti baju, begitu pula dengan Fauzi tapi Indah masih tetap dengan pakaian asalnya. ” Loh, kok kamu belum ganti?”ucap Fauzi

” Dari awal aku ga berenang makanya ga bawa baju ganti. Sudah,silakan nyebur titip dua adikku,  ya?”

” Siap, aku pasti jaga calon adik ipar ku.”ucap Fauzi sambil memainakan alisnya kepada Indah. Indah yang digoda hanya tersenyum simpul sedang dalam hatinya dia memuji postur tubuh Fauzi yang atletis. Indah duduk di sebuah kursi yang ada di tepi kolam, di hadapannya  bertumpuk baju dan barang milik Fauzi dan adiknya.  Indah melihat dua adiknya yang sudah tidak malu-malu  dengan Fauzi. Fauzi sangat pandai mengambil hati dua bocah itu sehingga ketiganya terlihat akrab. Indah sangat senang melihat pemandangan  tersebut dan dia berharap suatu hari nanti dia bisa memberikan Kaka ipar yang baik untuk dua adiknya yang masih kecil.

Mungkin karena sudah memasuki musim penghujan, tiba-tiba hujan turun lebat sekali.  Fauzi dengan adik Indah segera naik dan mandi untuk membersihkan badannya. Di tepi kolam Fauzi menuntun Refan dan Rehan, mereka berjalan menuju Indah untuk membawa baju ganti.  ” Dek, mandi sendiri atau Embak mandikan?”ucap Indah.

” Mandi sendiri Embak, di rumah juga aku  sudah mandi sendiri.”ucap keduanya kompak kemudian berlalu dari hadapan Indah.

 ” Kok, aku ga ditanya?”ucap Fauzi

 ” Ditanya apa?”Indah tidak ngerti maksud Fauzi.

 ” Kak, mau dimandiin ga?” Fauzi menggoda Indah.

 ” Ih, Kakak ngaco deh, sana mandi dulu dingin” ucap Indah, dia tidak mau Fauzi melihat wajahnya yang  merah menahan malu. 

Selesai berganti pakaian mereka makan bakso. Rehan dan Rifan tidak ada suaranya karena mereka sedang asyik menyantap baksonya. Fauzi dan Indah yang sudah akrab dari sejak kuliah,  terlihat sedang asyik mengobrol, sesekali Fauzi  juga bercanda kemudian mereka tertawa berdua.

” Hujan belum juga reda Sekarang bagaimana kalau kamu , kakak antar ke rumah,  motor diantar Didin ke rumah kamu , kirimkan saja  alamatnya.”

” Aduh kok jadi ngerepotin Kakak “

” Ga apa-apa, mumpung Kakak lagi mau direpotin.” Lagi-lagi Fauzi menggoda Indah.

Sebuah mobil Avanza silver berhenti di depan sebuah rumah  sederhana namun  asri.  Pak Yadi yang sedang duduk di ruang tamu melihat siapa yang datang.  Belum sampai kakinya melewati pintu sikembar Rifan dan Rehan turun dari mobil diikuti Indah dan seorang laki-laki tampan. “Oh, berarti bukan sopir Grab, siapa dia ya?”bisik Pak Yadi.

bersambung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here